- Gubernur DKI Jakarta meninjau Rawa Buaya (24/1/2026), menyatakan Jakarta Barat terparah akibat kiriman air dari Tangerang dan hulu.
- Penanganan banjir melibatkan penambahan pompa menjadi tujuh unit dan melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi curah hujan.
- Pemprov DKI fokus pada solusi jangka menengah seperti normalisasi tiga sungai utama dan akan perbaiki jalan pasca 27 Januari.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan banjir yang melanda wilayah Jakarta Barat menjadi yang terparah dibandingkan kawasan lain akibat besarnya kiriman air dari wilayah hulu di luar Jakarta, terutama Tangerang dan Tangerang Selatan.
Hal itu disampaikan Pramono saat meninjau langsung lokasi pengungsian warga terdampak banjir di Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
“Jakarta Barat paling parah karena kiriman air dari hulunya. Kali ini bukan hanya dari Bogor, tetapi dari Tangerang, Tangerang Selatan, dari Sungai Angke, Pesanggrahan, Mookervart, dan lainnya yang bermuara ke Cengkareng Drain,” kata Pramono.
Ia menjelaskan, debit air di Cengkareng Drain sempat berada di level 350 sentimeter dan kini mulai turun menjadi 315 sentimeter.
Sementara batas aman berada di angka 310 sentimeter. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini terus mengejar penurunan tersebut agar genangan di permukiman warga segera surut.
Untuk mempercepat penanganan banjir, Pramono memerintahkan penambahan pompa air di lokasi pengungsian Rawa Buaya.
Saat ini, total terdapat tujuh pompa yang dioperasikan, setelah sebelumnya ditambah empat unit pompa baru.
“Warga meminta agar volume air segera dikurangi. Saya langsung perintahkan Dinas SDA menambah pompa, dan sekarang sudah tujuh pompa di lokasi ini,” ujarnya.
Selain upaya teknis di lapangan, Pemprov DKI juga memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan curah hujan ekstrem. Pramono mengakui kebijakan OMC menuai kritik, namun menurutnya langkah tersebut diperlukan dalam kondisi darurat.
Baca Juga: Update Banjir Jakarta hingga Jumat Malam: 114 RT Masih Terendam
“OMC saya perintahkan minimum dua, maksimum tiga kali. Kalau mau dikritik, kritik saya saja. Ini yang bisa kita lakukan sekarang untuk mengurangi hujan di Jakarta,” tegasnya.
Pramono menyebut curah hujan dalam beberapa hari terakhir tergolong sangat tinggi, bahkan mencapai 200 hingga 260 milimeter per hari. Kondisi ini dinilainya sebagai faktor utama banjir, bukan lagi disebabkan oleh sampah.
“Penyumbatan sampah sudah menurun signifikan. Ini murni karena curah hujan yang sangat tinggi pada 12, 18, dan 22 Januari,” jelasnya.
Di lokasi pengungsian Rawa Buaya, tercatat sebanyak 45 kepala keluarga atau 177 jiwa mengungsi.
Pemprov DKI telah menyalurkan bantuan berupa beras, minyak goreng, mi instan, kasur lipat, matras, selimut, family kit, perlengkapan anak, serta bantuan tambahan dari PMI DKI Jakarta.
Pramono memastikan kondisi para pengungsi relatif baik dan kebutuhan dasar, termasuk layanan kesehatan dan bantuan sosial, telah terpenuhi.


