Di Pohon Ini Hanya Ada Satu Buah, Namanya Kepercayaan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Persahabatan manusia modern itu sangat kokoh sekaligus rapuh. Dia adalah harta paling berharga di dunia, yang menuntut kita untuk merawatnya dengan sepenuh hati. Karena persahabatan tidak bisa dipindahtangankan, dia bagaikan sebuah buku edisi tunggal. Kita bisa memiliki persahabatan yang berbeda dengan orang yang berbeda, tetapi kita tidak akan pernah memiliki dua jenis persahabatan dengan orang yang sama.

Persahabatan adalah lorong yang semakin digali akan semakin dalam—tanpa jalan untuk kembali. Persahabatan yang membekas di hati, sama seperti kebencian, tak akan pernah terlupakan.

Di pohon bernama persahabatan itu, hanya tumbuh satu buah, yaitu kepercayaan. Apel merah hanya layak dinikmati oleh orang yang menyirami pohon itu. Orang lain yang sekadar memetik dan mencicipinya, besar kemungkinan justru akan ngilu oleh rasa asamnya.

Persahabatan tidak bisa diwariskan, tidak bisa dialihkan, tidak bisa disegel lalu disimpan agar tak membusuk, dan tidak bisa dibekukan agar tetap segar selamanya. Persahabatan membutuhkan nutrisi. Ada yang menyuburkannya dengan uang, ada yang dengan keringat, dan ada pula yang dengan darah.

Persahabatan itu rakus—dia tidak akan puas hanya dengan bertahan dari angin dan embun. Dia adalah sesuatu yang paling sederhana sekaligus paling mewah, dan hanya bisa dipelihara dengan waktu.

Persahabatan harus diungkapkan, harus didengarkan, harus hadir dalam percakapan dengan tatapan mata yang saling bertemu, dan dalam momen mendengarkan dengan perhatian penuh. Namun persahabatan juga bisa sangat rapuh—satu kata yang terucap tanpa pikir panjang dapat meruntuhkan segalanya dalam sekejap.

Terkadang, persahabatan begitu mudah berubah rasa. Satu rumor yang belum terbukti saja sudah cukup membuat satu baskom susu menjadi asam. Dunia terus berubah dari hari ke hari. Di zaman ketika hampir semua hal dianggap semakin modern semakin baik, hanya satu yang tetap berpegang pada hukum lama: persahabatan. Sahabat itu seperti benda pusaka—semakin tua, semakin berharga.

Hadiah ada dua macam: yang praktis, dan yang simbolis.

Aku lebih suka memberi hadiah yang praktis. Bukan hanya karena hadiah itu bisa langsung bermanfaat bagi sahabatku, tetapi juga karena pertimbangan pribadiku sendiri.

Hari ini kita mungkin sahabat, tetapi sepuluh tahun lagi belum tentu. Sekalipun kamu setia sepenuh hati, bisa jadi orang lain sudah lama melupakannya. Hadiah yang cepat usang justru lebih jujur: dia menyampaikan niat baikku saat ini, sekaligus memberi nilai—entah bisa mengenyangkan, menyenangkan mata, mengundang tawa, atau menghadirkan momen untuk direnungkan. Meski hanya sekali pakai, ia tetap meninggalkan kenangan yang indah, dan itu sudah cukup bagiku.

Sebaliknya, hadiah yang bermakna simbolis dan jangka panjang—jika kelak persahabatan itu tak lagi dihargai—hanya akan menjadi beban. Dibuang atau dihancurkan, sama-sama menyedihkan bagi benda itu, dan hatiku pun akan ikut bergetar dari kejauhan.

Namun, untuk diri sendiri, hadiah yang simbolis justru lebih baik. Misalnya sebutir batu kecil atau sehelai daun—di mata orang lain itu biasa saja, tetapi maknanya hanya kita sendiri yang tahu.

Buku telepon adalah kotak sihir tempat menyimpan sahabat. Ketika aku menghadapi kesulitan, dari sanalah aku mengirimkan sinyal minta tolong. Rasa takut akan kesepian, seperti serangga yang berhibernasi, bersembunyi di sudut terdalam jiwa manusia. Dalam satu kehidupan, yang hilang adalah waktu, yang kita peroleh adalah sahabat.

Meski kadang aku berhari-hari tidak menghubungi siapa pun, aku tahu diriku tetap melekat kuat dalam jejaring persahabatan itu. Kepentingan pribadi adalah musuh terbesar persahabatan. Aku tidak percaya pada kepentingan yang abadi; yang lebih aku hargai adalah persahabatan yang teruji dalam kesulitan.

Yang dikenang sejarah bukanlah kepentingan yang dihitung dengan cermat, melainkan ketulusan hati dan kesetiaan yang terbuka. Bergaul dengan sahabat secara jujur menjaga kepekaan kita terhadap ketulusan, menyibakkan kabut di mata kita, dan membuat batin kembali lapang serta terang. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Simak! Ini Pengalihan Rute Transjakarta Imbas Genangan di Sabtu Pagi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Dedi Mulyadi Ikut Cari Korban yang Tertimbun Longsor di Cisarua KBB, 3 Jenazah Ditemukan
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Pemain Baru Persib Lyvin Kurzawa Tiba di Bandung, Siap Debut di Super League!
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Bank of Japan Tahan Suku Bunga di 0,75 Persen Jelang Pemilu
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Evakuasi Tuntas, 11 Paket Body Pack Ditemukan Berisi 10 Korban Pesawat Jatuh
• 10 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.