Jakarta: Indonesia mengikuti ajang Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 di Mesir, dan hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kehadiran serta kontribusi Indonesia dalam diskursus intelektual Islam global.
Perwakilan Kementerian Agama yang juga Pentashih Mushaf Al-Qur’an pada Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ), Asep Rifqi Abdul Aziz, mengatakan partisipasi Indonesia merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas peran RI dalam percaturan pemikiran Islam dunia.
“Partisipasi Indonesia dalam CIBF ini merupakan bagian dari upaya pemerintah, terutama Kementerian Agama, untuk memperluas kontribusi Indonesia dalam diskursus intelektual Islam global,” kata Asep dalam siaran pers KBRI Kairo yang dikutip Antara, Sabtu, 14 Januari 2026.
Asep menjelaskan Indonesia tidak hanya menampilkan karya ilmiah berupa buku dan produk keilmuan, tetapi juga produk amaliah sebagai praktik nilai keagamaan yang membumi.
“Yang kami hadirkan bukan hanya produk pemikiran, tetapi juga praktik nilai keagamaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat,” ujarnya.
Ia menambahkan keikutsertaan Indonesia juga menjadi bagian dari penguatan ekoteologi di tingkat internasional sebagai implementasi Asta Protas Kementerian Agama.
“Ekoteologi menempatkan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai fondasi pembangunan dunia yang berkelanjutan,” kata Asep. Penguatan Diplomasi Kebudayaan dan Keagamaan Ia mengatakan keikutsertaan Indonesia didukung sejumlah lembaga strategis, antara lain KBRI Kairo, Ditjen Bimas Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), LPMQ, UPQ, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), dan LEMKA.
Sementara itu, Kuasa Usaha ad Interim KBRI Kairo, M. Zaim A. Nasution, mengatakan kehadiran Indonesia di CIBF merupakan bagian dari penguatan diplomasi kebudayaan dan keagamaan, sekaligus ruang dialog dan pertukaran pemikiran intelektual.
Zaim mengapresiasi Kementerian Agama atas kembalinya Indonesia dalam pameran buku internasional di Mesir setelah sekitar 20 tahun absen.
Menurutnya, partisipasi ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran Indonesia dalam forum literasi internasional, mempererat hubungan historis Indonesia–Mesir, serta sebagai bentuk implementasi kerja sama strategic partnership kedua negara yang ditandatangani pada April 2025 di Kairo.
Paviliun Indonesia resmi dibuka di Cairo International Book Fair 2026 pada Rabu lalu, dipimpin oleh KUAI Zaim, dan dihadiri pejabat KBRI, perwakilan Kementerian Agama, mahasiswa Indonesia di Mesir, serta pengunjung dari berbagai kalangan.
Paviliun Indonesia menampilkan manuskrip kuno, karya ulama Nusantara bertema ekoteologi, serta berbagai produk mushaf Al-Qur’an hasil produksi UPQ.
Baca juga: Pendidikan dan Budaya Dinilai Kunci Memperkuat Diplomasi Indonesia

