Jakarta, VIVA – Aktor Rio Dewanto kembali hadir di layar lebar melalui film drama-horor terbaru berjudul Kuyank yang dijadwalkan tayang pada 29 Januari 2026 mendatang. Dalam film ini, Rio memerankan karakter Badri, sosok pria yang terjebak dalam konflik cinta, tekanan adat, dan teror mitos Kuyang.
Berbeda dari film horor Kuyang pada umumnya, Kuyank tidak menempatkan makhluk mistis tersebut semata sebagai monster haus darah. Film ini justru mengangkat kisah manusia di balik mitos, dengan drama emosional sebagai kekuatan utama cerita. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Rio Dewanto memerankan Badri, kekasih Rusmiati (Putri Intan Kasela), yang harus menghadapi runtuhnya hubungan mereka akibat ramalan buruk dan tekanan adat. Ketika Rusmiati memilih jalan gelap dengan mempelajari ajian Kuyang demi mempertahankan cinta, Badri justru berada dalam posisi paling sulit.
Di tengah teror yang menghantui bayi dan perempuan hamil, identitas Rusmiati perlahan terkuak. Situasi memanas ketika amuk massa mengancam, dan Badri dipaksa memilih antara mempertahankan cinta yang ia yakini atau tunduk pada tuntutan masyarakat yang menuntut balas.
Peran ini menempatkan Rio Dewanto bukan sekadar sebagai saksi teror, melainkan sebagai pusat konflik emosional yang menggerakkan cerita.
Penulis skenario Kuyank, Asaf Antariksa, menegaskan bahwa film ini sengaja membangun horor secara berbeda. Pendekatan tersebut memberi ruang lebih luas bagi aktor, termasuk Rio Dewanto, untuk mengeksplorasi kedalaman karakter.
”Aspek horornya itu tidak seperti horor-horor lain yang sangat dominan ya, banyak jumpscare, banyak teror ini enggak. Karena memang aspek dramanya yang kental pada film ini. Nah, juga bahwa mitos yang kami ambil saat menulisnya bersama Mas Jo, adalah mitos yang agak berbeda dengan versi Kuyang lain. Di sini Kuyang tidak membunuh, tapi masyarakat itu kadang-kadang salah paham,” jelas Asaf Antariksa dalam konferensi pers di Jakarta, baru-baru ini.
Pendekatan ini membuat akting para pemain, termasuk Rio Dewanto, menjadi elemen penting dalam membangun ketegangan dan empati penonton.
Untuk memperkuat atmosfer cerita, sutradara Johansyah Jumberan membawa seluruh aktor dan kru, termasuk Rio Dewanto, menjalani proses syuting langsung di pedalaman Kalimantan Selatan. Lokasi tersebut menampilkan pemukiman apung dengan perahu sebagai alat transportasi utama masyarakat setempat.





