Warga RI Berbondong-bondong Nabung Dolar AS, Ada Apa?

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tabungan valuta asing (valas) tercatat meningkat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat dana pihak ketiga (DPK) valas tumbuh sebesar 3,73%.

Namun, Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Polis Ferdinan D. Purba menyampaikan bahwa tren suku bunga pasar untuk simpanan valas justru terus menurun. Karena itu, tingkat bunga penjaminan (TBP) tabungan valas diputuskan tetap bertahan di level 2,00%.


"Dalam nominal memang ada kenaikan untuk DPK valas sebesar 3,73%. Meskipun ada kenaikan di nominal namun tren suku SBP-nya itu tadi kami sampaikan mengalami penurunan," papar Ferdinan saat Konferensi Pers Penetapan TBP LPS, di Kantor Pusat LPS, Pacific Century Place, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Baca: Dolar AS Keok Dikeroyok Mata Uang Asia, Termasuk Rupiah

LPS memandang tren penurunan suku bunga simpanan valas mencerminkan kondisi likuiditas valas perbankan masih memadai. Dengan demikian bank tidak perlu menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana valas dari nasabah.

Ke depannya, LPS akan terus memantau pergerakan simpanan dan suku bunga valas, dalam rangka menjaga stabilitas sistem perbankan dan memastikan kebijakan penjaminan tetap sejalan dengan kondisi pasar.

Terpisah, Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Anggito Abimanyu mengatakan pihaknya tidak dalam posisi dalam mengambil kebijakan terkait nilai tukar rupiah, namun selalu berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai bentuk sinergi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Baca: Bos OJK Bocorkan Isi Rapat KSSK Sore Ini

"Mengenai stance atau pertimbangan dari Bank Indonesia yang selalu berusaha untuk menstabilkan rupiah, setahu saya BI tidak menargetkan level tertentu tetapi BI selalu berusaha untuk mengurangi tingkat volatilitas dan pergerakan rupiah itu supaya lebih predictable," kata Anggito pada kesempatan yang sama.

Adapun nilai tukar rupiah dibuka menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (23/1/2026). Mengacu data Refinitiv, rupiah Garuda terapresiasi sebar 0,47% ke posisi Rp 16.800/US$.

Penguatan ini melanjutkan pergerakan positif sehari sebelumnya, ketika rupiah juga ditutup menguat cukup signifikan 0,30% di level Rp 16.880/US$.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jurus BI Jaga Rupiah & Stabilitas Keuangan di Awal 2026

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
DVI Polri Identifikasi Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mengenal Airbus A350, Pesawat Jarak Jauh Andalan Maskapai Dunia
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Sita Uang Ratusan Juta Usai Geledah Kantor PMPTSP Madiun
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Macron dan Prabowo Bahas Kemitraan Strategis di Istana Élysée
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Deretan Sepatu untuk Musim Hujan
• 14 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.