FAJAR, MAKASSAR — Pernyataan Bernardo Tavares tentang Pep Guardiola dulu sempat terdengar seperti curhat yang tak ingin disebut keluhan. Di ruang jumpa media PSM Makassar, jauh sebelum namanya dikaitkan dengan Persebaya Surabaya, Tavares pernah membeberkan satu kegelisahan klasik pelatih: ketimpangan privilese.
Pertanyaannya sederhana, jawabannya filosofis.
“Siapa yang lebih baik, Guardiola atau Mourinho?”
Tanpa ragu, Tavares memilih Guardiola. Bukan semata karena trofi, melainkan karena situasi kerja. Sebuah pilihan yang diam-diam membuka luka lama selama ia berada di Makassar.
“Guardiola punya privilege,” ucap Tavares kala itu. Kalimat pendek, tapi sarat makna.
Guardiola Bukan Sekadar Taktik, Tapi Kekuasaan
Bagi Tavares, Guardiola adalah simbol pelatih yang tidak hanya dipercaya, tapi diberi kekuasaan penuh. Di Barcelona, Bayern Munchen, hingga Manchester City, Guardiola bukan sekadar menyusun strategi, melainkan ikut menentukan wajah skuad.
“Tiga sampai empat pemain terbaik di setiap posisi,” ujar Tavares, menggarisbawahi betapa jauhnya dunia ideal itu dari realitas yang ia alami di PSM.
Guardiola bisa membangun filosofi karena fondasinya tersedia. Ia tidak dipaksa menambal lubang dengan pemain seadanya. Ia tidak menunggu pemain datang satu per satu di tengah pramusim. Ia bekerja di ruang yang lapang.
Mourinho, dan Bayangan Diri Sendiri di PSM
Sebaliknya, Jose Mourinho adalah refleksi realitas pahit. Pelatih besar, ide besar, tetapi bekerja di klub yang tidak selalu punya segalanya.
Di Roma, Mourinho berjuang dengan skuad terbatas. Di Fenerbahce, ia harus mengejar Galatasaray yang jauh lebih kaya. Dan di situlah Tavares melihat dirinya sendiri saat di PSM Makassar.
PSM adalah klub besar, penuh sejarah, fanatik, dan tekanan. Namun secara finansial, ia bukan Manchester City versi Indonesia. Tidak semua pemain incaran bisa datang. Tidak semua rencana bisa dijalankan.
“Ada tim yang bisa latihan sebulan dengan full skuad. Ada yang tidak,” kata Tavares, lirih tapi tegas.
PSM adalah tim yang “tidak”.
Dari Mengeluh Diam-Diam, Kini Menikmati Privilege
Waktu berjalan. PSM dan Tavares berpisah.
Dan roda takdir membawa pelatih asal Portugal itu ke Persebaya Surabaya.
Di Surabaya, situasinya berbalik. Persebaya bukan sekadar klub besar secara historis, tapi juga punya daya beli, daya tarik, dan keberanian manajerial. Transfer bisa dikejar. Target bisa dipenuhi. Kedalaman skuad bukan sekadar wacana.
Di titik ini, Tavares seperti berpindah peran.
Dulu ia Mourinho di PSM—berjuang di tengah keterbatasan.
Kini, ia berpotensi menjadi Guardiola di Persebaya—pelatih dengan ruang bernapas.
Ia tak lagi harus sekadar menyesuaikan filosofi dengan pemain yang tersedia. Kini, ia bisa mulai menyusun pemain sesuai filosofi.
Ironi yang Tak Terucap
Tak ada pernyataan resmi dari Tavares soal perbandingan itu. Ia terlalu profesional untuk mengatakannya secara gamblang. Namun jejak kata-katanya di Makassar kini terasa seperti nubuat yang menjadi nyata.
Apa yang dulu ia kagumi dari Guardiola, kini perlahan ia rasakan sendiri.
Sepak bola memang tidak adil. Tapi kadang, ia memberi pelatih kesempatan kedua—bukan untuk membuktikan diri lebih keras, melainkan membuktikan ide dengan alat yang memadai.
Kini publik menunggu satu hal:
Apakah Bernardo Tavares, dengan privilese ala Guardiola di Persebaya, benar-benar bisa menghadirkan sepak bola yang selama ini hanya bisa ia impikan di PSM?
Karena jika gagal, tak ada lagi alasan soal budget.
Dan jika berhasil, sejarah akan mencatat:
bukan Tavares yang berubah—lingkungannyalah yang akhirnya berpihak.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5458763/original/019622800_1767089744-WhatsApp_Image_2025-12-30_at_17.03.34.jpeg)


