BEKASI, KOMPAS.com - Panel pemantau kualitas udara Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di Taman RW 009, Karang Tengah, Bekasi, mencatat peningkatan signifikan angka pencemaran selama dua hari berturut-turut sebelum akhirnya dimatikan pada 9 Januari 2026.
Melalui foto yang dimiliki warga menunjukkan, pada Rabu, 7 Januari 2026 pukul 20.50 WIB, panel digital menunjukkan hidrogen sulfida (H?S) sebesar 0,000 PPM, metil merkaptan (CH?S) 0,141 PPM, dan dimetil sulfida (C?H?S) 0,139 PPM.
Memasuki Kamis, 8 Januari pukul 20.13 WIB, kadar metil merkaptan meningkat menjadi 0,147 PPM, dimetil sulfida naik menjadi 0,144 PPM, dan amonia (NH?) tercatat 0,4 PPM.
Baca juga: Warga Keluhkan Bau Menyengat Sampah RDF: Bikin Pusing, Nafsu Makan Hilang
Pada Jumat, 9 Januari pukul 17.47 WIB, alat tidak lagi menampilkan angka parameter gas, melainkan menunjukkan status “kolokasi” untuk meningkatkan performa alat.
Kejadian ini menimbulkan tanda tanya bagi warga terkait transparansi pengawasan udara di sekitar Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara.
Hamas (23), salah satu warga, menuturkan alat yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta itu menampilkan angka gas berbahaya meningkat sebelum tiba-tiba mati.
Baca juga: Alat Ukur Pencemaran Udara RDF Rorotan Mati, Warga Keluhkan Bau Menyengat
“Kalau dihitung, dari tanggal 8 sampai 25, alat ukur itu tidak aktif. Jadi sudah lebih dari 20 hari. Ini membuat warga berasumsi RDF sudah beroperasi penuh, bukan sekadar uji coba,” ujar Hamas saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/1/2026).
Hamas mempertanyakan keputusan mematikan alat saat angka pencemaran meningkat.
“Tidak ada sosialisasi atau pemberitahuan ke warga soal alat itu dimatikan. Tiba-tiba saja mati. Warga juga tidak paham apa maksud ‘kolokasi’ itu,” ujar dia.
Warga lain, Nufus (28) menuturkan bau sampah dari RDF juga kian meningkat.
Baca juga: Pemprov Jakarta Pastikan RDF Rorotan Tak Cemari Pertanian dan Lingkungan
“Belakangan ini baunya semakin menyengat, jauh lebih parah dibanding awal-awal. Yang terbaru, baunya sangat menyengat dan bikin pusing,” kata Nufus.
Hamas menambahkan, banyak warga lain juga mengalami pusing, mual, dan ketidaknyamanan karena sirkulasi udara yang buruk.
Bau bahkan masuk ke dalam rumah hingga ke kamar tidur.
Hamas menegaskan, warga telah membentuk grup komunitas untuk menyuarakan keluhan mereka dan menuntut RDF ditutup.
Baca juga: Warga Perumahan JGC Demo, Protes Dampak RDF Rorotan dan Jalan Rusak
“Baunya sangat mengganggu. Bahkan tetangga yang shalat di masjid sampai terganggu. Makan pun jadi tidak nafsu. Ini jelas mengganggu kehidupan sehari-hari,” kata Hamas.
Pembangunan RDF Rorotan awalnya diharapkan menjadi solusi masalah sampah Jakarta, namun kehadirannya menimbulkan persoalan baru, terutama terkait pencemaran udara dan dampak kesehatan bagi warga sekitar.
Kompas.com telah menghubungi Humas Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta terkait kondisi alat pemantau kualitas udara, tetapi belum ada jawaban hingga berita ini dimuat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang




