REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta tengah menyiapkan terobosan baru di sektor pariwisata melalui program wisata budaya partisipatif bertajuk 'Bule Mengajar'. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, program ini akan menjadi pelengkap aktivitas berlibur di Kota Gudeg.
Hasto menjelaskan program Bule Mengajar dirancang untuk memperkaya pengalaman berlibur wisatawan mancanegara (wisman) dengan melibatkan mereka secara langsung dalam aktivitas sosial dan edukasi bersama warga lokal. Nantinya mereka tidak lagi hanya datang untuk melihat pertunjukan budaya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat di kampung wisata.
Baca Juga
Datang tak Diundang di Labuan Parangkusuno, Mba Rara Ditegur Abdi Dalem Keraton Yogya
Sungai Code akan Disulap Jadi Tempat Wisata Baru di Yogyakarta
Pemkot Ingin Sulap Yogyakarta Menjadi Little Singapore, Bersih dan Tertata
"Lewat program Bule Mengajar, wisatawan mancanegara tidak hanya menjadi penonton atraksi budaya. Mereka diajak terlibat langsung dalam aktivitas sosial dan edukasi bersama warga lokal," ujarnya, Kamis (22/1/2026). Wali Kota menyampaikan konsep program tersebut tengah dimatangkan. Namun ia memberikan gambaran soal wisman akan berpartisipasi dalam kegiatan berbagi pengetahuan, seperti pengenalan budaya global, kedisiplinan, hingga interaksi sosial. Kegiatan direncanakan berlangsung pada waktu tertentu, misalnya Sabtu pagi, agar menyatu dengan ritme wisata dan kehidupan warga. .rec-desc {padding: 7px !important;} Tak sampai di situ, Hasto menyebut Pemkot Yogyakarta juga akan memberikan sertifikat penghargaan resmi kepada wisatawan yang ikut ambil bagian dalam program Bule Mengajar. Menurutnya, program ini sejalan dengan upaya pengelolaan kebudayaan agar tidak sekadar menjadi warisan yang dilestarikan, tetapi didorong mampu melahirkan karya, kreativitas, dan inovasi yang berdampak pada ekonomi masyarakat. "Tinggal bagaimana menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah," katanya. Yogyakarta sendiri dikenal sebagai Kota Wisata Budaya dengan Indeks Pembangunan Kebudayaan tertinggi secara nasional, mencapai 73,79. Namun, manfaat ekonomi dari sektor kebudayaan dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat lokal. Karena itu, program wisata partisipatif seperti Bule Mengajar diharapkan mampu memperluas dampak ekonomi sekaligus menjaga nilai luhur budaya. Jika melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) pada November 2025 tercatat sebanyak 8.005 kunjungan. Angka tersebut naik 18,98 persen secara tahunan, meski secara bulanan mengalami penurunan 8,12 persen. Wisatawan asal Malaysia masih mendominasi, disusul Singapura dan Jepang. Sementara perjalanan wisatawan nusantara menunjukkan tren positif dengan total 3,11 juta perjalanan ke DIY pada periode yang sama. Kota Yogyakarta mencatat kenaikan tertinggi, yakni 5,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pemkot Yogyakarta berharap program tersebut tidak hanya mempercantik agenda liburan wisatawan asing, tetapi juga mendorong pemerataan manfaat ekonomi dan memperkuat identitas budaya lokal di tengah dinamika pariwisata global. "Jadi pengalamannya tidak hanya berwisata saja. Ada dampak yang didapatkan dan diberikan oleh wisatawan," ungkap Hasto.