Bisnis.com, JAKARTA — PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) telah merealisasikan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp1,29 triliun hingga 31 Desember 2025, dari total dana bersih IPO yang mencapai Rp2,73 triliun .
Berdasarkan laporan terbarunya yang dikutip Minggu (25/1/2026), SUPA memperoleh dana IPO dengan nilai bruto sebesar Rp2,79 triliun, dengan total biaya penawaran umum mencapai Rp67,43 miliar, sehingga dana bersih yang diterima perseroan tercatat sebesar Rp2,73 triliun .
Seluruh dana bersih IPO tersebut sejak awal direncanakan untuk dua pos utama, yakni modal kerja dalam rangka penyaluran kredit serta belanja modal (capital expenditure/CAPEX).
Hingga akhir 2025, realisasi penggunaan dana difokuskan sepenuhnya untuk penyaluran kredit dengan nilai mencapai Rp1,29 triliun, sementara alokasi belanja modal belum direalisasikan .
Dengan demikian, SUPA masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp1,44 triliun. Dana tersebut ditempatkan pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) dengan imbal hasil sebesar 3,75% overnight .
Adapun IPO SUPA telah efektif pada 17 Desember 2025. Manajemen menyampaikan revisi laporan ini dilakukan untuk memenuhi ketentuan POJK No. 30/POJK.04/2015 serta peraturan BEI terkait kewajiban penyampaian informasi.
Baca Juga
- Sebulan Lebih Pasca IPO, Cek Performa Saham Bank Digital Emtek-Grab Superbank (SUPA)
- Grab Tambah Kepemilikan Saham Superbank (SUPA)
- Anak Usaha Emtek (EMTK) Beli 28,31 Juta Saham Superbank (SUPA)
Menurut prospektus IPO, Superbank berencana menggunakan dana hasil IPO sebesar 70% untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit perseroan.
Sisanya sekitar 30% dana hasil penawaran umum untuk belanja modal dalam rangka kegiatan usaha perseroan, termasuk namun tidak terbatas pengembangan produk pada pengembangan teknologi informasi yang mendukung pertumbuhan usaha.
Kinerja Saham Sebulan Pasca IPOAdapun saham PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) mencatatkan kinerja positif lebih dari satu bulan setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada 17 Desember 2025.
Hingga perdagangan Selasa (21/1/2026) pukul 14.13 WIB, saham SUPA berada di level Rp1.130 per saham. Secara year to date (YtD), saham bank digital ini telah menguat 22,16% atau naik Rp205 dibandingkan dengan posisi awal tahun.
Dalam periode satu bulan terakhir, pergerakan saham SUPA juga menunjukkan tren penguatan meskipun disertai volatilitas. Berdasarkan data perdagangan, saham SUPA tercatat naik 7,14% atau sekitar Rp75 dalam sebulan terakhir.
Pada awal Januari 2026, harga saham sempat bergerak di kisaran Rp900–Rp1.000 per saham sebelum melonjak ke area Rp1.200 pada pekan pertama Januari.
Setelah itu, saham SUPA mengalami koreksi teknikal dan bergerak fluktuatif, tetapi bertahan di atas level psikologis Rp1.100 hingga saat ini.
Sementara itu, pada perdagangan harian Selasa (21/1/2026), saham SUPA terpantau melemah 2,16% atau turun Rp25 ke posisi Rp1.130 per saham. Saham dibuka di level Rp1.155, dengan harga tertinggi di Rp1.170 dan terendah Rp1.120 per saham.
Kendati terkoreksi secara harian, posisi harga saham SUPA masih mencerminkan penguatan signifikan dibandingkan dengan masa awal pasca-IPO, dengan rentang pergerakan 52 minggu berada di kisaran Rp790 hingga Rp1.350 per saham. Adapun, kapitalisasi pasar alias market cap Superbank tercatat sebesar Rp35,26 triliun.





