Kepolisian Ceko baru-baru ini menangkap seorang pria warga negara Tiongkok yang diduga memberikan informasi intelijen kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT). Identitas pria tersebut terungkap sebagai jurnalis yang ditempatkan di Praha oleh media resmi PKT, Guangming Daily. Para akademisi memperingatkan bahwa dunia internasional perlu mewaspadai infiltrasi intelijen PKT ke berbagai negara dan sektor, dan bahwa semakin banyak negara kini telah sadar serta mulai mengambil tindakan.
EtIndonesia. Pada Kamis (22 Januari), kepolisian Ceko mengumumkan bahwa pada 17 Januari mereka telah menangkap seorang pria yang diduga bekerja untuk badan intelijen PKT. Pihak Ceko secara resmi mengajukan tuntutan pidana dengan tuduhan “melakukan aktivitas tanpa izin untuk kepentingan kekuatan asing.”
Sejumlah sumber yang mengetahui kasus ini mengungkapkan kepada media Ceko bahwa pria yang ditangkap adalah koresponden tetap Guangming Daily di Praha, bernama Yang Yiming (alih aksara). Ia telah tinggal dan bekerja di Ceko selama bertahun-tahun. Badan keamanan Ceko menuduhnya berusaha mengumpulkan informasi dari kalangan politisi Ceko.
“Kita sebenarnya tahu bahwa sebagian besar personel PKT yang ditempatkan di luar negeri—saya tidak mengatakan setiap orang, tetapi sebagian besar—memiliki peran untuk mengumpulkan intelijen bagi PKT. Ini bersifat sistemik. Siapa pun yang dikirim ke luar negeri, khususnya jurnalis, harus memikul tanggung jawab semacam itu ,” kata Wakil Ketua Aliansi Demokrasi Tiongkok Kanada, Sheng Xue.
Sejumlah analis menilai kasus ini mengingatkan publik pada insiden penguntitan dan intimidasi terhadap Wakil Presiden Republik Tiongkok (Taiwan), Hsiao Bi-khim, saat kunjungannya ke Ceko pada tahun 2024. Saat itu, mobil yang ditumpangi Hsiao dilaporkan dibuntuti oleh pihak PKT, bahkan muncul dugaan adanya rencana tabrakan yang hampir memicu kecelakaan. Dunia luar menduga Yang Yiming mungkin terlibat dalam pengumpulan intelijen atau pengawasan lingkungan.
“Ini seharusnya dilihat sebagai sinyal arah politik. Personel PKT yang ditempatkan di luar negeri—baik di kedutaan dan konsulat, dengan kedok diplomat, jurnalis, akademisi, maupun identitas lainnya—sebagian besar sebenarnya adalah mata-mata. Mereka tersebar di seluruh dunia,” kata Mantan pengacara Beijing sekaligus akademisi independen, Lai Jianping.
“Pihak Ceko kemungkinan sudah lama mengetahui hal ini. Mengapa baru sekarang ditangkap dan diumumkan? Menurut saya, ini menunjukkan sikap pemerintah Ceko terhadap rezim PKT,” tambahnya.
Undang-undang kontra-intelijen Ceko mulai berlaku secara resmi pada Februari 2025, dan Yang Yiming menjadi orang pertama yang didakwa berdasarkan undang-undang tersebut. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara hingga lima tahun.
Lai Jianping menambahkan: “Pengungkapan kasus ini akan memperkuat pemahaman masyarakat Eropa tentang PKT—bahwa rezim ini memang telah lama bertindak seperti itu, dan ke depan akan ada semakin banyak aktivitas spionase. Pemerintah negara-negara Eropa kemungkinan akan lebih serius menanggapi ancaman ini, serta mengambil langkah-langkah unilateral maupun kolektif untuk membendung infiltrasi PKT.”
Sheng Xue juga menegaskan: “Infiltrasi PKT di negara-negara demokratis sudah berlangsung selama puluhan tahun. Hampir di semua bidang—politik, ekonomi, akademik, media—ada orang-orang PKT di dalamnya.”
“Ini terjadi karena negara-negara demokrasi belum sepenuhnya menyadari bahwa PKT adalah rezim komunis yang bersifat teror negara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak negara mulai menyadari hal ini. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris, misalnya, telah menangkap mata-mata PKT di wilayah mereka,” katanya.
Hanya jika sebuah negara benar-benar memahami ancaman PKT, memiliki hukum yang jelas dan sikap yang tegas, barulah PKT akan merasa gentar, “ tambahnya.
Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing dan Li Li.





