Cafe Moenasiah Semarang, Kedai Kopi yang Menyatu dengan Ruang Baca

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — Kios-kios buku di Komplek Buku Stadion Diponegoro perlahan hidup sejak siang hari. Di balik aktivitas Kota Semarang yang tak pernah benar-benar sepi, kawasan ini menyimpang ruang singgah yang kerap luput dari perhatian.

Di antara barisan toko buku di kawasan tersebut, terdapat sebuah cafe kopi kecil yang berdiri tanpa penanda mencolok. Bentuk cafe ini menyerupai rumah sederhana, namun di dalamnya pengunjung bisa menemukan perpaduan rak buku, aroma kopi, serta suasana tenang dan hangat yang memberi jeda dari hiruk pikuk kota.

Cafe Moenasiah hadir di tengah deretan kios-kios buku di komplek tersebut. Baru dibuka pada pukul 15:00 WIB, cafe ini perlahan menjadi titik singgah pengunjung kawasan tersebut. Menjelang malam hari, sekitar pukul 17:00 WIB, jumlah pengunjung mulai bertambah, terutama pengunjung yang ingin melepas penat dari aktivitas kerja.

Dilihat dari luar, bangunan cafe kopi ini didominasi oleh warna putih dengan aksen kayu pada pintu dan jendela. Bukaan pintu dan jendela yang lebar di bagian depan memudahkan cahaya alami masuk ke dalam ruangan, sementara area depan teras diisi dengan bangku kayu dan beberapa kursi.

Berbeda dengan cafe pada umumnya, cafe kecil ini menawarkan pengalaman baru kepada pengunjung untuk menikmati kopi sambil membaca buku di area teras cafe.

Ruangan berukuran kecil, bagian dalam cafe diisi dengan meja bar kecil barista yang berdampingan langsung dengan empat buah rak buku yang memenuhi sisi ruangan.

Di bagian rak-rak buku ini, pengunjung dapat menemukan koleksi bacaan yang didominasi dengan karya sastra novel dari sastrawan Indonesia seperti novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala, dan lain-lain. Meski kecil dan terbatas, ruang baca di cafe ini mampu menyatukan pengunjung dengan buku, kopi, dan percakapan yang tumbuh secara alami.

Salah satu barista di Cafe Moenasiah, Anton, menuturkan bahwa konsep cafe kopi ini berawal dari aktivitas penjualan buku yang sudah lebih dulu berjalan. “Awalnya kami memang jualan buku dulu pada tahun 2023 lalu. Kehadiran kopi itu justru datangnya belakangan sebagai pelengkap,” ujar Anton saat ditemui di Cafe Moenasiah, dikutip Rabu (21/1/2026).

Selain itu, konsep cafe yang menyatukan kopi dan buku bacaan bukan sekadar penyesuaian dengan komplek buku Stadion Diponegoro yang telah dikenal sebagai kawasan yang didominasi kios-kios buku. Cafe ini telah mengusung konsep tersebut sejak pertama kali dibuka di daerah Tlogosari. Adapun lokasi cafe saat ini baru ditempati sejak bulan Oktober 2025.

Untuk pilihan menu, Anton menyebut bahwa kopi susu gula aren menjadi varian kopi yang paling sering dipesan oleh para pengunjung. Tak hanya kopi, cafe Moenasiah juga menawarkan pilihan menu minuman lainnya seperti teh chamomile, rosella, telang, krisan, hingga apple blossom. Sementara untuk camilan, soft cookies menjadi menu yang hampir selalu tersedia dengan varian cokelat dan keju, serta salad yang disajikan secara terbatas pada waktu tertentu.

Mengenai keramaian pengunjung, Anton menjelaskan bahwa cafe Moenasiah akan mulai ramai didatangi pengunjung pada sore hari menjelang petang. Lebih lanjut, Anton menambahkan bahwa kepadatan pengunjung cenderung meningkat saat memasuki akhir pekan, meski tidak ada hari tertentu yang benar-benar mendominasi.

“Kalau lagi gak hujan, biasanya sekitaran jam 5 sore itu sudah mulai ramai, terus ramai sampai sekitar jam 9 malam,” katanya.

Berbeda dengan cafe yang lain, Anton menyebut bahwa pengunjung cafe ini datang tidak selalu bertujuan untuk duduk berlama-lama demi menikmati kopi. Banyak pengunjung yang datang justru tertarik untuk membaca atau tertarik dengan koleksi buku yang ada di cafe ini.

“Yang datang ke sini itu justru kebanyakan mau lihat buku dulu, habis itu baru mereka beli kopi.Kalau sedang hujan, pengunjung biasanya akan duduk berdempetan di dalam ruangan ini, nah mereka bisa tuh tiba-tiba saling ngobrol untuk ngomongin buku yang lagi dibaca,” tuturnya.

Terkait inovasi atau perubahan ke depannya, Anton menyebut bahwa pihak cafe berencana untuk menambah katalog buku dan menyelenggarakan aktivitas-aktivitas terkait literasi. “Dalam waktu dekat mungkin kami akan menambah katalog buku dan mengadakan aktivitas-aktivitas seperti diskusi atau baca buku bersama,” tutup Anton. (Fadya Jasmin Malihah)



Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bernardo Tavares, Kini Bisa Seperti Guardiola di Persebaya Surabaya: Menengok Kembali Curhat Pilu Saat Masih di PSM
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Pria Temukan Harta Karun Rp 36 T di Kalimantan, Hidup Tetap Miskin
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tipu Muslihat Ayah Bejat di Magelang, Mengaku Kerasukan Perkosa Anak selama 4 Tahun
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Tragis! Bocah 12 Tahun Tewas Digigit Hiu saat Berenang
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Hasil Indonesia Masters: RI Loloskan 2 Wakil ke Final
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.