Sehat bukan sekadar bebas dari penyakit, melainkan hasil dari pemahaman yang baik. Inilah yang mendasari langkah Indonesia Health Development Center (IHDC) dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Bagi mereka, pendidikan dan promosi kesehatan adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga berdaya secara informasi.
IHDC yang dipimpin oleh Prof. dr. Nila F. Moeloek menegaskan, pendidikan dan promosi kesehatan merupakan fondasi utama dalam membangun sistem kesehatan nasional yang adil dan berkelanjutan.
Hal ini disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Dimensi Pendidikan dan Promosi Kesehatan dalam Ideologi Kesehatan Indonesia Health Development Center Model 2025” yang digelar pada 23 Januari 2025 di Hotel Sofyan Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat.
IHDC merupakan lembaga yang berfokus pada kajian ilmiah serta pengembangan solusi kebijakan berbasis bukti untuk sistem kesehatan nasional yang inklusif.
Prof. Nila menjelaskan, IHDC secara aktif mengkaji isu partisipasi kesehatan, kesetaraan layanan, dan perlindungan kelompok rentan.
Pendidikan dan Promosi Kesehatan dalam Ideologi Kesehatan IndonesiaDalam pemaparannya, IHDC menekankan pentingnya ideologi kesehatan sebagai dasar dalam menentukan arah kebijakan, pelayanan, serta pendidikan kesehatan masyarakat.
Melalui Blueprint Ideologi Kesehatan Indonesia, IHDC menginisiasi enam dimensi kesehatan partisipatif, salah satunya dimensi pendidikan dan promosi kesehatan yang disebut sebagai jantung dari sistem kesehatan berkelanjutan.
Dimensi ini memandang pendidikan kesehatan sebagai proses jangka panjang untuk membangun kesadaran, karakter, dan kemandirian masyarakat. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan nilai dan perilaku sehat yang relevan dengan konteks sosial dan budaya.
Fokus utama dimensi ini meliputi penguatan literasi kesehatan, pendidikan formal dan non-formal, serta reformasi pendidikan tenaga kesehatan agar lebih empatik, kritis, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dalam diskusi, Prof. Nila menyoroti persoalan kesehatan pada anak remaja dan usia sekolah yang dinilai masih menjadi tantangan besar.
“Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan justru banyak terjadi pada anak remaja dan usia sekolah. Dulu kita menyangka lansia yang paling rentan, ternyata bukan,” ujarnya saat membuka acara, Jumat (23/1).
Sementara itu, Prof. Ratna Sitompul dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebut rendahnya literasi kesehatan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat.
“Literasi kesehatan adalah kewajiban kita untuk memberikannya kepada masyarakat, bukan kewajiban masyarakat untuk mencarinya sendiri,” tegasnya.
Ia mencontohkan kasus diabetes dan TBC, di mana regulasi telah tersedia, namun belum berjalan optimal akibat beban kerja tenaga kesehatan dan kurangnya edukasi yang mudah dipahami.
Menurut Prof. Ratna, penguatan promosi dan pencegahan harus didukung oleh layanan primer yang kuat, teknologi yang tepat guna, serta kebijakan kesehatan yang konsisten dan berpihak pada upaya preventif.
Diskusi ini menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain integrasi pendidikan kesehatan dalam kurikulum nasional, kolaborasi lintas kementerian, serta penguatan literasi kesehatan berbasis komunitas sebagai langkah strategis menuju sistem kesehatan Indonesia yang lebih adil dan berkelanjutan.


