Kenapa Waktu Terasa Begitu Cepat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Pernahkah Anda merasa hari baru saja dimulai, tetapi tiba-tiba sudah malam? Minggu terasa singkat, bulan berlalu tanpa terasa, bahkan tahun berganti seolah tanpa jeda. Fenomena ini membuat banyak orang bertanya, kenapa waktu terasa lebih cepat, padahal jumlah jam dalam sehari tidak pernah berubah?

Dalam kajian psikologi dan ilmu kognitif, waktu tidak semata-mata dipahami sebagai ukuran objektif yang dihitung melalui jam dan kalender, tetapi sebagai pengalaman subjektif yang dipengaruhi emosi, rutinitas, dan interaksi sosial. Persepsi inilah yang membuat sebagian orang merasa waktu cepat berlalu, sementara yang lain justru merasakannya lambat dan melelahkan.

Mengapa Waktu Terasa Berlalu Cepat?

Secara ilmiah, persepsi bahwa waktu terasa berlalu begitu cepat berkaitan erat dengan mekanisme otak manusia dalam memproses dan menyimpan pengalaman. Ahli neurosains David Eagleman menjelaskan bahwa otak tidak merekam waktu secara langsung, melainkan menyimpulkan durasi berdasarkan jumlah dan intensitas peristiwa yang dialami.

Ketika seseorang menjalani hari dengan aktivitas padat dan fokus tinggi, otak tidak sempat “menghitung” waktu. Hasilnya, saat menoleh ke belakang, hari tersebut terasa singkat. Sebaliknya, saat menunggu atau bosan, perhatian tertuju pada waktu itu sendiri sehingga durasinya terasa lebih lama.

Fenomena ini sejalan dengan teori atensi dalam psikologi: semakin besar keterlibatan pada aktivitas, semakin sedikit perhatian terhadap waktu. Karena itu, waktu terasa cepat saat kita tenggelam dalam pekerjaan, hobi, atau percakapan yang menyenangkan.

Selain perhatian, rutinitas juga menjadi faktor penting dalam persepsi waktu. William James, tokoh psikologi dari University of Kansas, menyebutkan bahwa otak cenderung mengaburkan periode yang monoton. Aktivitas berulang dari hari ke hari jarang meninggalkan memori baru yang menandai perjalanan waktu.

Baca Juga

  • Cerita di Balik Medali, Ketika Negara Memeluk Para Atlet SEA Games 2025
  • Mengenal Unsur dan Prinsip Seni Rupa sebagai Dasar Karya Seni Rupa
  • Kalender Jawa Januari 2026 Lengkap dengan Weton dan Neptu

Akibatnya, ketika melihat kembali ke masa lalu, minggu atau bulan terasa berlalu cepat karena sedikit momen yang diingat secara signifikan. Inilah sebabnya banyak orang merasa satu tahun berganti begitu cepat, meski setiap hari tampak biasa saja.

Pengaruh Usia Terhadap Persepsi Waktu

Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah kenapa waktu terasa lebih cepat ketika seseorang bertambah dewasa?. Fenomena ini berkaitan dengan proporsi pengalaman hidup yang telah dilewati seseorang. Semakin tua, satu tahun mewakili bagian kecil dari keseluruhan hidup sehingga terasa singkat.

Adrian Bejan dari Duke University menambahkan bahwa kecepatan pemrosesan visual dan kognitif menurun seiring usia, sehingga orang dewasa memproses lebih sedikit rangsangan baru. Ditambah minimnya pengalaman pertama atau novelty, hidup dewasa sering dijalani dalam pola yang berulang, membuat waktu terasa lebih cepat dibanding masa kanak-kanak yang penuh “pengalaman pertama”.

Kenapa Waktu Terasa Lebih Cepat Jika Bersama Seseorang?

Banyak orang juga merasakan bahwa waktu terasa lebih cepat jika bersama seseorang, terutama dengan orang yang memiliki kedekatan emosional. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui peran emosi positif dan kualitas interaksi sosial.

Psikolog sosial Arthur Aron menjelaskan bahwa interaksi yang melibatkan empati, keterbukaan, dan perhatian timbal balik meningkatkan keterlibatan kognitif. Ketika perhatian terfokus pada percakapan dan emosi, kesadaran terhadap waktu menurun.

Ini berarti, momen kebersamaan yang menyenangkan menciptakan pengalaman emosional yang kuat. Saat momen berlangsung, waktu terasa singkat. Namun ketika dikenang, momen tersebut justru terasa bermakna dan berkesan.

Makna Persepsi Waktu yang Terasa Singkat

Lalu, apa artinya jika merasa waktu lebih cepat dalam kehidupan sehari-hari? Dari perspektif psikologi positif, hal ini sering dikaitkan dengan keterlibatan penuh dalam aktivitas bermakna. Mihaly Csikszentmihalyi menjelaskan konsep flow, yaitu kondisi ketika seseorang larut dalam kegiatan sehingga kehilangan kesadaran akan berjalannya waktu.

Namun, persepsi waktu yang cepat tidak selalu positif. Bisa menjadi tanda kehidupan terlalu rutin dan berjalan otomatis, di mana hari-hari berlalu tanpa meninggalkan jejak emosional kuat.

Dengan kata lain, waktu yang terasa cepat bisa mencerminkan kepuasan dan keterlibatan hidup, sekaligus menjadi pengingat untuk lebih sadar dan menikmati setiap momen. Menyadari hal ini memungkinkan kita untuk merancang kehidupan yang lebih bermakna, penuh pengalaman baru, dan tidak sekadar terjebak dalam rutinitas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Satu Keluarga Korban Longsor Cisarua Bandung Ditemukan Berpelukan
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Prediksi Skor Juventus vs Napoli: Head to Head, Susunan Pemain
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Pesan WEF Davos 2026: Stabilitas dan Pertumbuhan harus Memberi Manfaat Konkret Bagi Masyarakat
• 22 jam laludisway.id
thumb
Harga Emas Antam Sepekan, Berat 1 Gram Naik Rp184.000
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Kontingen Indonesia Lampaui Target 82 Emas di Hari Keempat ASEAN Para Games 2025
• 22 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.