KUPANG, KOMPAS - Pencarian korban longsor di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung. Pencarian menggunakan alat seadanya seperti cangkul, sekop, dan linggis lantaran tak ada ekskavator.
Minggu (25/1/2026) ini merupakan hari keempat proses pencarian sejak kejadian longsor pada Kamis (22/1/2026) petang. Dua korban hilang belum ditemukan. Keduanya diduga berada di bawah timbunan material yang tebal. Ada batu, kayu, dan tanah.
Edi Laros, perwakilan tim pencarian dan pertolongan (SAR) lewat sambungan telepon pada Sabtu (24/1/2026) malam mengatakan, petugas terus mencari dengan alat seadanya. Mereka menggunakan cangkul, linggis, sekop, dan alat-alat lainnya. Pencairan berlangsung di tengah kondisi cuaca buruk.
Ia mengaku belum mengetahui rencana pengiriman ekskavator ke lokasi bencana. Kehadiran ekskavator menjadi urusan pemerintahan daerah atau badan penanggulangan bencana. Tugas SAR gabungan adalah melakukan pencarian dan pertolongan.
Lokasi longsor dapat diakses kendaraan. Dalam catatan penanggulangan di sejumlah daerah, ekskavator selalu digunakan untuk mencari korban hilang di bawah timbunan material. Ekskavator sudah ada di lokasi paling lama 24 jam setelah kejadian.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur Anton Dergon belum merespons pertanyaan seputar proses pencairan yang membutuhkan ekskavator. Beredar informasi, tidak ada bahan bakar untuk menggerakkan kendaraan berat itu.
Serial Artikel
Bersiaplah bila ”Seroja” Datang Lagi ke Pesisir Nusa Tenggara
Badai Seroja meninggalkan trauma mendalam bagi warga NTT. Banyak warga mulai melakukan gerakan mitigasi mandiri. Sayangnya, belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk menghadapi kemungkinan bencana itu datang lagi.
Seperti diberitakan sebelumnya, longsor yang terjadi pada Kamis (22/1) itu dipicu hujan deras. Longsoran tanah menimpa rumah warga atas nama Kongradus Lasa. Beberapa orang berada di dalam rumah tersebut.
Satu korban tewas, dua hilang, dan satu lagi dalam perawatan. Korban tewas dimaksud sebelumnya sempat tertimbun. Setelah dievakuasi ke puskesmas, nyawanya tidak tertolong.
Selain itu, 227 warga lain kini terancam. Mereka sudah dievakuasi mengingatkan di permukiman desa itu terdapat banyak titik rawan longsor. Topografi berupa perbukitan. Alih fungsi lahan diduga menjadi penyebab longsor.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot'ek mengatakan, cuaca ekstrem itu dipicu oleh pergerakan Bibit Siklon Tropis 91S di selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sisi barat wilayah NTT seperti Manggarai Timur, terdampak.
Di wilayah itu terbentuk belokan, pertemuan, dan perlambatan kecepatan angin. Akibatnya, hujan deras disertai petir dan angin kencang terjadi dalam durasi singkat. Bencana hidrometeorologi pun mengintai. Masyarakat diminta waspada.
Sementara itu, Polda NTT mengirim anggota Satuan Brimob Polda NTT ke lokasi bencana. Total ada 13 personel di bawah Komandan Kompi 2 Batalyon B Pelopor Inspektur Satu Soleman Welem Talo. "Ini adalah bagian dari misi kemanusiaan," ujar Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra.
Menurut Henry, upaya pencarian korban menghadapi sejumlah kendala. Kendala itu di antaranya hujan deras disertai kabut tebal dan kondisi tanah yang masih labil. Selain itu, belum ada alat berat, sementara jaringan listrik dan internet di lokasi bencana terputus.
Serial Artikel
Longsor di Manggarai Timur, Satu Tewas dan Dua Hilang
Bibit siklon tropis 91S terpantau di selatan wilayah NTT dan NTB. Hal itu ikut memicu terjadinya cuaca ekstrem yang rawan memakan korban jiwa.




