Banjir masih melanda kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Hingga kini, sejumlah rumah warga RT 16 RW 08 masih terendam banjir sehingga belum bisa ditempati.
Warga terdampak banjir tidak mendapat lokasi untuk mengungsi. Sebagian dari mereka akhirnya mengungsi ke rumah-rumah kerabat terdekat. Namun ada pula yang mengungsi di emperan toko.
Seperti lansia asal Klaten, Jawa Tengah, Mujinten (61), yang setidaknya sudah 20 tahun mengontrak di kawasan itu. Dia bersama sejumlah tetangganya terpaksa mengungsi di emperan kios tak jauh dari rumahnya.
Mujinten dan tetangganya telah mengungsi sejak Kamis (22/1) malam. Mereka tidur di emperan bersama keluarga hanya beralas kardus dan tikar plastik.
"Hari Kamis jam 12 malam, air datang, kita langsung buru-buru lari. Anak saya ungsiin ke teman saya di atas sono," katanya saat ditemui di emperan kios pada Sabtu (24/1/2026).
Dia mengatakan, saat air datang, mereka langsung berlarian mencari tempat mengungsi seadanya. Tak ada barang berharga maupun pakaian yang sempat dibawa.
"Kita lari di sini, cuma membawa baju ya ini satu yang dipakai ini saja," ucapnya.
"Untung alhamdulillah Ibu Haji ini juga orang cakep, kita tumpangin juga nggak apa-apa, boleh-boleh aja," lanjut Mujinten.
Menurut Mujinten, kondisi ini bukan hal baru. Dalam kejadian banjir-banjir sebelumnya, tak ada juga bantuan tenda maupun tempat tidur.
"Belum ada itu (tenda). Belum ada, dari dulu kayaknya," ujarnya.
Sementara itu, untuk keperluan mandi, mereka harus menumpang kepada warga lain yang tak terdampak. Bahkan, sering kali, lansia yang sehari-hari berdagang di Pasar Minggu itu memilih pergi ke pasar untuk mandi.
"Kalau mau mandi, kita kalau boleh, numpang. Kalau nggak boleh, kita mandi di pasar sono," ungkapnya.
Sebenarnya, terdapat sebuah masjid tak jauh dari lokasi banjir. Namun warga kini tak lagi diperbolehkan mengungsi di sana. Larangan itu muncul akibat perilaku pengungsi pada masa lalu.
"Gini, waktu itu kan waktu tahun berapa itu kan pada ngungsi ke sono di masjid. Berhubung di masjid itu semuanya ada yang jorok, ada yang gimana, berantem apa gimana, terus tidak diperbolehin," ucapnya.
Karena itu, kini emperan toko dan jalanan menjadi satu-satunya pilihan bagi Mujinten dan warga lainnya untuk bertahan hingga air Kali Ciliwung benar-benar surut.
Di emperan terbuka itu, mereka harus menahan dingin saat tidur malam. Mereka juga pasrah terkena tampias saat hujan datang di tengah istirahatnya.
"Dingin (kalau malam), apalagi hujan, apalagi hujan, ya dingin. Kadang-kadang dari situ tampias," ungkap Mujinten.
Meski lelah fisik tidur tanpa alas, Mujinten tak memiliki pilihan lain. Dia mengaku pasrah.
"Ya gimana nggak capek, ya capek, capek badan, capek tenaga. Diterima (saja), pasrah," pungkasnya.
(ond/dek)


