Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Yogyakarta
Pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan agar mampu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua yang digelar di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, Sabtu, 24 Januari 2026.
Dalam forum yang diikuti sekitar 800 alumni UNY secara luring dan daring itu, Mendikdasmen menekankan pentingnya penguasaan kompetensi digital yang dibarengi dengan keadaban digital.
“Kecerdasan artifisial telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Namun, penguasaan teknologi harus diiringi dengan etika. Tanpa keadaban digital, pemanfaatan AI justru bisa menimbulkan persoalan sosial baru,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menjelaskan, perkembangan AI telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, riset, hingga dunia kerja. Sejumlah kajian global menunjukkan bahwa AI memang berpotensi menggantikan sebagian jenis pekerjaan, namun di saat yang sama juga membuka peluang baru.
“Yang akan terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Sebaliknya, mereka yang mampu memanfaatkannya akan menjadi lebih berdaya. Karena itu, pendidikan memiliki peran strategis agar generasi muda tidak tertinggal,” tegasnya.
Menurut Mendikdasmen, tantangan utama dalam pemanfaatan AI terletak pada akurasi dan etika data. AI bekerja dengan menghimpun informasi yang diunggah manusia, sehingga kualitas keluaran sangat bergantung pada kebenaran sumber datanya.
“AI bisa sangat cerdas, tetapi tidak memiliki hati dan kesadaran moral. Karena itu, tanggung jawab manusialah untuk memastikan informasi yang diproduksi dan disebarkan melalui AI adalah benar dan baik,”jelasnya.
Ia juga menyoroti maraknya manipulasi digital, seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi yang berpotensi merusak reputasi individu. Di tengah budaya scroll society, masyarakat kerap mengonsumsi informasi secara cepat dan dangkal sehingga mudah terpengaruh konten menyesatkan.
“Literasi digital, etika, dan tata krama bermedia harus menjadi bagian penting dalam pendidikan kita,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen telah mulai mengintegrasikan pembelajaran AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, dimulai dari kelas V sekolah dasar. Kebijakan ini diterapkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan.
“Kami memulainya sebagai mata pelajaran pilihan karena guru perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Ke depan bisa diperluas. Yang terpenting, anak-anak tidak hanya memahami teknologinya, tetapi juga nilai dan etika dalam penggunaannya,”ucapnya.
Ia menegaskan, pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama, termasuk dalam pembelajaran berbasis teknologi. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.
“AI harus menjadi alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Pendidikan Indonesia harus adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berpijak pada nilai, karakter, dan keadaban,”pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





