Pasar Senthir Kembali Dilirik Gen Z, Berburu Barang Antik Jadi Gaya Hidup Baru

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tikar-tikar yang digelar di Pasar Senthir Yogyakarta dipenuhi beragam barang lawas. Jam tangan antik, aksesori kuno, hingga perabot rumah tangga tersusun sederhana di atas alas tikar. Anak-anak muda tampak berjalan perlahan dari satu lapak ke lapak lain, berhenti sejenak untuk mengamati barang, lalu terlibat tawar-menawar singkat dengan penjual. Di tengah dominasi belanja daring yang serba praktis, pasar barang antik ini justru kembali menarik perhatian Generasi Z.

Minat generasi muda terhadap Pasar Senthir terlihat dari meningkatnya kunjungan mahasiswa dan anak muda, terutama pada akhir pekan. Lapak-lapak lesehan yang menjajakan jam tangan kuno, aksesori lawas, pakaian vintage, sepatu, hingga perabot rumah tangga antik kembali ramai disusuri pengunjung yang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga menikmati pengalaman berburu barang.

Pasar Senthir dikenal sebagai pusat jual beli barang antik dan barang lawas di Yogyakarta. Beragam koleksi tersedia, mulai dari aksesori hingga patung antik berbahan logam. Jika sebelumnya pasar ini identik dengan kolektor, dalam beberapa waktu terakhir wajah pengunjungnya berubah. Anak muda mulai mendominasi, tertarik pada nilai estetika dan keunikan barang-barang vintage.

Anissa Ayuningtyas (20), mahasiswi asal Solo, menjadi salah satu pengunjung yang datang ke Pasar Senthir tanpa tujuan khusus. Ia mengaku awalnya hanya berjalan-jalan sebelum perhatiannya tertuju pada sebuah jam tangan lawas yang tergeletak di atas tikar. Dari kunjungan pertamanya, Anissa membawa pulang jam tangan tersebut seharga Rp60 ribu.

“Awalnya cuma jalan-jalan, lalu tertarik mampir. Barang-barangnya unik dan jarang ditemukan di tempat lain,” ujar Anissa. Menurutnya, berbelanja di Pasar Senthir terasa berbeda karena bisa melihat langsung kondisi barang sekaligus berinteraksi dengan penjual.

Bagi banyak pengunjung muda, pengalaman berbelanja inilah yang menjadi daya tarik utama Pasar Senthir. Proses menyusuri lapak lesehan, memilih barang, hingga tawar-menawar menciptakan interaksi langsung antara pembeli dan penjual. Aktivitas ini menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan dalam belanja daring yang serba cepat dan individual.

Perubahan karakter pengunjung juga dirasakan para pedagang. Yones Agung (58), penjual barang antik asal Prambanan yang telah berjualan sekitar 15 tahun di Pasar Senthir, mengatakan jumlah pembeli dari kalangan anak muda meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

“Sekarang banyak anak-anak muda. Katanya tahu dari media sosial,” kata Yones. Menurutnya, konten berburu barang antik yang beredar di media sosial turut mendorong rasa penasaran generasi muda untuk datang langsung ke pasar tersebut.

Selain faktor viral, keunikan barang dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan lain ketertarikan Generasi Z. Barang-barang antik dan vintage tidak diproduksi massal, sehingga memberikan kesan eksklusif. Rentang harga yang masih bisa ditawar juga dinilai sesuai dengan kemampuan mahasiswa.

Pandangan serupa disampaikan Iberish Aurea Godeliva (20), mahasiswi asal Yogyakarta. Ia mengaku telah lama menjadikan Pasar Senthir sebagai tempat berburu aksesori unik. Dalam salah satu kunjungannya, Iberish membeli gelang antik seharga Rp40 ribu setelah menawar dari harga awal Rp50 ribu.

“Kalau mencari barang yang tidak ada di tempat lain, pasti ke sini,” ujarnya. Baginya, Pasar Senthir bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ruang untuk menemukan barang yang memiliki cerita.

Bagi Generasi Z, berburu barang antik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan, tetapi juga menjadi sarana ekspresi diri. Barang-barang vintage kerap digunakan sebagai pelengkap gaya untuk menciptakan identitas yang berbeda. Aktivitas ini sering dilakukan bersama teman, menjadikan Pasar Senthir sebagai ruang rekreasi sekaligus interaksi sosial.

Fenomena meningkatnya minat Generasi Z terhadap Pasar Senthir menunjukkan pergeseran pola konsumsi anak muda. Di tengah budaya digital yang menekankan kecepatan dan kepraktisan, generasi muda mulai menghargai pengalaman berbelanja yang lebih personal dan bermakna. Pasar Senthir kembali menegaskan perannya sebagai ruang pengalaman, bukan sekadar tempat transaksi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Reza Arap Nangis Usai Lula Lahfah Ditemukan Meninggal Dunia, Sang Musisi Minta Maaf hingga Beri Pesan Pilu Ini
• 10 jam lalugrid.id
thumb
10 Tahun Konsulat Jenderal Australia di Makassar, Alumni Perkuat Jejaring Indonesia–Australia
• 14 menit laluharianfajar
thumb
Ngeri Bom Bunuh Diri di Pesta Pernikahan, 7 Orang Tewas
• 6 jam laludetik.com
thumb
Gubernur: Makanan bagi warga terdampak banjir Tangerang harus bergizi
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Kekerasan terhadap Anak, Pelaku Berusia 31 Tahun Diamankan Usai Video Viral
• 23 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.