Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI) optimistis industri peralatan listrik nasional masih mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun ini, meski dihadapkan pada kebijakan tarif impor sebesar 19% ke Amerika Serikat.
Optimisme tersebut didorong oleh kondisi persaingan global yang dinilai masih relatif seimbang, serta prospek permintaan domestik yang terus meningkat seiring dengan berbagai proyek strategis di sektor ketenagalistrikan dan industri nasional.
Ketua Umum APPI Yohanes Purnawan Widjaja menilai, kebijakan tarif impor ke AS tidak menjadi hambatan utama bagi produk peralatan listrik asal Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar internasional.
“Tarif 19% tersebut tidak hanya berlaku untuk Indonesia, tetapi di kenakan juga ke negara lain sehingga produk Indonesia tetap dapat bersaing dengan negara produsen lainnya seperti Vietnam, Thailand dan negara Asia lainnya," kata Yohanes kepada Bisnis, dikutip Minggu (25/1/2025).
Tak dipungkiri, AS menjadi salah satu pasar potensial untuk produk alat listrik Indonesia. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor produk peralatan listrik (kode HS 85) dari Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$4,18 miliar pada 2024 atau naik dari tahun sebelumnya US$3,45 miliar.
Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku usaha peralatan listrik mendapat kesempatan ekspor ke AS serta beberapa negara lainnya untuk produk Transformator Tenaga, Transformator Distribusi, Panel Listrik Tegangan Menengah, Panel Listrik Tegangan Rendah, Meter Listrik (kWh Meter).
Baca Juga
- Produsen Alat Listrik Sebut Aturan Baru TKDN jadi Angin Segar untuk Industri
- Tarif Trump untuk Tembaga 50%, Produsen Alat Listrik Tunggu Aturan Resmi
- Industri Alat Listrik Sebut TKDN Jadi Proteksi RI dari Ancaman Tarif Trump
Dari sisi domestik, prospek industri peralatan listrik pada tahun ini dinilai cukup cerah dengan merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang telah diterbitkan pemerintah.
Dalam dokumen tersebut, PLN diproyeksikan menambah sekitar 3 juta pelanggan baru setiap tahun, disertai pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk dalam skala besar yang membutuhkan pasokan peralatan listrik secara berkelanjutan.
Selain proyek PLN, APPI juga melihat peluang besar dari rencana pemerintah meluncurkan berbagai proyek hilirisasi, termasuk yang dikelola melalui Danantara, yang dipastikan membutuhkan pasokan energi listrik dalam jumlah besar.
"Di tambah saat ini banyak investor asing yang masuk ke Indonesia untuk membangun Data Center yang juga akan membutuhkan tenaga listrik yang sangat besar,” jelasnya.
Dengan berbagai peluang tersebut, APPI menargetkan pertumbuhan industri peralatan listrik dapat melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok sebesar 5,4% pada 2026.
Yohanes menyebut, industri peralatan listrik menargetkan pertumbuhan minimal 20% tahun ini, namun menekankan pentingnya dukungan pembiayaan, khususnya terkait ketersediaan modal dengan bunga pinjaman yang lebih terjangkau.
“Kami menargetkan bisa tumbuh minimal 20% sehingga yang kami sangat butuhkan adalah ketersediaan modal dengan biaya bunga pinjaman yang murah karena saat ini biaya bunga bank masih terlalu tinggi untuk kami,” pungkasnya.





