JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Minggu (25/1/2026), meminta maaf kepada segenap korban terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pihaknya memastikan pemerintah akan berupaya optimal menangani bencana itu. Langkah penanganan masih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pengungsi dan pencarian korban hilang.
Permintaan maaf itu disampaikan Wapres saat menemui para korban yang mengungsi di Balai Desa Pasirlangu, Desa Pasirlangu, Minggu. Warga mengungsi akibat longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Bencana itu tak hanya mengakibatkan warga mengungsi, tetapi juga menyebabkan setidaknya 83 orang hilang.
“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Tim sudah turun semua ke lapangan dan kita upayakan semaksimal mungkin untuk pencarian korban,” kata Wapres, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas, Minggu petang.
Wapres juga berpesan kepada jajarannya agar memberikan pelayanan seoptimal mungkin bagi para pengungsi. Secara khusus, ia meminta supaya kelompok rentan mendapatkan perhatian lebih seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas. Tim kesehatan pun diinstruksikan agar bersiaga 24 jam demi kebutuhan para pengungsi.
Selain itu, lanjut Wapres, pemerintah daerah harus memastikan bantuan-bantuan tersalurkan tepat sasaran, termasuk upaya penanganan rumah rusak. Ia mengingatkan agar rencana relokasi dan perbaikan hunian nantinya memperhatikan jarak antara lokasi dan kawasan mata pencaharian warga setempat.
“Rumah-rumah yang rusak akan diperbaiki. Jika perlu relokasi, mohon disosialisasikan dengan baik dan tidak terlalu jauh dari tempat asal serta sumber penghidupan warga,” kata Wapres.
Rumah-rumah yang rusak akan diperbaiki. Jika perlu relokasi
Sebelum menemui para pengungsi, Wapres lebih dahulu melihat lokasi longsor. Ia pun menyempatkan waktu mendengarkan keluh kesah para warga yang sedang menanti kepastian akan kondisi anggota keluarganya yang hilang.
Selama kunjungan itu, Wapres didampingi sejumlah pejabat lain, yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Kepala Badan SAR Nasional Mohammad Syafii, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, serta Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.
Seusai mendampingi Wapres, Menteri Koordinator PMK Pratikno menyampaikan, pemerintah turut berduka atas peristiwa yang dialami korban. Sebagai bentuk penanganan, sebut dia, pemerintah mengutamakan upaya penyelamatan jiwa. Untuk itu, operasi pencarian akan dilakukan selama 24 jam tanpa henti. Terlebih lagi, terdapat sedikitnya 83 orang yang dilaporkan hilang.
Untuk itu, lanjut Pratikno, pemerintah telah membagi tugas jajarannya ke lima kluster berbeda, yakni kluster SAR, kluster kesehatan, kluster logistik, kluster perlindungan sosial, dan kluster infrastruktur. Setiap kluster ditugaskan untuk mempercepat penanganan bencana secara lebih optimal dan terfokus.
Dari kluster kesehatan, misalnya, ada tim yang menyiagakan pos kesehatan 24 jam non stop. Tak hanya itu, ambulans juga disediakan beserta mekanisme pengantaran ke fasilitas kesehatan rujukan jika dibutuhkan.
“Kami juga tadi bertanya kepada pengungsi bagaimana pelayanannya, apakah sudah makan pagi atau belum, dan lain-lain. Ini kluster logistik sudah menyiapkan sembako dan berbagai alat pendukung lainnya, termasuk makanan siap saji, dan juga fasilitas seperti selimut dan lain-lain,” kata Pratikno.
Pratikno menambahkan, rencana relokasi juga sudah sempat sedikit dibahas antara Wapres dan pemerintah daerah. Aspek mitigasi menjadi penekanan dalam pencarian lokasi baru. Tim juga telah diminta untuk mempertimbangkan lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan lokasi baru nantinya.
“Tadi, Bapak Wapres juga sudah membahas dengan Pak Wagub dan Pak Bupati, dengan kami juga mengenai rencana relokasi untuk menghindari dampak susulan. Ini identifikasi lahan dan lain-lain sudah diminta untuk segera dilakukan,” kata Pratikno.
Asesmen telah dilakukan untuk membagi pencarian dari hulu sampai hilir longsoran.
Sementara itu, Kepala Basarnas Mohamad Syafii mengatakan, operasi pencarian dan pertolongan berada dalam koordinasi lembaganya. Ada ratusan personel gabungan yang turut serta dari berbagai unsur lain seperti TNI, Polri, hingga para sukarelawan yang berada di wilayah Jawa Barat. Asesmen telah dilakukan untuk membagi pencarian dari hulu sampai hilir longsoran.
“Saat ini lebih dari 250 personel terlatih terlibat langsung dalam operasi SAR. Kemudian, untuk yang tergabung dalam operasi, termasusk pendukungnya ada lebih dari 450 orang yang sudah terdata,” kata Syafii.
Upaya pencarian, jelas Syafii, tidak hanya dilakukan secara manual melalui jalur darat. Teknologi udara ikut dimanfaatkan dengan pesawat nirawak (drone). Hingga kini, ada 12 drone yang dioperasikan.
Alat-alat berat, lanjut Syafii, juga nantinya akan dikerahkan untuk memudahkan pencarian. Tetapi, penggunaan alat berat terkendala medan pencarian yang masih basah. Untuk itu, koordinasi lanjutan nantinya bakal segera dilakukan.
“Alat berat memang belum bisa langsung kita masukkan karena memang kondisi struktur longsoran masih berbentuk bubur pasir. Jadi, nantinya operasi SAR secara bertahap akan dikoordinasikan,” kata Syafii.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5427339/original/085006800_1764380081-Persija_vs_PSIM-56.jpg)