Setelah Dua Tahun Terhenti, Pembangkit Listrik Gaza Bersiap Aktif

republika.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza diperkirakan segera kembali beroperasi setelah terhenti lebih dari dua tahun akibat agresi Israel dan blokade berkepanjangan. Hal itu dikatakan Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza, Sabtu (24/1/2026).

“Kepada rakyat Jalur Gaza, kami menyampaikan kabar baik bahwa telah ada kepastian dan kesiapan bagi pembangkit listrik untuk kembali beroperasi,” ujar Ali Shaath melalui unggahan di media sosial Facebook.

Baca Juga
  • Petani Indramayu Pasang Listrik Jebakan Tikus di Sawah, Bupati: Jangankan Manusia, Kerbau Saja Mati
  • Ingin Menunaikan Utang Puasa bagi Orang Tua yang Sudah Meninggal? Begini Ketentuannya
  • Hadapi Disrupsi AI, Ketua PP Muhammadiyah Dorong Transformasi AUM dan Advokasi

Ia menambahkan, selain menjajaki kerja sama dengan pihak internasional terkait pengembangan energi surya, pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan penyedia listrik guna memulihkan pasokan listrik secepat mungkin.

Namun demikian, Shaath belum merinci mekanisme pemulihan listrik, tahapan teknis yang akan ditempuh, maupun jadwal pasti dimulainya kembali operasional pembangkit tersebut.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023, pasokan listrik ke Gaza dihentikan. Masuknya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik juga diblokade, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober tahun lalu.

Sebelum agresi tersebut, ketersediaan listrik di Jalur Gaza diperkirakan hanya sekitar 212 megawatt, atau kurang dari separuh kebutuhan sekitar 500 megawatt untuk memastikan pasokan listrik selama 24 jam.

Krisis listrik telah menimbulkan dampak luas di seluruh wilayah Jalur Gaza, terutama terhadap layanan vital, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Selama lebih dari dua tahun konflik, Israel juga dilaporkan menargetkan infrastruktur kelistrikan Gaza. Kantor Media Gaza mencatat sekitar 5.080 kilometer jaringan listrik serta 2.285 trafo distribusi listrik—baik di atas maupun di bawah tanah—mengalami kerusakan.

Total kerugian sektor kelistrikan Gaza diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar dolar AS atau setara Rp23,2 triliun.

 

 

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : ANTARA
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kejutan Bryan Ruiz Tumbangkan Raksasa Italia
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
AS Dihantam Malapetaka, Warga Hidup Tanpa Listrik-Penerbangan Lumpuh
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polda Jabar: 16 kantong jenazah korban longsor Cisarua sudah ditemukan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Isi Permintaan Maaf Lengkap Insanul Fahmi ke Wardatina Mawa
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Sentra Kloset-Wastafel Bekas di Manggarai: Harga Miring, Tiap Hari Ada Pembeli
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.