Pada Jumat (23 Januari), perwakilan Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina menggelar pertemuan tiga pihak pertama sejak perang Rusia–Ukraina meletus secara penuh. Pertemuan berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA). Dunia internasional menaruh perhatian besar pada perundingan dua hari ini, apakah dapat menyelesaikan persoalan-persoalan paling rumit seperti sengketa wilayah, sehingga membawa perdamaian sejati bagi Ukraina. Namun demikian, hingga saat ini, perbedaan pandangan antara Rusia dan Ukraina masih tetap ada.
EtIndonesia. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab pada Jumat mengumumkan bahwa perwakilan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat sedang mengadakan pembicaraan di Abu Dhabi, ibu kota UEA, untuk mengakhiri perang di Ukraina. Ini merupakan pembicaraan tiga pihak pertama yang dimediasi oleh Amerika Serikat sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada tahun 2022.
Rekaman yang beredar menunjukkan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan sebagai tuan rumah duduk di tengah menerima para delegasi. Di sisi kiri dan kanan masing-masing duduk Rustem Umerov, Kepala Badan Keamanan Nasional Ukraina, dan Igor Kostyukov, Kepala Direktorat Intelijen Militer Rusia. Selanjutnya tampak utusan khusus Presiden Trump, Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky: “Delegasi Ukraina hampir setiap jam melaporkan perkembangan kepada saya. Pembicaraan ini sangat penting, karena sudah lama tidak ada pertemuan tiga pihak seperti ini. Mereka sedang membahas berbagai persyaratan untuk mengakhiri perang.”
Presiden Zelensky secara tegas menyatakan bahwa masalah wilayah Donbas merupakan inti persoalan, dan juga menjadi agenda utama dalam pertemuan tiga pihak ini. Secara umum, dunia menilai perundingan dua hari ini sangat penting, namun dengan harapan yang terbatas, mengingat perbedaan mendasar antara Rusia dan Ukraina masih belum teratasi.
Menjelang pertemuan di UEA, pada Kamis malam waktu setempat, perwakilan Amerika Serikat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Pihak Rusia menyebut pembicaraan yang berlangsung sekitar empat jam itu sebagai pertemuan yang produktif dan sangat terbuka.
Namun, tak lama setelah delegasi AS meninggalkan Kremlin, penasihat Putin, Yuri Ushakov, memperingatkan bahwa tanpa penyelesaian masalah wilayah, perdamaian yang berkelanjutan mustahil terwujud.
Penasihat Putin, Yuri Ushakov: “Sebelum hal itu tercapai, Rusia akan terus, seperti biasa, merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan dalam ‘operasi militer khusus’, terutama ketika angkatan bersenjata Rusia memegang inisiatif strategis di medan perang.”
Putin menuntut Ukraina untuk melepaskan 20% wilayah Donetsk bagian timur yang masih berada di bawah kendali Ukraina. Namun Zelensky menolak tuntutan tersebut, dan menyebutnya sebagai garis merah yang tidak dapat dilanggar.
Oleh karena itu, perhatian dunia tertuju pada apakah pertemuan tiga pihak ini dapat melangkah menuju tahap paling krusial, guna membuka jalan bagi perdamaian di Ukraina. Dalam satu hari terakhir, serangan Rusia telah menewaskan sedikitnya 6 orang dan melukai 45 orang di Ukraina. Sementara itu, sekitar 20% gedung apartemen di Kyiv masih tidak memiliki pasokan pemanas. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.




