JAKARTA, KOMPAS – Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa pemulihan populasi ikan terumbu karang berpotensi meningkatkan produksi makanan laut berkelanjutan hingga hampir 50 persen. Kondisi ini pun dapat membantu meningkatkan program ketahanan pangan dan mengatasi masalah kelaparan bagi jutaan orang di berbagai negara.
Studi tersebut dipimpin oleh tim peneliti dari Smithsonian Tropical Research Institute (STRI), Panama, yang meneliti kondisi perikanan terumbu karang di berbagai belahan dunia. Hasil riset menunjukkan bahwa sebagian besar stok ikan karang saat ini berada jauh di bawah kapasitas alaminya akibat penangkapan ikan berlebihan.
Peneliti menilai terumbu karang dapat menjadi sumber pangan penting yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini bisa terwujud jika mengurangi tekanan terhadap penangkapan ikan dan memperbaiki pengelolaan perikanan secara keseluruhan.
Pembangunan kembali populasi ikan karang dapat berdampak langsung pada peningkatan gizi dan pengurangan kelaparan.
Jessica Zamborain-Mason, profesor di King Abdullah University of Science and Technology sekaligus penulis utama studi tersebut menyampaikan, studi ini mengkaji besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh penangkapan ikan berlebihan terhadap ketersediaan pangan.
“Studi kami mengukur kerugian nyata akibat penangkapan ikan berlebihan terhadap penyediaan pangan, sekaligus menunjukkan keuntungan yang bisa diperoleh jika stok ikan karang dibangun kembali dan dikelola secara berkelanjutan,” ujar Zamborain-Mason seperti dikutip dari situs resmi STRI, Minggu (25/1/2026).
Hasil studi yang diterbitkan di jurnal PNAS pada Desember 2025 tersebut memperkirakan produksi ikan berkelanjutan dapat meningkat hingga hampir 50 persen. Peningkatan ini dapat terjadi jika pengelolaan perikanan dilakukan secara lebih ketat.
Secara kuantitatif, pemulihan stok ikan karang berpotensi menghasilkan tambahan 20.000 hingga 162 juta porsi ikan per negara setiap tahun. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jutaan orang di berbagai negara, termasuk yang menderita kelaparan.
Rekomendasi konsumsi makanan laut yang digunakan dalam studi ini adalah sekitar delapan ons ikan per orang per minggu. Angka tersebut dinilai masih berada dalam batas keberlanjutan ekosistem.
Manfaat terbesar dari pemulihan perikanan karang diperkirakan dirasakan negara-negara dengan tingkat kelaparan dan kekurangan mikronutrien yang tinggi. Wilayah Afrika dan Asia Tenggara menjadi kawasan paling diuntungkan dari pemulihan perikanan karang ini.
Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan potensi peningkatan pasokan pangan terbesar. Hal ini karena Indonesia merupakan pusat keanekaragaman terumbu karang dunia yang menjadi tempat hidup lebih dari 750 jenis karang atau sekitar 18 persen dari total terumbu karang dunia dengan luas mencapai 2,5 juta hektar.
Peneliti STRI sekaligus salah satu penulis studi tersebut, Sean Connolly, menyatakan terdapat hubungan positif antara potensi peningkatan jumlah sajian ikan di suatu negara dengan keberhasilan pemulihan stok ikan karang serta tingkat kelaparan negara tersebut.
“Negara-negara dengan indeks kekurangan gizi yang lebih tinggi justru dapat memperoleh manfaat lebih besar dari pemulihan stok ikan karang,” ujar Connolly. Dengan kata lain, pemulihan perikanan terumbu karang berpeluang memberikan manfaat nutrisi paling besar di wilayah yang paling membutuhkan.
Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti menganalisis data dari wilayah terumbu karang di seluruh dunia. Studi ini mencakup wilayah di negara-negara seperti Republik Dominika, Panama, Jamaika, Kenya, Mauritius, Oman, Madagaskar, Filipina, dan Indonesia.
Dengan menggunakan model statistik, tim peneliti memperkirakan kondisi populasi ikan terumbu karang saat ini serta memproyeksikan peningkatannya apabila perikanan yang mengalami penangkapan berlebihan dikelola secara lebih efektif. Analisis tersebut juga digunakan untuk menilai potensi produksi ikan dalam skenario pengelolaan berkelanjutan.
Para peneliti menghitung tingkat pertumbuhan stok ikan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil tangkapan berkelanjutan maksimum maupun tingkat tangkapan yang dinilai cukup baik. Berdasarkan tingkat kerusakan terumbu dan ketatnya pembatasan penangkapan, waktu pemulihan diperkirakan berkisar antara enam hingga 50 tahun.
Para peneliti menegaskan bahwa upaya memulihkan perikanan terumbu karang tidak semata bertujuan melindungi ekosistem laut. Studi ini menunjukkan bahwa pembangunan kembali populasi ikan karang dapat berdampak langsung pada peningkatan gizi dan pengurangan kelaparan.
Untuk mewujudkan manfaat tersebut, pengelolaan perikanan yang kuat dan konsisten dinilai menjadi kunci utama. Pengaturan ini diperlukan agar stok ikan memiliki ruang untuk tumbuh dan tidak terus tertekan oleh aktivitas penangkapan.
Di sejumlah wilayah, keberhasilan pemulihan juga sangat bergantung pada tersedianya mata pencaharian alternatif bagi masyarakat nelayan selama masa pembangunan kembali stok ikan. Selain itu, kerja sama lintas negara dan dukungan internasional dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan upaya tersebut.
“Temuan kami memperkuat bahwa pemantauan dan pengelolaan perikanan terumbu karang yang efektif memiliki manfaat yang substansial dan terukur di luar konservasi lingkungan. Langkah ini berimplikasi langsung terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat,” ungkap Zamborain-Mason.


