Jakarta: Belakangan ini, ruang digital ramai membahas buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Kisah yang dibagikan Aurelie bukan sekadar cerita personal, melainkan menjadi pengingat keras bagi banyak orang tua tentang bahaya child grooming.
Dalam pengalamannya, Aurelie mengungkap bagaimana dirinya terjebak dalam manipulasi emosional sejak usia 15 tahun oleh orang dewasa yang jauh lebih tua, dengan dalih cinta dan perhatian. Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku child grooming tidak selalu tampil menyeramkan. Sebaliknya, mereka sering membangun kepercayaan secara perlahan hingga korban merasa terikat dan sulit melepaskan diri.
Baca Juga :
Mengenal
Child Grooming, Isu yang Diangkat Aurelie Moeremans dalam
Broken Strings 5 Cara Mencegah
Child Grooming pada Anak Meski terdengar mengerikan, orang tua tidak perlu panik berlebihan. Kasus ini justru bisa menjadi pelajaran penting untuk memperkuat perlindungan terhadap anak. Berikut lima langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah child grooming. 1. Edukasi Sejak Dini Orang tua perlu membiasakan diri membicarakan soal tubuh tanpa rasa tabu. Anak harus memahami konsep otonomi tubuh, termasuk mengenali sentuhan yang aman dan yang tidak boleh dilakukan siapa pun. Ajarkan anak untuk berani berkata “tidak” jika merasa tidak nyaman, meski kepada orang yang lebih tua atau dikenal dekat. 2. Bangun Komunikasi Terbuka Salah satu pola dalam kasus child grooming adalah korban dibuat merasa terisolasi dari orang tuanya. Karena itu, penting bagi orang tua menjadi tempat bercerita yang aman. Dengarkan tanpa langsung menghakimi atau marah agar anak merasa dilindungi dan percaya untuk terbuka. 3. Kenali Tanda-Tanda Peringatan Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Waspadai jika anak tiba-tiba memiliki “teman rahasia”, sering menyendiri, atau menerima hadiah mewah dari orang dewasa yang tidak jelas. Tanda-tanda ini bisa menjadi sinyal bahaya yang perlu segera ditindaklanjuti. 4. Pantau Aktivitas Daring Di era digital, child grooming sering bermula dari percakapan di media sosial. Orang tua disarankan memahami platform yang digunakan anak, termasuk mengetahui kata sandi akun mereka. Langkah ini bukan untuk melanggar privasi, melainkan sebagai upaya perlindungan dari predator daring. 5. Jadilah Role Model Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Orang tua perlu menunjukkan contoh hubungan yang sehat, saling menghargai, dan tidak manipulatif. Dengan begitu, anak memiliki standar yang jelas dan tidak mudah terjebak rayuan yang menyesatkan.
Baca Juga :
Mengupas Risiko Hukum Buku
Broken Strings Aurelie Moeremans
Kasus yang diungkap Aurelie Moeremans membuka mata banyak pihak bahwa child grooming bisa terjadi di sekitar kita. Keberanian untuk bersuara menjadi langkah awal agar lebih banyak anak terlindungi. Dengan peran aktif orang tua, lingkungan keluarga dapat menjadi benteng pertama yang kuat bagi tumbuh kembang anak.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.