Jamu Menemukan Ruang Baru di Kalangan Penikmat Muda

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Hampir setiap hari, Topan Juan meneguk minuman berbahan rempah. Bagi pemuda generasi Z ini, jamu bukan lagi dianggap minuman pahit yang hanya hadir ketika tubuh terasa kurang sehat. Ia justru menjadikan minum jamu sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Ketertarikan Topan pada jamu bermula dari rempah, sesuatu yang dianggap tak terpisahkan dari sejarah dan budaya Indonesia.

Pada awalnya sekadar mencoba, perlahan konsumsi rempah berubah menjadi kebutuhan. Jamu tidak lagi ia posisikan sebagai minuman obat, melainkan sebagai teman keseharian.

Pengalaman Topan menjadi salah satu bukti pergeseran cara pandang generasi muda terhadap jamu. Minuman yang selama ini identik dengan rasa pahit dan minuman khas generasi tua, kini mulai dimaknai dengan cara yang berbeda. Pada sejumlah ruang konsumsi anak muda, jamu dan minuman berbahan rempah dipilih secara sadar karena rasa membutuhkan.

Bagi generasi Z, jamu tidak harus hadir dalam bentuk minuman tradisional. Pengemasan yang lebih modern justru membuatnya lebih mudah diterima. Meski demikian, status jamu sebagai warisan budaya tak benda tetap dianggap penting. Selama jamu terus dikonsumsi dan tidak dilupakan, bentuk penyajian bukan menjadi persoalan.

“Kalau aku apapun bentuknya, rempah ini mau diinovasikan atau murni jamu pada umumnya jaman dulu, yang penting tidak dilupakan karena rempah ini milik kita sebagai warisan bangsa Indonesia,” kata Topan.

Perubahan cara menikmati jamu tampak di ruang-ruang konsumsi modern yang mengangkat rempah sebagai menu utama. Salah satunya Wiratea Spices Bar di Yogyakarta yang ramai oleh pengunjung gen Z. Café rempah ini menyajikan varian minuman rempah modern.

Rempah disajikan dengan pendekatan yang berbeda dari bayangan jamu tradisional. Hal ini dilakukan agar generasi Z yang datang pertama kali tidak kaget akan rasa asli rempah. Berbagai jenis minuman rempah modern yang dijajakan diantaranya ginger latte, cinnamon choco ginger, cinnamon choco, dan turmeric latte.

Pemilik Wiratea Spices Bar, Fattah Sugiarto, menyebut dirinya tidak ingin memposisikan jamu sebagai minuman kesehatan. Menurutnya, pendekatan tersebut justru membuat anak muda enggan mencoba.

“Kami memaknai rempah sebagai minuman lifestyle, kami ingin mengomunikasikan bahwa rempah itu sebagai antidepresan sehingga relevan dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang dimana isu generasi Z ini kebanyakan tentang kesehatan mental,” ujar Fattah.

Pendekatan ini berangkat dari realitas gaya hidup anak muda yang rentan terhadap stres dan tekanan mental. Rempah kemudian ditawarkan sebagai alternatif minuman selain kopi. Keunggulan rasa yang lebih ramah, tampilan visual yang menarik, serta suasana yang nyaman, membuat café ini ditujukan untuk menyasar generasi Z sebagai target utama.

“Karena sudah terlalu banyak coffe shop yang ada di jogja ini, kami mengambil rempah yang diinovasikan dengan bahan lain. Sehingga ruang yang kami bentuk dapat menjadi pilihan untuk orang itu nongkrong sambil nge-rempah,” kata Fattah.

Di café tersebut, pengunjung datang silih berganti. Anak-anak muda tampak menikmati minuman rempah sambil berbincang, mengerjakan tugas maupun menghabiskan waktu luang. Meski dikemas secara modern, Fattah menegaskan perannya hanya sebagai jembatan pengenalan. Setelah mengenal rempah, anak muda diharapkan tertarik untuk mengenal jamu tradisional yang lebih murni.

Disisi lain ketertarikan pada jamu tradisional juga datang dari generasi milenial dan generasi X. Pengalaman personal menjadi pintu masuk bagi mereka. Nurul Estiruna, salah satu pembeli jamu tradisional di Jamu Ginggang sebuah kedai jamu warisan abdi dalem Keraton Pakualaman.

Nurul yang merupakan salah satu generasi milenial mengaku telah terbiasa mengonsumsi jamu sejak kecil karena dikenalkan oleh nenek dan ibunya. Bahkan dia seringkali menyempatkan menikmati jamu bersama keluarganya di Jamu Ginggang.

Bagi Nurul, jamu bukan hanya sekadar minuman kesehatan, melainkan bagian dari kebiasaan keluarga. Meski kini banyak inovasi jamu bermunculan, ia tetap memilih jamu murni karena telah sesuai dengan selera dan pengalaman hidupnya.

“Saya lebih suka murni jamu tanpa campuran dan itu mungkin preferensi lidah ya karena saya dari kecil sudah biasa minum jamu murni," ungkap Nurul.

Nurul tidak menolak perubahan dan inovasi produk jamu. Baginya melihat generasi muda mulai tertarik kembali pada jamu, justru menimbulkan rasa bangga. Menurut Nurul, inovasi diperlukan agar jamu tetap relevan dan tidak ditinggalkan.

Praktik jamu tradisional kini tetap dijaga oleh peracik jamu secara turun-temurun. Ike Yulita Estiani, salah satu peracik jamu di Yogyakarta sekaligus pemiliki generasi kelima Jamu Ginggang telah mengenal proses pembuatan jamu sejak kelas 3 sekolah dasar. Sepulang sekolah, ia terbiasa membantu keluarganya memproduksi jamu, mulai dari menyuci bahan jamu hingga menghaluskannya menggunakan alat tradisional.

Menurut Ike, jamu bukan sekadar minuman penyegar, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah sakit. Resep yang digunakan merupakan resep turun-temurun sejak 1925 dan tetap dipertahankan hingga kini tanpa campuran bahan kimia. Proses peracikan yang masih dilakukan secara manual dianggap sebagai bagian dari pengetahuan tak tertulis yang diwariskan lintas generasi.

“Yang paling penting itu resepnya. Di situ nilai warisan budayanya,” ujar Ike.

Namun demikian, mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman juga menghadirkan tantangan. Menurut Ike, generasi muda kini menjadi tantangan sekaligus peluang. Ike mulai menyesuaikan cara berkomunikasi dan promosi untuk mendekatkan jamu kepada Gen Z. Bahasa promosi di media sosial dibuat lebih dekat dengan keseharian anak muda. Pendekatan kebutuhan konsumen misalnya karena stress ataupun badan mudah lelah yang sering disebut gen Z dengan istilah “remaja jompo”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa jamu sebagai warisan budaya tak benda tidak bersifat kaku. Nilainya terletak pada pengetahuan, proses, dan praktik yang terus dilestarikan. Dari dapur tradisional hingga café modern, dari peracikan manual hingga minuman masa kini, bahkan promosi melalui media sosial yang mudah diterima gen Z.

Jamu menemukan cara baru untuk terus bertahan. Selain untuk menjaga kesehatan tubuh, jamu menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang terus diwariskan. Kini jamu menemukan ruang baru di kalangan penikmat muda.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pengumuman: Tak Ada Jadwal Pembahasan Honorer pada Semua Rapat Komisi II DPR
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Persib Bandung Kontrak Bek Muda Dion Markx Selama 2,5 Tahun untuk Perkuat Lini Belakang
• 43 detik lalupantau.com
thumb
Suasana Haru Pemakaman Co-Pilot ATR 42.500 di Gowa | KOMPAS PETANG
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
PBSI Jalin Kerja Sama Strategis dengan Jepang Jelang Asian Games 2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Cara Menghadapi Pasangan yang Moody Tanpa Menguras Emosi
• 4 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.