Sering Dianggap Pembawa Hoki dan Rezeki, Ternyata Ini Alasan Kenapa Imlek Selalu Identik dengan Hujan Deras

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Turunnya hujan kerap berbarengan dengan perayaan Imlek. Apakah keduanya memiliki hubungan dalam aspek spiritual atau hanya kebetulan alam?

Perayaan Tahun Baru Imlek tinggal menghitung hari. Suasana merah dan emas mulai menghiasi berbagai sudut kota.

Biasanya, momen pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa ini tidak bisa dilepaskan dari sejumlah tradisi ikonik. Mulai dari atraksi barongsai yang lincah, tradisi makan malam bersama keluarga besar, hingga bagi-bagi angpao yang paling ditunggu.

Namun, ada satu hal alamiah yang seolah tak pernah absen setiap kali Imlek tiba, yakni turunnya hujan. Bagi masyarakat Tionghoa, air yang turun dari langit tepat saat perayaan Imlek bukanlah sekadar cuaca buruk.

Fenomena ini justru disambut sukacita karena diyakini sebagai simbol keberkahan dan sinyal datangnya rezeki yang berlimpah di tahun yang baru. Bahkan, tak sedikit yang menganggap rintik hujan tersebut merupakan jawaban langsung dari doa-doa yang dipanjatkan.

Ternyata, anggapan hujan sebagai pembawa cuan ini bukan sekadar isapan jempol semata. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah Imlek itu sendiri yang sejatinya adalah perayaan menyambut musim semi.

Budayawan Tionghoa Cirebon, Jeremy Huang Wijaya menegaskan bahwa kaitan antara hujan dan keberuntungan adalah hal yang nyata, bukan mitos belaka.

“Imlek adalah masa awal musim tanam. Ketika bibit ditanam membutuhkan hujan untuk menyuburkan tanah. Jika suatu kota ada hujan, maka kota itu dapat banyak rezeki karena (hujan) menyuburkan tanah pertanian,” ujar Jeremy, dikutip Grid.ID dari Kompas.com.

Dalam ilmu Feng Shui pun, air (Shui) sering diasosiasikan dengan uang atau kekayaan. Maka tak heran jika guyuran hujan dianggap sebagai kucuran rezeki dari langit.

Meskipun sarat akan makna budaya dan spiritual, fenomena ini sebenarnya memiliki penjelasan logis yang bisa dibuktikan secara sains. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan pencerahan mengapa setiap kali gong Imlek berbunyi, langit Indonesia cenderung mendung atau hujan.

Dilansir dari Kompas.tv, secara klimatologis, perayaan Imlek yang menggunakan penanggalan lunisolar memang selalu jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Berdasarkan data BMKG, periode Desember, Januari, hingga Februari adalah puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Nusantara, khususnya Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

 

Oleh karena itu, jika Imlek dirayakan pada rentang waktu tersebut, probabilitas terjadinya hujan memang sangat tinggi. Hal ini dipicu oleh dinamika atmosfer, di mana Monsun Asia sedang aktif-aktifnya.

Monsun Asia ini membawa massa udara basah yang menyebabkan pembentukan awan hujan yang intens. Fenomena ini merupakan dampak tidak langsung dari gerak semu atau evolusi Bumi mengelilingi Matahari.

Singkatnya, Imlek selalu hujan karena memang jadwal perayaannya bertepatan dengan puncak musim basah di Indonesia.

Menariknya, persepsi hujan saat Imlek ini terasa sangat spesial bagi masyarakat Indonesia. Tokoh Tionghoa asal Solo, Sumartono Hadinoto, memberikan perspektif yang membuka mata.

Menurutnya, koneksi antara hujan dan Imlek adalah bentuk kearifan lokal. Pasalnya, kondisi cuaca di negara asalnya, Tiongkok, justru berbeda drastis saat tahun baru tiba.

“Kalau menurut saya, China tidak ada musim penghujan. Di sana kan salju. Di Eropa juga tidak ada penghujan tapi semua bilang kalau Imlek di Indonesia semua hujan. Menurut saya itu adalah kearifan lokal dari sesepuh-sesepuh kita dulu," ungkap Sumartono.

Ia menambahkan bahwa leluhur mengajarkan cara pandang positif. Alih-alih mengeluh karena hujan menghambat aktivitas, masyarakat diajak untuk mensyukurinya sebagai berkah.

"Orang kalau ada sesuatu yang rasanya tidak membahagiakan ya bagaimana kita mengolahnya itu bisa menjadi sesuatu baik. Jadi sangat sederhana," pungkasnya.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fun Run 5K di Depok Libatkan 1.500 Peserta, Kampanyekan Gaya Hidup Sehat dan Sustainable Hospital
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Tiba-tiba Ayah Lula Lahfah Ucapkan Permintaan Maaf, Rupanya Ingin Lakukan Hal Ini Nantinya
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Sabo dam, benteng terakhir mitigasi banjir bandang di Batipuh Selatan
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Penyebab Menteri Trenggono Pingsan saat Upacara Penghormatan Jenazah Korban ATR 42-500
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Usai Lawatan Luar Negeri, Prabowo Kumpulkan Kabinet di Hambalang
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.