FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ramainya sorotan terhadap pengangkatan pegawai SPPG menjadi ASN turut memantik keprihatinan Direktur & Founder Lembaga Penelitian Independen CELIOS, Bhima Yudhistira.
Dia menyampaikan pandangan dan kritiknya. Menurut Bhima Yudhistira, pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), siswa diberi MBG, tapi gurunya malah merana.
“Jadi MBG yang diberikan kepada para siswa, tapi gurunya hidup merana,” kata Bhima dikutip dari Instagram @watchdoc_insta, Sabtu (24/1/2026).
Bagi Bhima, hal tersebut merupakan paradoks. Dia menanyakan apa yang ingin dicapai dari program strategis Presiden Prabowo Subianto itu.
“Ini kan paradoks, ya. Apa yang mau dicapai sebenarnya? Kita nggak habis pikir sebenarnya,” katanya.
Bhima mengungkapkan, banyak guru jadi korban efisiensi anggaran. Apalagi ada sebelumnya guru yang sejak awal belum sejahtera.
“Apa yang mau dicapai dari Makan Bergizi Gratis, yang bahkan masih banyak guru menjadi korban dari efisiensi anggaran, atau sebelumnya memang dia tidak sejahtera, masuk kategori prasejahtera,” ucapnya.
“Berapa banyak guru yang masih menerima bansos. Itu kan artinya, ini yang harus ditolong dulu,” tambahnya.
Namun realitas tersebut, menurutnya jika diabaikan, maka MBG tidak adil.
“Tapi kalau ini kemudian mau dilompati atas nama program kampanye yang namanya MBG, saya kira ini tidak adil,” imbuhnya.
Baginya, MBG kini hanya memupuk kuburan untuk pendidikan yang makin gelap.
“Saya kira kita sedang memupuk kuburan untuk pendidikan yang makin gelap ke depannya,” pungkasnya.
Situasi ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang belum diselesaikan.
Dia mengingatkan, kondisi tersebut justru berisiko mempergelap masa depan pendidikan.
Hal senada juga disampaikan penulis kondang Indonesia, Tere Liye. Dia menceritakan terkait guru honorer yang jadi pendukung die hard Prabowo-Gibran.
Melalui akun media sosialnya, pria yang juga seorang akuntan ini membeberkan salah seorang pembaca novelnya yang juga jadi follower akun media sosialnya curhat terkait persoalan tersebut. “Hidup ini kadang lucu,” tulis Tere Liye.
Sebut saja ‘Mawar’. Dia honorer guru. Dia itu sejak 2024, menjadi die hard-nya relawan Prabowo-Gibran.
Habis-habisan. Setiap hari dia sibuk posting, komen, belain. Di X, di Tik Tok, di Instagram. Pun dia bela-belain habis-habisan MBG. Memuji setinggi langit. Program itu sangat bagus, bermanfaat.
“Hari ini, Mawar sedang termangu. Kenapa? Dia honorer bertahun-tahun, berkali-kali test CPNS gagal, eeh, orang lain mendadak menyalip jadi ASN dong,” ungkap Tere Liye.
Masing-masing ada tiga setiap dapur, itu berarti akan ada hampir puluhan ribu ASN baru. Cepat sekali prosesnya. Orang-orang yang entah kapan honorernya, kapan masa baktinya.
“Apakah ini adil Bang Tere?” Mawar bertanya.
Maka jawaban Tere Liye (setelah merenung sejenak): “Ya ndak tahu, kok tanya saya, Mawar. Kamu yang joget-joget dulu, kok saya yang disuruh mikir,” tutup alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. (Arya/Fajar)



