Jakarta, VIVA – Setelah tersimpan selama hampir tujuh tahun, film Setannya Cuan akhirnya akan segera menyapa penonton bioskop Indonesia. Aktor dan komedian Aming mengungkap fakta mengejutkan di balik film terbarunya itu, yang ternyata telah melalui perjalanan panjang sebelum akhirnya siap dirilis ke publik.
“Wah udah 7 tahun ya. Ya akhirnya Alhamdulillah tayang juga,” ujar Aming saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Aming mengenang bahwa proses syuting Setannya Cuan berlangsung jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda. Ia menyebut film ini digarap sekitar tahun 2019.
“(Syutingnya) Sebelum Covid ya?” ungkapnya.
Pada awal produksi, film ini menggunakan judul Jurig Salawe. Judul tersebut kental dengan nuansa horor lokal yang berakar dari legenda urban masyarakat Sunda.
“Tadinya judulnya Jurig Salawe kan. Ya karena urban legend, cerita mistis dan horor tataran Sunda,” jelas Aming.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan tren di industri film, tim produksi akhirnya memutuskan mengganti judul menjadi Setannya Cuan. Pergantian judul ini bertujuan agar film terasa lebih relevan dengan bahasa dan realitas masyarakat masa kini, khususnya soal tekanan ekonomi dan obsesi terhadap kekayaan instan.
Film Setannya Cuan tidak sekadar menghadirkan horor konvensional. Ceritanya mengangkat ironi kehidupan modern, ketika tuntutan ekonomi sering kali terasa lebih menakutkan dibandingkan makhluk gaib.
“Penonton diajak melihat bahwa terkadang, isi dompet yang kosong jauh lebih horor daripada penampakan di pohon beringin,” ujar Sahrul Gibran, yang menyutradarai film ini bersama Jay Sukmo.
Dalam film ini, sosok setan tidak lagi tampil semata sebagai teror, melainkan menjadi bagian dari “ekosistem” ambisi manusia yang ingin cepat kaya. Pendekatan tersebut membuat karakter-karakter dalam film terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Aming sendiri memerankan karakter tukang sayur dalam film ini. Ia bahkan masih mengingat betul kondisi fisiknya saat proses syuting berlangsung.
“Tadinya tukang sayur, masih kurus banget,” kenangnya.
Meski perilisan film ini sempat tertunda selama tujuh tahun, Aming menegaskan bahwa hal terpenting adalah kesempatan bagi penonton untuk akhirnya menikmati karya tersebut.





