Teknologi AI Terus Berkembang, Ini Hal yang Tetap Tak Bisa Dilakukan Mesin-Melek Teknologi

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) melaju pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemampuan mulai dari menjawab pertanyaan kompleks hingga menghasilkan gambar, video, dan tulisan. Meski begitu, para ahli menegaskan AI tetap memiliki batas mendasar yang tidak dapat dilampaui. AI Tak Punya Emosi dan Empati Pakar teknologi menilai, salah satu keterbatasan utama AI adalah ketiadaan emosi dan empati yang nyata. Menurut peneliti etika AI dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sherry Turkle, AI memang dapat meniru bahasa empati melalui data dan pola percakapan, tetapi tidak memiliki pengalaman emosional yang sesungguhnya.
 

Baca Juga :

China Kenalkan Sinong, Model AI Pertanian untuk Dorong Inovasi Ketahanan Pangan-Melek Teknologi


“AI tidak merasakan sedih, bahagia, atau kehilangan. Ia hanya mensimulasikan respons,” ujar Sherry dikutip dari laman MIT, Minggu, 25 Januari 2025. 

Selain itu, AI juga tidak memiliki kesadaran dan intuisi sebagaimana manusia. UNESCO dalam dokumen Ethics of Artificial Intelligence menegaskan bahwa AI bekerja berdasarkan algoritma dan data historis, bukan pengalaman hidup atau penilaian intuitif. Karena itu, keputusan AI bersifat komputasional, bukan refleksi nilai atau kebijaksanaan manusia. AI Tak Memiliki Tanggung Jawab Moral Keterbatasan lain yang kerap disorot adalah aspek tanggung jawab moral. Menurut laporan World Economic Forum (WEF), AI tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara etis maupun hukum. Jika terjadi kesalahan atau penyalahgunaan, tanggung jawab tetap berada pada manusia, mulai dari pengembang, pemilik sistem, hingga pengguna teknologi tersebut.

Dalam konteks sosial, AI juga dinilai belum mampu memahami nilai budaya secara utuh. Pakar komunikasi digital dari University of Oxford, Luciano Floridi, menjelaskan bahwa norma sosial dan budaya bersifat dinamis dan kontekstual.

“Apa yang dianggap normal di satu masyarakat bisa menjadi pelanggaran serius di masyarakat lain, dan ini sering kali luput dari pemahaman mesin,” jelas Luciano.

Lebih jauh, para ahli sepakat bahwa AI tidak dapat menggantikan relasi manusia yang sesungguhnya. Hubungan emosional, kepercayaan, dan ikatan sosial dibangun melalui pengalaman, kehadiran fisik, serta interaksi emosional yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma.
 

Baca Juga :

AI Dorong Lahirnya Miliarder Baru, Siapa yang Paling Diuntungkan?-Melek Teknologi

Meski demikian, AI tetap dipandang sebagai alat yang sangat berguna untuk membantu kehidupan manusia. Para pakar menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti peran manusia. Keseimbangan antara inovasi dan nilai kemanusiaan dinilai menjadi kunci agar perkembangan AI tetap membawa manfaat, bukan justru menciptakan ketergantungan berlebihan.

Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan buatan, tetapi juga oleh kebijaksanaan, empati, dan tanggung jawab manusia dalam menggunakannya.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Calista Vanis)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
GPI Papua Diaspora Pala-Pala: 2026 Jadi Momentum Penguatan Pelayanan Perpri
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Gagal ke Final, Rachel/Febi Tumbang di Tangan Pasangan Jepang di Semifinal Indonesia Masters 2026
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Haul Akbar Al Fitrah di Surabaya Diikuti Ratusan Ribu Jemaah, Temasuk dari Malaysia hingga Mesir
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Korban Pesawat ATR 42-500 Dapat Kenaikan Pangkat
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Dari Penonton Jadi Finalis, Alwi Farhan Ukir Kisah di Indonesia Masters 2026
• 16 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.