FAJAR, MAKASSAR— Tim Rescue Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) dan KSR PMI Universitas Muslim Indonesia (UMI) secara resmi mengakhiri keterlibatan mereka dalam misi kemanusiaan jatuhnya pesawat ATR 42-500.
Keputusan ini diambil setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada hari keenam pencarian.
Sebanyak 10 personel MAPALA UMI dan KSR PMI UMI telah berada di lokasi sejak hari pertama laporan kecelakaan diterima.
Selama enam hari, tim ini bekerja di bawah koordinasi Basarnas, menghadapi tantangan geografis Puncak Bulusaraung yang dikenal memiliki kemiringan terjal dan vegetasi hutan yang rapat.
Ketua umum KSR PMI UMI Afriza Pratama Arap, mengungkapkan, meski cuaca di ketinggian kerap tidak menentu, tim tetap menjalankan prosedur evakuasi dengan disiplin tinggi.
Fokus utama tim tidak hanya pada kecepatan penemuan, tetapi juga pada standar keamanan personel dan penanganan korban yang dilakukan secara khidmat.
Keterlibatan tim rescue dari UMI dalam operasi ini menegaskan peran mahasiswa sebagai relawan yang memiliki kompetensi teknis di alam bebas.
“Tanpa publisitas yang berlebih, para personel ini menjalankan fungsi kemanusiaan mereka di titik-titik yang sulit dijangkau, membuktikan bahwa kesiapan fisik dan mental adalah kunci dalam operasi SAR di medan vertikal,” jelasnya.
Dengan ditemukannya korban terakhir, tugas tim di lapangan dinyatakan selesai. Puncak Bulusaraung menjadi lokasi dedikasi para mahasiswa ini dalam membantu sesama melalui keahlian yang mereka miliki.
Seluruh personel kini telah ditarik mundur dari titik pencarian dalam keadaan sehat. Misi ini menjadi pengingat bahwa dalam situasi darurat, kolaborasi antara institusi resmi dan relawan organisasi kemahasiswaan memiliki peran krusial dalam keberhasilan operasi kemanusiaan.(wis)



