Hujan bukan hanya tentang air yang turun. Ia datang membawa cerita, kenangan, dan juga berkah. Banyak orang sebal dengan hujan karena membuat aktivitas harian berantakan dan menimbulkan kecemasan karena rentetan bencana yang bisa ditimbulkan. Namun, sebagian orang justru menyukai hujan karena membawa ketenangan dan kedamaian.
Tepat pukul 05.00 WIB, Jumat (23/1/2026), beker Enrique Paulo berdering. Siswa Kelas X SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan itu menggeliat, mematikan beker, dan menyalakan lampu kamar. Ia pun bergegas ke kamar mandi, membuka keran, dan duduk di kloset sambil melihat air pancuran yang terus mengalir.
Lebih seperempat jam, ia memelototi air itu tanpa ingin sekalipun menyentuhnya. ”Dingin,” katanya, Sabtu (24/1/2026). Beberapa hari terakhir, hujan yang turun nyaris tanpa henti membuat temperatur air di Jakarta serasa air di Puncak, Bogor, Jawa Barat, dingin menusuk tulang.
Repotnya lagi, tambah Enrique, hilangnya sinar matahari membuat jemuran, termasuk handuk, sulit kering. Akibatnya, ia pun harus menyeka air di tubuhnya dengan handuk basah yang membuat makin tidak nyaman dan bertambah dingin.
Bukan hanya urusan mandi, hujan yang turun di pagi hari sukses membuat suasana hati remaja itu berantakan. Berangkat sekolah dalam suasana hujan, macet, dan terkadang banjir di beberapa ruas jalan membuatnya kesal. Sampai sekolah, air yang terus turun, serta udara dingin dan lembab membuat rasa kantuk bisa menyerang kapan saja, termasuk saat jam pelajaran.
Kekesalan itu belum selesai. Ketika pulang sekolah sekitar pukul 18.00, dia masih harus berhadapan dengan hujan yang tak henti-henti. Jika saat berangkat sekolah dia diantar oleh ayah menggunakan mobil, saat pulang dia harus mengendarai angkutan umum, mulai dari bus Transjakarta hingga berganti kereta komuter untuk sampai di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.
”Menunggu bus di halte lama akibat macet dan banjir. Terus berpindah dari bus ke Stasiun Kebayoran yang harus melalui jembatan penyeberangan yang panjang. Semuanya dilalui dalam keadaan hujan atau gerimis,” katanya kesal.
Hujan baginya adalah saat untuk mendengar suara alam yang menenteramkan.
Enrique tidak sendiri. Sebagian dari kita pun merasakan yang sama saat hujan turun, khususnya di pagi hari. Enggan bangun dan beranjak dari tempat tidur, malas berangkat kerja, bahkan tidak ada semangat untuk melakukan apa pun. Bahkan, beberapa di antara kita mengalami perubahan suasana hati yang drastis saat hujan turun.
Dosen dan peneliti di Laboratorium Toward Healthy Mind Body and Sexuality Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adhityawarman Menaldi, mengatakan, selama mendung, apalagi hujan, suasana sekitar kita akan menjadi gelap karena matahari terhalang awan. Kondisi itu akan mencetuskan hormon melatonin, hormon yang menenangkan yang muncul menjelang tidur malam. Munculnya hormon ini akan membuat manusia mengantuk dan terdorong untuk tidur atau beristirahat.
Hilangnya matahari juga membuat kadar hormon serotonin di tubuh ikut menurun. Padahal, hormon ini membantu manusia untuk fokus dan mengatur suasana hati. ”Meningkatnya melatonin dan menurunnya serotonin itu membuat manusia sulit mengendalikan mood (suasana hati) dan menjaga fokus sehingga membuat emosi negatif lebih mendominasi,” katanya.
Manusia sejatinya akan selalu berperang untuk melawan kondisi itu. Mereka tetap ingin mampu mengontrol emosinya dan produktif meski cuaca sedang tidak mendukung. Namun, upaya ini akan lebih sulit dilakukan jika mereka tidak memiliki kegiatan terstruktur dan terjadwal. Konsekuensinya, mereka akan malah lebih mudah terganggu atau terdistraksi dengan perubahan kondisi yang ada.
Jika seseorang memiliki target tertentu, tanggung jawab yang harus dijalani, mereka akan lebih mudah fokus mengerjakan tugasnya. Hujan di luar tidak akan terlalu berpengaruh terhadap aktivitas mereka meski produktivitas bisa saja turun. Karena itu, mereka yang memiliki kegiatan terstruktur dan terjadwal akan lebih mudah untuk tetap aktif meski hujan lebat berlangsung sepanjang hari.
Meski demikian, kemampuan setiap orang untuk berperang dengan perubahan kondisi biologis tubuhnya akibat perubahan cuaca itu berbeda-beda. Beban jiwa yang ditanggung sebelumnya pun tidak sama. Karena itu, sebagian orang mungkin tidak kesulitan untuk berdamai dan terus beraktivitas meski hujan mendera. Namun, sebagian yang lain akan mengalami kesulitan besar yang membutuhkan usaha ekstra agar terus bangkit dan beraktivitas.
”Mereka yang mengalami kesulitan dan kelelahan saat menghadapi dampak perubahan cuaca itu cenderung merasa tidak mampu berbuat-apa-apa, depresi terus-terusan, hingga akhirnya memunculkan kecemasan tentang diri sendiri,” kata Adhityawarman. Mereka yang menghadapi situasi itu akan lebih mudah merasakan emosi negatif hingga lebih mudah mengingat memori yang mungkin tidak menyenangkan.
Kondisi itulah yang dialami Dewi. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju kantornya di Jakarta Pusat, Jumat lalu, hujan deras mengguyurnya. Di dalam bus, matanya sendu menatap air yang terus turun. Ia galau bukan hanya memikirkan macet dan banjir yang ada di depan mata, melainkan dia juga teringat dengan janji masa kecilnya yang belum bisa ia tunaikan hingga kini. Padahal, kenangan itu tidak muncul di hari-hari biasa.
Puluhan tahun lalu, saat Dewi kecil masih tinggal di rumah simbah atau neneknya di Jawa Tengah, ia gemar duduk di depan jendela kaca sambil bengong melihat hujan. Suatu ketika, lewat serombongan ibu-ibu yang menggendong keranjang berisi gula kelapa yang hendak dijual ke pengepul.
Mereka umumnya adalah perajin penggarap yang membeli nira dari pohon kelapa milik orang lain, lalu mengolah dan menjual gulanya. Hasilnya, separuh buah pemilik pohon kelapa dan sisanya menjadi milik mereka. Padahal, mengolah nira menjadi gula kelapa tidaklah mudah, butuh tenaga kuat untuk mengaduk nira yang mulai mengental dan harus berada di dekat bara api hingga berjam-jam.
”Saat itu, saya berjanji mau menjadi orang kaya sehingga bisa menolong mereka,” katanya sedih. Sayangnya, hingga kini dia belum bisa mewujudkan mimpi itu. Walau sadar bahwa mereka bukan tanggung jawabnya, tetapi ia merasa gagal. Saat ini, dia hanya bisa berdoa agar cita-cita itu bisa segera terwujud, entah kapan itu.
Menurut Adityawarman, tingginya melatonin saat hujan seperti mengantarkan seseorang kepada situasi mimpi. Dari sinilah sering kali memunculkan ingatan masa lalu, baik sesuatu yang bersifat baik, yang sudah tidak ada lagi, maupun hal-hal yang diinginkan tetapi belum tercapai. Hujan akan membantu seseorang mengingat kembali hal-hal tersebut hingga menimbulkan romantisasi.
Perilaku lain yang suka muncul di saat hujan dan langit kelabu adalah membuat sebagian orang lebih mudah untuk merasa tidak berdaya (helplessness). Mereka merasa kurang mampu mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan sehingga targetnya tidak tercapai. Jika dalam cuaca yang hangat seseorang mampu menuntaskan lima pekerjaan, saat hujan hanya tiga pekerjaan yang mampu mereka selesaikan.
Dalam kasus tertentu, ketidakberdayaan itu membuat beberapa orang merasa terkurung di rumah. Mereka enggan keluar rumah karena sudah terbayang repotnya baju yang basah kena air, macet, banjir, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. Masalahnya, perasaan itu akan semakin mendorong emosi negatif menguasai diri hingga mereka makin terisolasi.
Studi Juni Sato dan rekan di PLOS One, 25 Januari 2019, menemukan selama hujan turun dan matahari tidak terlihat, tekanan udara di tempat tersebut akan turun. Kondisi ini akan mengaktifkan nukleus vestibular superior (SVN), bagian otak yang mengontrol keseimbangan dan persepsi.
Aktifnya SVN akan memicu sistem stres dalam tubuh sehingga membuat seseorang merasa tegang. Sementara pada beberapa orang, menyebarnya hormon stres juga meningkatkan nyeri kronis. Kondisi inilah yang membuat sebagian orang harus berjuang lebih berat agar tetap bisa aktif dan keluar dari kondisi yang menekan akibat hujan.
Walau hujan dan absennya Matahari membuat manusia merasa tidak nyaman, sulit aktif, susah fokus, hingga depresi, tidak semua orang mengalami hal itu. Sebagian orang justru sangat suka, menikmati, dan merasa damai dan bahagia saat hujan turun. Merekalah orang-orang yang disebut pluviofil.
Perasaan bahagia itulah yang dialami Ningsih, pegawai kantoran di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat lalu. ”Jika dibandingkan cuaca Jakarta yang terik sampai menyengat kulit, aku lebih suka hujan selama tidak banjir. Suaranya syahdu dan menenangkan, apalagi jika tidak ada petir,” katanya.
Baginya, deras suara hujan mampu meredam suara artifisial yang bising di Jakarta. Suara kendaraan, klakson, obrolan yang kencang, pelantang suara dari rumah ibadah dan aktivitas masyarakat, semua terasa menggema di kepalanya. Apalagi, dia tinggal di kawasan padat penduduk di sekitar kantor. Karena itu, hujan baginya adalah saat untuk mendengar suara alam yang menenteramkan.
Tak hanya bunyi hujan, Ningsih juga suka dengan pemandangan saat hujan. Akibatnya, bila hujan turun, dia sering berpindah ruangan di kantornya yang memiliki meja kerja langsung menghadap dinding kaca. Dari situ, dia bisa memandang hujan sepuasnya sembari mencermati seberapa deras hujan yang terjadi dan seberapa kencang angin berembus. Bahkan, sering kali dia mengambil foto dan merekam video suasana Jakarta saat hujan dari ketinggian gedung tempatnya bekerja.
Nikmatnya pemandangan dan suara hujan justru mendorong Ningsih untuk lebih bersantai. Dia ingin menikmati hujan sambil meminum secangkir teh hangat sambil membaca buku yang bisa membawa imajinasinya ke negeri antah berantah. Hujan membuatnya bisa rehat sejenak dari lelah jiwa akibat kehidupan perkotaan dan situasi dunia yang menekan.
Adhityawarman menilai seseorang bisa menjadi pluviofil karena tidak memiliki trauma masa kecil dengan hujan dan air. Umumnya anak kecil akan suka bermain dengan air, termasuk air hujan, air banjir, bahkan air genangan kecil yang keruh sekalipun. Kesukaan anak bermain air merupakan hal yang wajar karena memberikan pengalaman baru dan tentu menyenangkan.
Namun, bagi banyak orang dewasa yang sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum melakukan sesuatu, mandi hujan atau bermain banjir merupakan hal yang bisa membahayakan, terutama bagi anak-anak. Bermain hujan dan banjir bisa membuat sakit, luka, bahkan hanyut terbawa arus banjir. Karena itu, banyak orangtua melarang keras anak-anaknya bermain hujan dan banjir, bahkan sering disertai hukuman yang akhirnya menimbulkan trauma.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan deras disertai angin kencang masih akan terjadi setidaknya hingga akhir Januari 2026. Karena itu, penting untuk senantiasa memiliki aktivitas terukur dan terjadwal sehingga proses mental dan kognitif mereka tetap aktif. Dengan demikian, apa pun kondisi cuaca yang berlangsung, tidak akan memberi dampak besar pada suasana hati dan fokus.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)