Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim sebagai Keniscayaan

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Ketika cuaca ekstrem semakin sering terjadi—kekeringan panjang yang mematikan tanaman, hujan ekstrem yang merusak lahan, banjir yang datang di luar musim, dan lonjakan suhu yang menekan produktivitas—sistem pertanian yang dirancang untuk iklim “normal” semakin kehilangan relevansinya.

Dunia, termasuk Indonesia, kini berada pada fase di mana perubahan iklim bukan ancaman masa depan, melainkan realitas harian yang langsung memengaruhi pangan, pendapatan petani, dan stabilitas sosial.

Selama bertahun-tahun, perbincangan tentang perubahan iklim di sektor pertanian lebih banyak berfokus pada mitigasi: menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengurangi jejak karbon. Upaya-upaya tersebut penting dan tidak dapat ditinggalkan.

Namun, di tengah laju perubahan iklim yang telah terlanjur terjadi, mitigasi saja tidak cukup. Adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim harus ditempatkan sebagai strategi utama—bukan sekadar pelengkap—dalam kebijakan pangan, inovasi teknologi, dan praktik budidaya di lapangan.

Masalahnya, adaptasi sering dipahami secara sempit, seolah hanya berarti mengganti varietas tanaman atau menyesuaikan waktu tanam. Padahal, adaptasi yang sesungguhnya menuntut perubahan yang jauh lebih mendasar: perubahan cara berpikir, cara merancang sistem produksi, dan cara memandang hubungan antara manusia, teknologi, dan lingkungan.

Ada satu hal yang paling dirasakan petani dalam satu dekade terakhir, tetapi sering luput dari perbincangan kebijakan: musim tidak lagi “patuh” pada kalender.

Hujan yang dulu datang teratur kini sering meleset. Kemarau yang seharusnya singkat justru memanjang. Suhu melonjak pada fase kritis pertumbuhan tanaman.

Dalam kondisi seperti ini, bertani bukan lagi soal mengikuti pola lama, melainkan bertahan di tengah ketidakpastian.

Perubahan iklim bukan hadir sebagai peristiwa tunggal yang dramatis, melainkan sebagai akumulasi gangguan kecil yang terus berulang. Bagi sektor pertanian, gangguan ini berdampak langsung pada produktivitas, biaya produksi, dan risiko gagal panen.

Karena itu, perdebatan tentang masa depan pangan tidak bisa lagi berhenti pada bagaimana meningkatkan hasil, tetapi harus bergeser pada bagaimana sistem pertanian mampu bertahan dan beradaptasi. Di sinilah adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim menjadi isu sentral yang tak terelakkan.

Adaptasi Bukan Menyerah, melainkan Cara Bertahan yang Rasional

Masih ada pandangan bahwa berbicara tentang adaptasi berarti mengakui kekalahan dalam menghadapi perubahan iklim. Seolah fokus pada adaptasi adalah bentuk pesimisme, sementara mitigasi dipandang sebagai sikap heroik. Cara berpikir seperti ini justru menyesatkan jika diterapkan pada sektor pangan.

Dalam kenyataannya, mitigasi dan adaptasi bukan dua pilihan yang saling meniadakan. Mitigasi tetap penting untuk menekan laju perubahan iklim.

Namun, ketika dampak perubahan iklim sudah nyata di lapangan, adaptasi menjadi langkah rasional agar sistem produksi pangan tidak runtuh. Mengabaikan adaptasi sama saja dengan memaksa pertanian bekerja dalam kondisi yang tidak lagi sesuai dengan desain awalnya.

Sejarah menunjukkan bahwa pertanian selalu berkembang melalui proses penyesuaian. Dari perubahan pola tanam, pengelolaan air, hingga pemilihan jenis tanaman, adaptasi adalah kunci keberlanjutan.

Dalam konteks hari ini, adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim adalah kelanjutan logis dari proses panjang tersebut, hanya dengan tantangan yang jauh lebih kompleks dan cepat.

Ketika Sistem Lama Bertemu Realitas Baru

Banyak sistem pertanian yang kita gunakan saat ini dirancang dalam asumsi iklim yang relatif stabil. Ketersediaan air dianggap cukup, musim tanam dapat diprediksi, dan gangguan cuaca bersifat sporadis. Asumsi-asumsi ini perlahan runtuh.

Kekeringan berkepanjangan membuat sistem irigasi konvensional kehilangan efektivitas. Hujan ekstrem memicu banjir dan erosi lahan. Perubahan suhu menggeser dinamika hama dan penyakit tanaman. Dalam situasi seperti ini, sistem yang sangat bergantung pada input eksternal—air, energi, pupuk—menjadi semakin rentan.

Masalahnya bukan pada satu teknologi tertentu, melainkan pada desain sistem secara keseluruhan. Mengganti varietas atau menambah input mungkin memberikan solusi jangka pendek, tetapi tidak menjawab persoalan mendasar.

Adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim menuntut perubahan cara kita memandang pertanian: dari mesin produksi yang dioptimalkan untuk kondisi ideal menjadi sistem adaptif yang dirancang untuk ketidakpastian.

Mengubah Sistem, bukan Sekadar Menambal Teknologi

Adaptasi sering kali disederhanakan menjadi tindakan teknis: varietas tahan kekeringan, penyesuaian kalender tanam, atau penggunaan alat tertentu. Semua ini penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri.

Yang lebih krusial adalah bagaimana sistem produksi dirancang. Sistem adaptif memiliki beberapa ciri utama: efisiensi penggunaan sumber daya, fleksibilitas operasional, dan kemampuan bertahan ketika satu komponen terganggu.

Sistem seperti ini tidak bergantung pada satu titik kegagalan, tetapi memiliki mekanisme penyangga yang memungkinkan produksi tetap berjalan meski dalam kondisi tidak ideal.

Dalam kerangka inilah adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim harus dipahami sebagai proses desain ulang sistem. Air, tanah, tanaman, energi, dan manusia diperlakukan sebagai bagian dari satu kesatuan. Ketika satu komponen berubah, komponen lain dapat menyesuaikan diri tanpa menyebabkan kegagalan total.

Produktivitas Tinggi dan Ilusi Ketahanan

Selama ini, keberhasilan pertanian sering diukur dari angka produksi. Semakin tinggi hasil per hektar, semakin dianggap berhasil. Namun, dalam konteks iklim yang semakin tidak menentu, ukuran ini menjadi semakin problematis.

Sistem yang sangat produktif dalam kondisi ideal sering kali bekerja di batas ekologisnya. Begitu terjadi gangguan—perubahan pola hujan, lonjakan suhu, atau keterbatasan air—sistem tersebut mudah kolaps. Sebaliknya, sistem yang mungkin tidak mencapai hasil maksimum justru mampu menghasilkan secara lebih stabil dari waktu ke waktu.

Di sinilah adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim menggeser paradigma keberhasilan. Ketahanan pangan bukan lagi diukur dari puncak produksi, melainkan dari konsistensi dan daya lenting sistem. Stabilitas menjadi lebih penting daripada rekor hasil.

Air sebagai Titik Kritis Adaptasi

Jika ada satu faktor yang paling menentukan dalam hampir semua skenario perubahan iklim, faktor itu adalah air. Kekeringan dan banjir adalah dua manifestasi dari siklus hidrologi yang semakin tidak stabil. Oleh karena itu, adaptasi di sektor pertanian hampir selalu bermuara pada bagaimana air dikelola.

Sistem irigasi yang boros dan kaku tidak lagi memadai. Adaptasi menuntut efisiensi, ketepatan, dan fleksibilitas dalam penggunaan air. Lebih dari sekadar menyediakan air, tantangannya adalah bagaimana mengelola air agar cukup, tepat waktu, dan tidak merusak lingkungan.

Pendekatan ini mengubah cara pandang dari mengejar pasokan air sebanyak mungkin menjadi memaksimalkan manfaat dari setiap unit air yang tersedia. Dalam konteks ini, adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim tidak hanya melindungi tanaman, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air itu sendiri.

Peran Petani: Dari Objek menjadi Aktor Adaptasi

Petani sering diposisikan sebagai kelompok yang paling terdampak perubahan iklim, tetapi jarang dipandang sebagai aktor utama adaptasi. Padahal, petani adalah pihak yang paling cepat merasakan perubahan cuaca dan paling sering harus mengambil keputusan dalam kondisi tidak pasti.

Adaptasi tidak akan berhasil jika hanya dirancang dari atas. Sistem adaptif harus dapat dipahami, dijalankan, dan dimodifikasi oleh petani sesuai dengan kondisi lokal. Teknologi yang terlalu kompleks dan mahal justru membatasi ruang adaptasi karena menyulitkan petani untuk bereksperimen dan menyesuaikan sistemnya.

Dalam kerangka adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim, penguatan kapasitas petani menjadi kunci. Pengetahuan, pendampingan, dan kebijakan yang memberi ruang fleksibilitas sering kali lebih menentukan daripada teknologi itu sendiri.

Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim sebagai Investasi, bukan Beban

Salah satu alasan adaptasi sering tertunda adalah persepsi bahwa adaptasi membutuhkan biaya tambahan. Padahal, jika dilihat dalam perspektif jangka panjang, adaptasi adalah bentuk investasi untuk menghindari kerugian yang jauh lebih besar.

Gagal panen berulang, degradasi lahan, konflik perebutan air, dan ketergantungan impor pangan adalah biaya sosial-ekonomi yang tidak kecil. Dibandingkan dengan itu, investasi dalam adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim justru lebih efisien dan berkelanjutan.

Selain itu, pendekatan adaptif membuka peluang inovasi yang lebih kontekstual. Sistem yang dirancang sesuai dengan kondisi lokal cenderung lebih inklusif, lebih ramah lingkungan, dan lebih adil bagi pelaku usaha tani kecil.

Dari “Normal Lama” ke Realitas Baru

Perubahan iklim menandai berakhirnya apa yang selama ini kita anggap sebagai normal dalam pertanian. Kalender tanam yang pasti, ketersediaan air yang stabil, dan cuaca yang dapat diprediksi bukan lagi fondasi yang dapat diandalkan.

Bertahan dengan cara lama dalam realitas baru justru menjadi risiko terbesar. Adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, mengevaluasi ulang desain sistem, dan menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari masa depan pertanian.

Adaptasi sebagai Fondasi Pertanian Masa Depan

Pada akhirnya, adaptasi bukanlah strategi sementara, melainkan fondasi baru bagi pertanian masa depan. Ketahanan pangan di era perubahan iklim tidak akan ditentukan oleh satu teknologi canggih atau satu kebijakan besar, tetapi ditentukan oleh kemampuan kita merancang sistem pertanian yang fleksibel, efisien, dan tangguh.

Perubahan iklim mungkin tidak dapat dihentikan dalam waktu dekat. Namun, cara kita meresponsnya akan menentukan apakah sistem pangan kita runtuh atau bertahan.

Dalam konteks inilah, adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim bukan sekadar respons teknis, melainkan juga pilihan strategis bagi keberlanjutan pangan dan kehidupan itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bangun Digitalisasi Layanan, Dirut PDAM Makassar Raih Penghargaan Pemimpin BUMD Inspiratif
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Hadapi PSIM, Tavares Fokus Adaptasi dan Stamina Pemain Persebaya
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bareskrim Polri Geledah Kantor Fintech DSI di SCBD
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
WEF26: Arab Saudi Menjadi ‘Ekonomi Penghubung’ Seiring Perkembangan Perdagangan Dunia
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
OJK Bicara Prospek Ekonomi RI 2026 di Tengah Dinamika Global: Domestik Stabil
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.