TANGERANG SELATAN, KOMPAS - Hasil evaluasi status tanggap darurat sampah di Kota Tangerang Selatan, Banten, diklaim positif. Tumpukan sampah di jalan dan ruang publik berkurang signifikan meski masih dijumpai di beberapa titik.
Sampah sedikit demi sedikit bisa diangkut. Namun, keberadaannya masih mengular seperti di kolong Jalan Layang (Flyover) Ciputat dan Pasar Cimanggis.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan, Tubagus Asep Nurdin, Minggu (25/1/2026), menyebut, status tanggap darurat sampah, misalnya, telah berakhir pada 19 Januari 2026. Tanggap darurat itu berlaku sejak 23 Desember 2025.
Saat ini, Pemkot Tangerang Selatan memasuki tahap evaluasi menyeluruh guna menentukan langkah lanjutan yang paling tepat dan efektif.
"Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang positif. Kondisi sampah di jalanan dan ruang publik berkurang secara signifikan, meskipun kami menyadari di beberapa titik masih dijumpai dan perlu pengendalian berkelanjutan," ucap Asep.
Kebijakan lain, yakni pengelolaan sampah bekerja sama dengan swasta di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memasuki tahap evaluasi bersama. Evaluasi meliputi aspek teknis, operasional, dan dampak lingkungan agar efektivitas dan keberlanjutan kerja sama yang dijalankan.
Sebelumnya, warga sekitar memprotesnya. Pemkab Bogor lantas meminta pengolahan sampah sesuai perizinan dan persetujuan lingkungan sebagai perlindungan terhadap lingkungan dan warga sekitar.
Sementara progres kerja sama dengan Kota Serang melalui TPA Cilowong tetap berjalan dengan memperhatikan aspirasi warga sekitar. Menurut Asep, pelaksanaannya dilakukan melalui pengaturan teknis yang ketat serta komunikasi lintas daerah yang berkesinambungan, dengan prinsip saling menghormati dan keberlanjutan lingkungan.
Pengangkutan sempat ke TPA Cilowong sempat dihentikan sementara pada 6-16 Januari 2026. Ini terjadi seiring protes warga setempat.
Selain itu, untuk penataan TPA Cipeucang, hingga saat ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pembangunan bronjong pengaman hampir selesai.
Sementara penataan landfill 3 telah diarahkan ke dalam model terasering untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan.
”Dilakukan juga normalisasi Kali Cirompang dan sejumlah pekerjaan teknis lainnya,” katanya.
Pemkot Tangerang Selatan juga menjanjikan komitmen untuk keluar dari pola lama pengelolaan sampah. Salah satu arah kebijakan strategis yang terus diperjuangkan adalah implementasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi jangka panjang.
PSEL dipandang sebagai wujud transformasi karena tantangan lingkungan tidak hanya diatasi, tetapi juga diubah menjadi sumber energi dan nilai tambah bagi kota.
"Kami terus memperkuat pengurangan sampah dari sumbernya, pengelolaan berbasis komunitas, serta perubahan perilaku masyarakat. Seluruh langkah ini diarahkan untuk mewujudkan Tangerang Selatan sebagai kota yang bersih, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," tutur Asep.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P Roeslani selepas Jakarta Investment Festival di The St Regis Jakarta, Kamis (9/10/2025) mengutarakan, Badan Pengelola Investasi Danantara telah menyiapkan pendanaan untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di berbagai daerah. Proyeknya akan dimulai November 2025 setelah rangkaian sosialisasi kepada pemerintah daerah.
"Tidak hanya semata-mata soal listrik, tapi untuk kesehatan, lingkungan, dan lainnya karena proyek ini memberikan asas manfaat luar biasa," tutur Rosan.
CEO Danantara itu juga menyebut, proyek tersebut melibatkan kerja sama dengan swasta, penyedia teknologi, dan badan usaha milik daerah. PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) berperan sebagai pembeli listrik yang dihasilkan (offtaker).




