JAKARTA, KOMPAS.com — Penurunan muka tanah masih menjadi persoalan serius yang membayangi Jakarta, dengan laju amblesan yang terus terjadi dari tahun ke tahun dan berdampak langsung pada lingkungan kota.
Di tengah kondisi itu, langkah PAM Jaya yang tidak mengeksploitasi air tanah dinilai sebagai bagian penting dari upaya menahan laju amblesnya permukaan tanah ibu kota.
“Tidak mengeksploitasi air tanah berarti ikut mencegah penurunan muka tanah dan kerusakan ekosistem,” ujar Ketua Koalisi Pemerhati Jakarta Baru, Sugiyanto, Sabtu (24/1/2026) dikutip dari Antara.
Keputusan PAM Jaya mengandalkan Waduk Jatiluhur dan air permukaan dari 13 sungai, tanpa melakukan pengeboran air tanah, menunjukkan keberpihakan terhadap lingkungan.
Baca juga: Data BKAT Ungkap Jakarta Terus Ambles, Penurunan Tanah Capai 5,7 Cm per Tahun
Kebijakan itu disebut relevan dengan kondisi Jakarta yang selama ini menghadapi penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah berlebihan.
“Ini adalah bukti bahwa PAM Jaya tidak hanya berpikir soal pelayanan hari ini, tetapi juga tentang masa depan lingkungan Jakarta,” kata Sugiyanto di Jakarta, Sabtu.
Selain itu, pendekatan green mindset yang diusung Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menjadi langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan layanan air bersih.
Kombinasi penguatan infrastruktur dan transformasi digital dinilai menempatkan PAM Jaya pada jalur yang tepat.
Waduk Jatiluhur sebagai sumber utama air baku membuat PAM Jaya juga memiliki tanggung xjawab menjaga kelestarian kawasan hulu, termasuk daerah aliran sungai yang terhubung dengan Waduk Cirata dan Saguling.
“Waduk Jatiluhur adalah sumber utama air baku PAM Jaya. Maka sudah logis jika PAM Jaya juga harus peduli terhadap kelestarian kawasan hulu, termasuk daerah aliran sungai yang terhubung dengan Waduk Cirata dan Saguling,” kata dia.
Baca juga: Pemprov DKI Sebut Tanah Jakarta Terus Turun 5–10 Cm Per Tahun
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menilai salah satu penyebab utama penurunan tanah Jakarta adalah pengambilan air tanah dalam secara berlebihan.
“Berdasarkan pengukuran BKAT, penyebab utama penurunan muka tanah adalah pengambilan air tanah dalam, bukan air tanah permukaan. Air tanah dalam dipompa hingga kedalaman lebih dari 100 meter dan inilah faktor yang mempercepat penurunan tanah,” jelas Peneliti Ahli Madya BRIN, Dr. Yus Budiyono, Selasa (6/1/2026).
Menurut Dr. Yus, laju penurunan muka tanah di Jakarta bervariasi. Rata-rata di seluruh Jakarta bagian utara adalah 3,5 cm per tahun.
Titik-titik terparah penurunan tanah di Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, mencapai 28 cm per tahun. Secara umum, penurunan tanah berlangsung linear sejak beberapa dekade terakhir, mirip dengan kota besar lain di dunia seperti Tokyo dan Bangkok.
Eksploitasi air tanah dan dampaknya




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482443/original/014192500_1769215141-1000017452.jpg)
