Belajar dari Pinggiran: Catatan Kecil tentang Pendidikan Kita

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan sering dibicarakan dari pusat. Dari ruang rapat berpendingin, dari laporan statistik, dari angka-angka yang tampak rapi dalam presentasi. Namun, di luar pusat-pusat itu—di tempat yang jarang disorot kamera dan tidak ramai dalam perdebatan—pendidikan tetap berlangsung dengan cara yang jauh lebih sederhana, bahkan kadang senyap. Dari pinggiran inilah, kita justru bisa belajar banyak tentang wajah pendidikan kita yang sesungguhnya.

Di banyak daerah, sekolah bukan sekadar bangunan. Ia adalah harapan yang dijaga bersama. Kadang berdiri dengan fasilitas terbatas, guru yang jumlahnya pas-pasan, dan akses yang tidak selalu mudah. Namun, di sanalah proses belajar tetap berjalan. Anak-anak datang dengan seragam yang mungkin tidak selalu baru, membawa semangat yang sering kali lebih besar daripada kelengkapan sarana yang mereka miliki. Mereka belajar bukan karena fasilitas sempurna, melainkan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk masa depan yang lebih baik.

Dari pinggiran, kita belajar bahwa pendidikan tidak selalu soal kurikulum yang mutakhir atau teknologi yang canggih. Pendidikan juga tentang relasi manusia: antara guru dan murid, antara sekolah dan masyarakat, antara harapan dan kenyataan. Seorang guru di daerah terpencil sering kali tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendengar, pembimbing, bahkan teladan hidup. Ia mengajarkan lebih dari sekadar mata pelajaran; ia mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bermimpi.

Namun, belajar dari pinggiran juga berarti berani melihat keterbatasan dengan jujur. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas. Jarak tempuh yang jauh, keterbatasan ekonomi keluarga, hingga minimnya dukungan infrastruktur masih menjadi kenyataan di banyak tempat. Tantangan ini tidak selalu tampak dalam grafik nasional, tetapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Yang menarik, di tengah keterbatasan itu, sering muncul kreativitas yang tidak terduga. Sekolah memanfaatkan ruang seadanya, guru menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi lokal, dan masyarakat ikut berperan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Dari sini, kita bisa melihat bahwa pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang mampu beradaptasi dengan konteks sosial dan budaya setempat. Ia tidak seragam, tetapi relevan.

Belajar dari pinggiran juga mengajarkan kita tentang makna partisipasi. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika orang tua, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitar ikut terlibat, pendidikan menjadi lebih berakar. Anak-anak tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, dan pengalaman komunitas menjadi bagian dari proses belajar yang utuh.

Di sisi lain, pengalaman dari pinggiran mengingatkan kita agar tidak terlalu cepat mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari capaian angka. Nilai ujian, peringkat, dan indeks memang penting, tetapi tidak selalu mencerminkan keseluruhan proses. Ada keberhasilan yang tidak mudah diukur, seperti tumbuhnya rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Semua itu sering kali justru berkembang dengan kuat di sekolah-sekolah yang dekat dengan komunitasnya.

Tentu, belajar dari pinggiran bukan berarti menormalisasi keterbatasan. Justru sebaliknya, pengalaman ini seharusnya menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan yang lebih peka dan inklusif. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menjangkau semua, tanpa memaksakan satu model yang sama untuk kondisi yang berbeda. Fleksibilitas dan pemahaman konteks menjadi kunci agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas.

Pendidikan kita akan lebih kuat jika mau mendengar suara-suara kecil yang jarang terdengar. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk memahami. Bukan untuk membandingkan, tetapi untuk memperbaiki. Dari pinggiran, kita belajar bahwa pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Ia tidak selalu menghasilkan perubahan instan, tetapi membentuk fondasi jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, belajar dari pinggiran adalah ajakan untuk melihat pendidikan dengan sudut pandang yang lebih manusiawi. Pendidikan bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan proses memanusiakan manusia. Ketika kita mampu menghargai setiap upaya kecil yang dilakukan di berbagai sudut negeri, kita sedang merawat masa depan bersama.

Catatan ini mungkin kecil dan sederhana, tetapi ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar berada di pinggiran. Ia selalu berada di pusat kehidupan manusia. Dan dari sanalah, kita seharusnya memulai setiap pembicaraan tentang pendidikan kita.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hasil Liga Inggris: Drama Gol Menit Akhir, Liverpool Ditekuk Bournemouth
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil UFC 324: Hantam Paddy Pimblett Hingga Berdarah-darah, Justin Gaethje Raih Gelar Juara Interim Kelas Ringan
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
KKP beri kenaikan pangkat anumerta untuk ASN korban kecelakaan ATR
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Tiga Jenazah Pegawai KKP Korban ATR 42-500 Dilepas Secara Kedinasan
• 6 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Masters: Tumbangkan Wakil Thailand, Chen Yu Fei Juara
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.