FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Salah satu tersangka dalam kasus dugaan fitnah ijazah palsu Presiden Jokowi, Rizal Fadillah, kembali blak-blakan mengenai polemik yang menjeratnya ke ranah hukum.
Rizal menjelaskan, dalam konteks ijazah yang dipersoalkan, istilah itu berarti bahwa jika ijazah Jokowi terbukti palsu, maka konsekuensinya adalah kehancuran total bagi Jokowi.
“Dalam konteks ijazah yang dimasalahkan masyarakat begini-begitu maknanya adalah meski ternyata ijazah itu palsu, maka hancurlah Jokowi,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Minggu (25/1/2026).
Ia menuding, jika ijazah tersebut palsu, Jokowi telah menipu rakyat selama bertahun-tahun.
Rizal menggambarkan sosok Jokowi sebagai pemimpin yang menampilkan wajah tanpa rasa bersalah, dengan hati yang membeku, serta terus menghindar dari persoalan.
“Menipu rakyat bertahun-tahun dalam wajah tanpa dosa, hati membeku, dan langkah kaki seribu. Lari-lari menghindar,” tukasnya.
Namun, Rizal menegaskan bahwa situasi tidak serta-merta menguntungkan Jokowi jika ijazah itu justru terbukti asli.
Kata dia, Jokowi tetap akan menuai kecaman publik karena dinilai telah menyembunyikan ijazah terlalu lama, sehingga memicu banyak korban sosial, mengganggu stabilitas, dan membentuk budaya fitnah, pengkhianatan, serta ketakutan di tengah masyarakat.
“Jika ijazah itu asli maka Jokowi rugi pula,” ucapnya.
Lebih jauh, Rizal menyebut polemik ijazah mencerminkan kemampuan memainkan administrasi dan dokumen.
Ia bahkan menilai, jika seseorang mampu bermain-main dengan selembar ijazah, maka sangat mungkin pula melakukan hal serupa terhadap aset yang lebih besar.
“Jika mampu bermain-main dengan lembaran ijazah, maka dipastikan ia lebih mampu untuk bermain kayu, uang, tanah, rumah, tambang, atau lainnya,” tukasnya.
Lanjut Rizal, persoalan asli atau palsunya ijazah tidak akan menghentikan pengusutan lebih lanjut atas harta pribadi maupun keluarga Jokowi.
Ia menyebut sejumlah isu lain yang menurutnya masih terbuka untuk dikaji, mulai dari dugaan korupsi, pengkhianatan terhadap negara, penyebaran kebohongan publik, politik dinasti, hingga pelanggaran hak asasi manusia.
Ia juga menyinggung dampak sistemik apabila ijazah Jokowi terbukti palsu. Rizal menyebut kehancuran tidak hanya menimpa individu, tetapi juga institusi-institusi negara.
“Bila ijazah Jokowi terbukti palsu, maka hancur banyak institusi apakah UGM, KPUD, KPU, Polisi, maupun DPR,” katanya.
Ia menuturkan bahwa institusi-institusi tersebut terlibat secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara memproteksi, membiarkan, dibodohi, atau setidaknya bersikap tidak peduli, meski indikasi telah muncul sejak lama.
Rizal juga menyebut reputasi cendekiawan dan rohaniawan ikut runtuh karena dinilai gagal menyikapi kebohongan, apalagi memberikan sanksi.
Sebaliknya, jika ijazah itu dinyatakan asli, Rizal menyebut ada tiga kerugian besar yang tetap melekat pada Jokowi.
Ia mengatakan, Jokowi akan terus dikecam sebagai figur yang merusak budaya jujur, terbuka, berani, dan mendidik. Predikat pembohong dan munafik, menurutnya, justru akan semakin menguat.
Rizal bahkan mengaitkan polemik tersebut dengan kondisi fisik dan psikis Jokowi. Ia menilai, menyembunyikan kebenaran telah menggerogoti kesehatan, dan penyakit autoimun tidak serta-merta sembuh hanya karena pembuktian keaslian ijazah.
“Waktu akan menghukum dengan sakit yang menggerogoti,” imbuhnya.
Ia juga memprediksi perhatian publik akan bergeser kepada putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Rizal, persoalan pendidikan Gibran berpotensi menjadi sasaran investigasi lanjutan, dan hal itu akan menjadi beban tambahan bagi Jokowi sebagai seorang ayah.
“Beban ayah lebih berat ketika anak menjadi target atau kompensasi dari tipu-tipu dirinya,” terangnya.
Rizal menegaskan, dalam skenario apa pun, Jokowi tetap berada dalam posisi merugi.
Ia menyebut kondisi itu sebagai akibat dari rasa aman berlebihan saat berkuasa, hingga menistakan publik dan memunculkan sindrom penguasa tunggal yang merasa dapat menentukan segalanya.
Ia juga menuding adanya praktik merekayasa kekuasaan dan hukum sebagai senjata untuk memukul lawan-lawan politik. Menurut Rizal, Jokowi lupa bahwa tidak ada kejahatan yang bersifat abadi.
“Mempertuhankan kekuasaan sama dengan memperbudak martabat dan harga diri,” tegasnya.
Rizal bilang, Jokowi telah berada di titik akhir secara moral dan politik. Ia menilai, meski tampak kuat di permukaan, kondisi sebenarnya justru sekarat.
“Jokowi sudah tamat. Meski nampak kuat tetapi sesungguhnya sekarat,” tandasnya.
Ia bahkan menyebut teriakan dukungan sebagai pertanda peringatan kematian, bukan kekuatan. Menurutnya, slogan cerdas, berani, dan militan justru menjadi tanda kebodohan, ketakutan, dan kerapuhan.
“Hanya pecundang yang bahagia bersandiwara di ruang perdamaian dan keadilan palsu,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F25%2F100b7dfbbfd5fae8e8ebd0c829b9d4ba-IMG_20260125_WA0082.jpg)
