Krisis ekonomi sering kali dipahami sebagai peristiwa abstrak yang dipenuhi istilah teknis, mulai dari gagal bayar, likuiditas, hingga gejolak pasar keuangan. Padahal, di balik indikator ekonomi makro dan kebijakan moneter, krisis selalu berkelindan dengan kehidupan manusia. Ketika sistem ekonomi terguncang, dampaknya merembes hingga tempat kerja, ruang keluarga, hingga meja makan.
Film dapat menjadi medium yang efektif untuk menjembatani kompleksitas tersebut. Dengan pendekatan naratif, krisis ekonomi tidak lagi semata angka dan grafik, tetapi hadir sebagai pengalaman hidup.
Dari ruang rapat bank sentral, lantai bursa, hingga dapur rumah tangga kelas pekerja, karya sinema mampu memberikan perspektif alternatif tentang bagaimana krisis terbentuk, dikelola, dan dirasakan.
Kompas merangkum lima film yang memberikan potret krisis ekonomi global dan kawasan dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya relevan sebagai hiburan, film-film ini juga membantu publik memahami dinamika ekonomi makro dan moneter dalam periode krisis yang berulang dalam sejarah modern.
Default adalah film karya sutradara asal Korea Selatan, Choi Kook-hee, yang dirilis pada 28 November 2018. Film ini membawa penonton kembali ke krisis moneter Asia 1997, sebuah peristiwa yang mengguncang perekonomian Korea Selatan, Indonesia, serta sejumlah negara lain di kawasan.
Berlatar satu minggu sebelum Korea Selatan dinyatakan mengalami gagal bayar nasional, film ini mengungkap ketegangan di balik layar ketika pemerintah berupaya menahan informasi ini dari publik, meskipun tanda-tanda krisis sudah nyata.
Kisahnya disampaikan melalui tiga sudut pandang utama yang saling melengkapi. Han Shi-hyun, pejabat Bank Korea, menjadi sosok yang pertama membaca risiko krisis likuiditas dan memperingatkan pemerintah tentang kemungkinan gagal bayar. Namun, peringatan itu berhadapan dengan kepentingan politik dan kekhawatiran akan runtuhnya kepercayaan pasar.
Di sisi lain, Yoon Jung-hak, mantan banker yang menjadi konsultan finansial, memilih bertaruh melawan sistem dengan membaca arah krisis sebagai peluang finansial. Sementara itu, Gab-soo, seorang pengusaha kecil, merepresentasikan kelompok masyarakat yang harus menanggung dampak paling langsung dari runtuhnya ekonomi.
Melalui ketiga tokoh ini, Default menunjukkan bahwa krisis ekonomi bukan sekadar kegagalan pasar, melainkan juga kegagalan kebijakan, komunikasi, dan pengelolaan risiko. Negosiasi dengan IMF, tekanan global, serta pilihan pahit antara stabilitas jangka pendek dan konsekuensi sosial jangka panjang menjadi inti cerita.
Bagi penonton Indonesia, karya sinema ini terasa relevan karena mengingatkan pada krisis 1997 yang juga mengubah struktur ekonomi dan sosial nasional.
Jika Default berbicara pada level negara dan kebijakan moneter, Her Job film garapan sutradara asal Yunani, Nikos Labot, yang dirilis 7 September 2018, menghadirkan krisis ekonomi dari skala yang jauh lebih personal.
Berlatar resesi berkepanjangan di Yunani, film ini mengikuti Panayiota, seorang ibu rumah tangga yang terpaksa kembali bekerja setelah suaminya kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja massal. Krisis ekonomi dalam Her Job tidak hadir melalui grafik pertumbuhan atau data utang negara, melainkan lewat rutinitas harian yang berat.
Panayiota bekerja sebagai petugas kebersihan di pusat perbelanjaan baru, sebuah simbol ironi di tengah ekonomi yang lesu. Upah rendah, pekerjaan monoton, dan tekanan domestik menjadi gambaran nyata bagaimana resesi nasional diterjemahkan menjadi beban individual, terutama bagi perempuan.
Her Job menegaskan bahwa krisis ekonomi makro selalu memiliki dimensi sosial dan jender. Ketika negara gagal menyediakan jaring pengaman yang memadai, keluarga menjadi unit terakhir yang menanggung dampaknya.
Film ini memperlihatkan bahwa pemulihan ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal martabat, keadilan, dan keberlangsungan hidup masyarakat kecil.
The Big Short mengangkat krisis keuangan global 2008 yang berawal dari Amerika Serikat dan menjalar ke seluruh dunia. Film ini berfokus pada sekelompok investor dan analis keuangan yang sejak awal menyadari bahwa pasar perumahan Amerika Serikat dibangun di atas fondasi rapuh berupa kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage.
Melalui pendekatan naratif yang satir, tetapi informatif, sutradara Adam McKay berusaha menjelaskan bagaimana pinjaman berisiko dikemas menjadi produk keuangan kompleks dan dinilai aman oleh lembaga pemeringkat.
Ketika risiko gagal bayar meningkat, sistem keuangan global ternyata tidak siap menanggung dampaknya. Keputusan para tokoh utama untuk bertaruh melawan pasar memperlihatkan cacat struktural dalam sistem keuangan modern yang terlalu mengandalkan asumsi pertumbuhan tanpa henti.
Lebih dari sekadar kisah keberhasilan finansial, The Big Short yang dirilis 11 Desember 2015 menyoroti dampak sosial krisis 2008. Jutaan orang kehilangan rumah dan pekerjaan, sedangkan keuntungan justru diraih oleh segelintir pihak yang mampu membaca kehancuran sistem lebih awal.
Film ini menjadi pengingat bahwa krisis ekonomi global sering kali memperlebar ketimpangan dan mempertanyakan etika dalam kapitalisme finansial.
Film yang pertama kali dirilis pada 29 Agustus 2013 ini menghadirkan narasi krisis moneter Asia 1997 dari sudut pandang yang paling intim, yakni kehidupan rumah tangga kelas menengah di Singapura.
Berbeda dari narasi krisis ekonomi yang kerap berpusat pada negara atau sektor keuangan, karya sinema garapan sutradara Anthony Chen ini memperlihatkan bagaimana perlambatan ekonomi dan ketidakpastian finansial memengaruhi relasi keluarga, pekerjaan, dan ikatan emosional sehari-hari.
Cerita dalam film Ilo Ilo berfokus pada sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang terdampak langsung oleh tekanan ekonomi. Hwee Leng harus menyeimbangkan perannya sebagai perempuan karier dan ibu rumah tangga, sedangkan sang suami menghadapi ketidakstabilan pekerjaan di tengah situasi ekonomi yang memburuk.
Kondisi tersebut mendorong keluarga ini mempekerjakan Teresa, seorang pekerja migran asal Filipina, untuk membantu urusan domestik. Keputusan ekonomi ini, yang tampak pragmatis, justru membuka lapisan konflik sosial dan emosional di dalam keluarga.
Krisis ekonomi dalam Ilo Ilo tidak hadir sebagai peristiwa dramatis yang meledak tiba-tiba, melainkan sebagai tekanan perlahan yang menggerus rasa aman. Hubungan antara anak laki-laki keluarga tersebut dan Teresa menjadi cermin bagaimana kecemasan ekonomi dapat bermetamorfosis menjadi ketegangan personal.
Dalam ruang rumah tangga, krisis memunculkan jarak, kemarahan, sekaligus ketergantungan yang rumit, terutama terhadap pekerja migran yang posisinya paling rentan.
Melalui pendekatan yang tenang dan observasional, Ilo Ilo menegaskan bahwa krisis moneter Asia bukan hanya soal runtuhnya nilai tukar atau kebijakan makro, melainkan juga tentang perubahan relasi sosial di tingkat paling dasar.
Film ini memperluas pemahaman bahwa dampak krisis global tidak berhenti di angka pertumbuhan, tetapi masuk ke ruang keluarga, membentuk ulang peran, harapan, dan rasa aman manusia.
Film karya sutradara JC Chandor ini mengambil pendekatan berbeda dengan memusatkan cerita pada satu bank investasi besar dalam kurun waktu 24 jam. Film ini menggambarkan bagaimana krisis dapat dipicu oleh kegagalan manajemen risiko dan penggunaan leverage (rasio utang) berlebihan dalam produk keuangan berbasis mortgage (kredit properti).
Ketika seorang analis muda menemukan portofolio perusahaan telah melampaui batas risiko yang dapat ditanggung, manajemen dihadapkan pada dilema besar, yakni menjual aset bermasalah demi menyelamatkan perusahaan berpotensi merusak pasar secara luas. Film ini menyoroti bagaimana keputusan mikro di tingkat korporasi dapat memicu efek domino pada sistem keuangan nasional dan global.
Film yang pertama dirilis di Festival Film Sundance, Januari 2011, ini memberi gambaran konkret tentang mekanisme krisis keuangan, mulai dari margin requirement, volatilitas, hingga runtuhnya kepercayaan pasar.
Dengan dialog yang intens dan minim dramatisasi berlebihan, film ini menegaskan, krisis sering kali bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan akumulasi kesalahan yang dibiarkan terlalu lama.
Lewat kelima film di atas, krisis ekonomi tampil sebagai peristiwa multidimensi yang melibatkan negara, pasar, dan manusia, sekaligus mengingatkan bahwa setiap kebijakan ekonomi selalu memiliki konsekuensi sosial yang nyata.





