DLH DKI: Alat Pemantau Udara RDF Rorotan Tak Dimatikan, Hanya Kalibrasi

kompas.com
23 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa alat pemantau kualitas udara di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan tidak dimatikan. 

Alat tersebut sedang menjalani proses kalibrasi atau uji kolokasi untuk memastikan akurasi data.

“Tidak benar, DLH DKI Jakarta tidak mematikan alat pemantau kualitas udara. Saat ini yang dilakukan adalah uji kolokasi, yaitu proses kalibrasi dan validasi lapangan untuk memastikan data yang dihasilkan SPKU akurat dan presisi sebelum ditafsirkan lebih lanjut,” jelas Humas DLH, Yogi Ikhwan, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/1/2026).

Baca juga: Alat Ukur Pencemaran Udara RDF Rorotan Mati, Warga Keluhkan Bau Menyengat

Sejak akhir Desember 2025, delapan unit Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) telah dipasang di sekitar RDF Rorotan.

SPKU ini dilengkapi sensor pemantauan kebauan ambien dengan parameter antara lain amoniak, hidrogen sulfida, metil merkaptan, metil sulfida, dan stirena.

Sistem ini menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus dilengkapi sensor pengukur kebauan ambien.

“Beberapa data sempat tidak ditampilkan ke publik karena SPKU sedang menjalani tahapan kolokasi. Hal ini bagian standar dari kalibrasi instrumen kebauan untuk mencegah misinterpretasi data mentah,” kata Yogi.

Kolokasi dilakukan untuk menguji respons sensor terhadap kondisi nyata di lapangan.

Bau merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh kombinasi konsentrasi senyawa kimia, kondisi meteorologi, serta persepsi manusia.

Baca juga: Alat Ukur Kualitas Udara RDF Rorotan Catat Pencemaran Meningkat 2 Hari Sebelum Mati

SPKU berfungsi sebagai sistem pemantauan dini (early warning system) dan alat untuk membaca pola serta tren kualitas udara dari waktu ke waktu, bukan sebagai indikator kepatuhan baku mutu secara absolut.

Uji kolokasi meliputi pengambilan sampel kebauan ambien dengan metode terstandardisasi selama empat hari pada 18–21 Januari 2026.

Sampel kemudian diuji di laboratorium terakreditasi dengan waktu pengujian hingga 14 hari kerja.

Analisis komparasi antara hasil laboratorium dan data SPKU berlangsung sekitar lima hari kerja.

Hasil kolokasi akan digunakan untuk penyempurnaan sistem pemantauan sebelum SPKU menampilkan data yang lebih akurat dan presisi, sesuai kondisi lingkungan di lapangan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Pendekatan ini penting untuk menghindari kesimpulan prematur yang berpotensi menimbulkan misinterpretasi di ruang publik,” ujar Yogi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terungkap Kondisi Kesehatan Lula Lahfah Sebelum Meninggal Dunia, Polisi: Habis Operasi Batu Ginjal
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Hybrid Jadi Andalan, Chery Proyeksikan Penjualan Kalahkan BEV dan ICE
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Gunung Marapi Erupsi Lagi, Lontarkan Abu 1.000 Meter
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hujan, antara Benci dan Suka
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Ingin Jalani Hidup Lebih Baik, Charlie Puth Putuskan Stop Alkohol
• 18 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.