Alat berat mulai diturunkan untuk mencari warga yang tertimbun di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). Namun, masih muncul pergerakan tanah susulan yang membuat tim pencarian harus ekstra berhati-hati.
Naik… naik… naik. Air… air… air…
Satu per satu tim pencarian naik dari lokasi pencarian di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Jawa Barat. Kabar adanya longsor dan banjir bandang susulan dari mahkota longsor membuat pencarian dihentikan sementara sekitar pukul 10.00 WIB. Aliran sungai kecil juga terbentuk pascalongsor.
Dua alat berat yang diturunkan sejam sebelumnya juga harus naik ke tempat yang lebih tinggi. Semua pihak ingin memastikan kondisi lokasi bencana benar-benar aman sebelum pencarian dilanjutkan.
Rizal, salah satu relawan, menjadi salah satu yang naik ke tempat lebih tinggi. Ia mengatakan tidak ingin mengambil risiko. Ketaatan pada tata prosedur pencarian harus dilakukan agar tidak muncul korban lain saat proses pencarian.
“Sejam dicari belum ada korban baru, tapi memang sudah tercium bau di lokasi bekas permukiman,” kata Rizal sembari membawa pacul yang masih belepotan lumpur basah.
Selain potensi bencana susulan, proses pencarian diperkirakan tidak akan mudah. Timbunan lumpur mencapai 1,5–2 meter. Kondisi ini membuat alat berat sangat diandalkan untuk mengeruk material lumpur.
Dadang, warga Kampung Pasir Kuda yang ikut mencari, mengatakan, saat atap rumah tidak terlihat lagi, ketebalan lumpur diperkirakan mencapai 1,5–2 meter. Selain dari hulu, lumpur diduga runtuh dari sisi kanan dan kiri yang sebelumnya merupakan kebun yang ditanami tomat.
“Sejauh ini belum ditemukan korban baru,” kata dia.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Hendra Rochmawan mengatakan, dari total 10 kantong jenazah yang diterima, sebanyak enam kantong telah berhasil diidentifikasi.
“Enam kantong jenazah yang teridentifikasi terdiri dari lima jenazah utuh dan satu bagian tubuh. Sementara empat kantong lainnya masih dalam proses identifikasi,” kata dia.
Menurut Hendra, seluruh proses identifikasi dilakukan dengan mengedepankan standar prosedur operasional yang ketat, melibatkan tenaga medis, forensik, serta dukungan teknologi untuk memastikan keakuratan data korban.


/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F01%2F04%2F9264d6aa-8c54-497e-a963-4538873256a1_jpg.jpg)