REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Para komandan militer senior Iran menegaskan pentingnya persatuan di antara angkatan bersenjata dan menyatakan kesiapan mempertahankan negara “hingga titik darah penghabisan” di tengah apa yang mereka sebut sebagai ancaman potensi serangan Amerika Serikat (AS). Menurut kantor berita Fars, Komandan Pasukan Darat Angkatan Darat Iran, Ali Jahanshahi, mengatakan persatuan internal militer merupakan kunci untuk menghadapi ancaman eksternal.
“Persatuan di antara angkatan bersenjata adalah kunci untuk menggagalkan musuh dalam situasi krisis,” kata Jahanshahi. “Angkatan bersenjata harus bertindak sebagai satu kesatuan agar musuh merasa tidak berdaya saat menghadapinya.”
- Menlu Turki: Israel sedang Cari Kesempatan untuk Menyerang Iran
- Kapal Induk AS Menuju Iran, Bagaimana Respons China?
- Filsuf Prancis yang Prediksi Jatuhnya Soviet Ini Dukung Iran Punya Senjata Nuklir
Ia menyatakan Pasukan Darat Angkatan Darat akan berdiri bersama Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mempertahankan Iran, seraya menegaskan bahwa tidak ada pengorbanan yang akan dihindari demi melindungi wilayah negara.
Dalam pernyataan terpisah, Komandan Pasukan Darat Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Mohammad Karami juga menekankan pentingnya soliditas, dengan mengatakan bahwa persatuan di antara angkatan bersenjata Iran telah menggagalkan rencana musuh.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Sinergi yang ada di antara angkatan bersenjata merupakan aset berharga yang harus dijaga dan diperkuat dengan sungguh-sungguh,” kata Karami.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan akibat kekhawatiran di Israel bahwa Iran dapat melancarkan serangan pendahuluan, serta kekhawatiran bahwa Teheran sendiri berpotensi menjadi sasaran serangan militer AS, lapor Channel 12 Israel pada Jumat.
Laporan itu menyebutkan AS terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Tekanan terhadap Iran dari AS dan Israel meningkat sejak akhir Desember 2025, ketika aksi protes merebak di berbagai wilayah negara itu akibat memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Teheran menuduh Washington menggunakan sanksi, tekanan politik, dan kerusuhan domestik sebagai dalih untuk intervensi militer dan perubahan rezim.
A post shared by Republika Online (@republikaonline)




