AS Diam-diam Mencari Para Negosiator karena Berakhirnya Rezim Kuba Sudah di Depan Mata

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Berdasarkan pengungkapan media Amerika Serikat, Kuba kini berada di ambang kehancuran ekonomi setelah kehilangan dukungan dana dari Venezuela. Sementara itu, Amerika Serikat diam-diam sedang mencari tokoh internal Kuba yang dapat diajak bekerja sama, dengan tujuan mengakhiri rezim diktator komunis Kuba yang telah berkuasa selama tujuh dekade sebelum akhir tahun ini. Disebutkan juga bahwa lingkaran inti Presiden Trump memandang langkah ini sebagai tahap penentu dalam membentuk ulang keamanan nasional di kawasan Belahan Barat.

EtIndonesia. The Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, menyebutkan bahwa pemerintahan Trump menilai setelah Amerika Serikat menggulingkan rezim diktator Nicolás Maduro di Venezuela, Kuba kehilangan “donatur” terpentingnya. Akibatnya, ekonomi Kuba kini berada di tepi jurang kehancuran, dengan kekurangan kronis bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan, serta krisis energi yang semakin parah.

Pada saat rezim Kuba berada dalam kondisi paling rapuh inilah, Amerika Serikat mulai secara aktif mencari figur-figur di dalam Kuba yang mampu melihat situasi dengan jernih dan bersedia mencapai kesepakatan dengan AS untuk bernegosiasi. Targetnya adalah mengakhiri kekuasaan diktator komunis Kuba yang telah berlangsung selama 70 tahun sebelum akhir tahun ini.

Presiden Trump juga pernah menulis dalam pernyataannya bahwa, “Tidak akan ada lagi minyak atau dana yang mengalir ke Kuba, satu sen pun tidak! Saya sangat menyarankan mereka (Kuba) untuk segera mencapai kesepakatan, sebelum semuanya terlambat.”

Pemimpin komunis Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyatakan bahwa Kuba akan dengan tegas melawan ancaman Amerika Serikat.

Meski hingga kini Amerika Serikat belum memiliki rencana konkret untuk menggulingkan rezim diktator Kuba, dan model Venezuela mungkin sulit sepenuhnya diterapkan di Kuba, para pejabat tinggi AS menyatakan bahwa fakta penangkapan hidup-hidup Nicolás Maduro serta kompromi yang kemudian dilakukan oleh sekutu-sekutu internalnya sudah cukup menjadi contoh bagi Kuba.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa Kuba seharusnya dikelola secara efektif oleh pemerintahan yang demokratis, serta tidak boleh menyediakan layanan militer maupun intelijen bagi para pesaing Amerika Serikat.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, Presiden Trump dan lingkaran inti pendukungnya telah menjadikan penggulingan rezim komunis Kuba sebagai langkah kunci dalam strategi mereka untuk membentuk ulang keamanan nasional di kawasan Belahan Barat. Pengamat menilai, perubahan besar di Kuba mungkin tinggal menunggu waktu.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Fu Yu


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
5 Ciri Orang yang Benar-benar Baik Hati Menurut Ilmu Psikologi
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
DPRD Bali Segel Proyek di Lapangan Golf Premium, Diduga Jadi Penyebab Banjir
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
CEO BRI Ungkap Tantangan Pembiayaan Berkelanjutan di WEF 2026
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Indonesia Masters 2026: Kalahkan Sabar/Reza, Raymond/Joaqin Segel Tiket Final
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Golden Tulip Wedding Showcase 2026 Suguhkan Inspirasi Pernikahan Glamour di Pontianak
• 2 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.