Keluhan soal rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sering terdengar. Data demi data dikutip untuk menegaskan bahwa budaya membaca kita tertinggal. Namun, di tengah gempuran layar ponsel dan media sosial, pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat masih membaca, melainkan apa yang mereka baca.
Setiap hari, jutaan orang menghabiskan waktu membaca—judul berita, utas media sosial, komentar, hingga pesan singkat. Aktivitas membaca tidak benar-benar hilang, tetapi terfragmentasi. Teks-teks pendek lebih dominan, sementara bacaan panjang makin jarang disentuh.
Perubahan ini sering dianggap kemunduran. Padahal, ia lebih tepat dibaca sebagai pergeseran pola. Teknologi mengubah cara orang mengakses informasi, bukan menghapus kebutuhan akan pengetahuan. Tantangannya adalah bagaimana mengarahkan kebiasaan membaca cepat menjadi kebiasaan membaca bermakna.
Sayangnya, respons yang muncul sering normatif: imbauan membaca buku cetak atau kampanye literasi yang tidak menyentuh realitas digital. Anak muda diminta membaca lebih banyak, tetapi tidak diajak memahami bagaimana memilih bacaan yang kredibel di tengah banjir informasi.
Literasi hari ini tidak cukup diukur dari jumlah buku yang dibaca, tetapi dari kemampuan menyaring, memahami, dan mengkritisi isi bacaan. Membaca satu artikel mendalam dengan penuh pemahaman bisa lebih bernilai daripada menamatkan banyak teks tanpa refleksi.
Platform digital sebenarnya membuka peluang besar. Artikel panjang, esai, dan buku elektronik semakin mudah diakses. Namun, tanpa pembiasaan dan contoh, konten-konten tersebut akan tenggelam oleh arus informasi instan yang lebih menggoda.
Pendidikan dan media memiliki peran penting dalam transisi ini. Literasi perlu dipahami sebagai keterampilan hidup, bukan kewajiban akademik. Ketika membaca diposisikan sebagai kebutuhan, bukan beban, minat itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Budaya baca kita tidak mati. Ia sedang mencari bentuk baru. Tugas kita bukan meratapinya, tetapi menuntunnya ke arah yang lebih bernilai.




