jpnn.com - CIREBON - Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon Kiai Imam Jazuli menilai KH Said Aqil Siradj sosok yang memenuhi syarat untuk memimpin Syuriyah Nahdlatul Ulama pada periode mendatang.
Menjelang Muktamar ke-35 NU Nahdlatul Ulama, perbincangan soal sosok ideal Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi topik utama.
BACA JUGA: Bahtsul Masail Dorong Percepatan Muktamar NU
Jabatan Rais Aam dinilai bukan sekadar posisi struktural, melainkan simbol muruah, otoritas tertinggi Syuriyah.
Menurut Kiai Imjaz -panggilan Imam Jazuli, pemilihan Rais Aam harus berangkat dari kriteria yang tegas sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), bukan semata pertimbangan popularitas figur.
BACA JUGA: Kiai Said Aqil: Setop Perang, Lindungi Warga Sipil
Dalam kepengurusan NU, Syuriyah adalah lembaga tertinggi yang memegang kendali organisasi para ulama ini seutuhnya.
Syuriyah PBNU dipimpin seorang Rais Aam yang biasanya dipilih berdasarkan kriteria yang ketat.
BACA JUGA: Kontribusi Pemikiran Kiai Haji Imam Jazuli Terhadap Studi Islam Populer
"Dalam struktur NU, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simbol muruah, pemimpin spiritual, dan pengambil kebijakan strategis jam’iyah. Karena itu, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah ia memenuhi kriteria,” tutur Kiai Imjaz.
Dia menjelaskan, terdapat empat pilar utama yang harus dimiliki Rais Aam PBNU, yakni alim, faqih, zahid, serta berwibawa dan berpengalaman dalam organisasi, yang diperkuat dengan nilai muruah, futuwwah, dan muharrikan (penggerak).
"Jika kriteria itu diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna,” ujar Imjaz.
Menurutnya, dari sisi keilmuan, KH Said Aqil merupakan ulama alim dan faqih dengan latar belakang pendidikan dari Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran kontemporer.
“Pemikiran beliau mencerminkan Islam wasathiyah. Teguh pada tradisi pesantren, tetapi mampu merespons modernitas tanpa kehilangan jati diri NU. Sehingga, kefaqihan KH Said Aqil bersifat solutif dan kontekstual, sehingga mampu memberikan jawaban atas persoalan umat di era perubahan sosial yang cepat,” kata Kiai Imjaz.
Dalam aspek spiritualitas, KH Said Aqil dinilai memiliki karakter zahid, yakni tidak terikat ambisi duniawi meskipun memiliki kapasitas dan akses kekuasaan.
“Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana ibadah. Jabatan bagi Kiai Said adalah amanah dan khidmah, bukan tujuan,” kata Kiai Imjaz. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan



