Kata ‘cungkring’ identik dengan postur tubuh manusia yang kurus dan kering. Namun, berbeda di Kota Bogor. Di sana, Cungkring identik dengan jajanan khas kota hujan yang jarang ditemui di kota lainnya.
Salah satu kedai yang menjual Cungkring terletak di pinggir jalanan Pasar Bogor Surya Kencana. Dengan sebuah gerobak, Ule, Abi, dan Teza menjajakan Cungkring Bapak Endang ke pelanggan yang terus mengantre.
Lantas, apa sih arti kata Cungkring?
“Dari cungur pakai keringan,” ucap Ule saat ditemui, Sabtu (24/1).
Ya, Cungkring adalah campuran cungur atau mulut sapi, kikil, bakwan, lontong, dan saus kacang. Bakwan adalah yang mereka sebut sebagai ‘keringan’. Semuanya dicampur dan disajikan memakai kertas minyak yang dilipat seperti mangkok.
“Kikilnya dapat dua,” ujar Teza.
Cara memakannya pun memakai sebuah tusuk sate. Seporsi Cungkring mereka hargai Rp 20 ribu.
Mereka bercerita, sekali keluar mereka membawa stok bahan untuk 100 porsi. Dalam sehari, mereka bisa mengisi ulang stok hingga tiga kali.
“Iya (bisa habis 300 porsi),” ucap Teza.
“Apalagi besok (hari Minggu). Bisa nambah 5 kali,” tambahnya.
Mereka menyebut omzet yang bisa didapatkan dalam sehari mencapai Rp 6 juta rupiah. Menurut pantauan kumparan, para pelanggan bisa sampai menambah hingga 2-3 porsi sekali makan.
“Enak, ini saya tambah lagi,” ucap seorang pelanggan.




