Pendidikan Terus Berlari, Namun Nalar Terancam Tertinggal di Era AI

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pelajar hari ini hidup di masa yang paling cerdas sekaligus paling instan berpikir. Ketika AI menyediakan pengetahuan tanpa batas dalam hitungan detik, daya juang intelektual perlahan merosot. Kecepatan informasi ini membuat kita merasa serba tahu, padahal pemahaman yang lahir sering kali dangkal. Laporan Chegg Global Student Survey 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar di berbagai negara telah menggunakan teknologi AI generatif dalam proses pembelajaran mereka, terutama untuk membantu memahami materi dan menyelesaikan tugas akademik. Fakta ini memperlihatkan bahwa adopsi AI di kalangan pelajar berlangsung sangat cepat, meski percepatan ini belum tentu sejalan dengan kemampuan berpikir kritis.

Di tengah derasnya revolusi teknologi, pendidikan harus kembali pada tugas utamanya: mempertajam kemampuan manusia untuk memahami, menimbang, dan mengambil keputusan dengan jernih. Kecepatan digital melahirkan paradoks baru pendidikan. Informasi yang tak terbatas membuka akses belajar, sekaligus menciptakan budaya instan. Pelajar yang tumbuh dalam ruang serba cepat mulai kehilangan kesabaran terhadap proses yang menuntut ketelitian. Bila pendidikan tidak mengambil langkah tegas, lembaga pendidikan berisiko melahirkan lulusan yang tampak mampu secara teknis tetapi rapuh ketika harus berpikir mandiri.

AI memang membawa revolusi besar. Jurnal ilmiah dan materi kuliah terbaik kini tersedia dalam satu klik. Namun justru kemudahan ini menjadi jebakan tersembunyi. Survei perilaku digital yang dilakukan Snapcart menunjukkan bahwa aktivitas akademik, seperti pengerjaan tugas sekolah dan kuliah, menjadi salah satu alasan paling dominan dalam penggunaan AI generatif. Angka ini mengindikasikan bahwa AI mulai menjadi sumber pertama ketika pelajar membutuhkan jawaban cepat, sering kali mendahului upaya untuk menelusuri sumber asli. Banyak pelajar kemudian merasa telah memahami materi hanya karena mampu mengulang poin yang diproduksi AI.

Akibatnya, lahirlah ilusi penguasaan. Kondisi ini tampak ketika pelajar copy-paste kesimpulan AI tanpa mengecek validitas atau tidak mampu menjelaskan ulang argumen yang disediakan. Padahal pemahaman sejati lahir dari proses mengurai argumen dan mempertanyakan asumsi. Bukan digantikan oleh kesimpulan instan yang ditawarkan algoritma tanpa perjalanan berpikir. Perlahan, pendidikan bergeser dari ruang pengembangan penalaran menjadi ruang konsumsi informasi cepat. Ketika proses berpikir tidak diasah, pelajar berubah menjadi pemilik pengetahuan yang luas tetapi terfragmentasi, kaya informasi tetapi miskin struktur.

Sayangnya, ancaman ini bukanlah yang pertama. Sejarah pun telah memberi peringatan. Setiap revolusi teknologi selalu menggeser pola kompetensi manusia. Revolusi Industri mengurangi keterampilan pekerja ketika ditemukannya mesin, revolusi digital menggeser fungsi ingatan ketika internet membuka akses informasi, dan saat ini, Revolusi AI membawa konsekuensi yang lebih menantang karena proses penalaran kini dapat dijalankan oleh mesin yang sebelumnya dilatih oleh manusia itu sendiri.

Tanpa pendidikan yang tegas menjaga disiplin intelektual, lembaga pendidikan berisiko melahirkan lulusan yang serba cepat namun kehilangan kemampuan dasar bernalar tanpa bantuan AI. Pertanyaan yang harus diajukan bukan bagaimana memakai AI, tetapi bagaimana memastikan pelajar mampu bernalar mandiri di tengah dominasi AI. Lembaga pendidikan tidak cukup merayakan kemudahan akses informasi, tetapi juga harus menjaga martabat berpikir sebagai inti dari proses pendidikan.

Mengembalikan Martabat Berpikir dalam Arus Deras AI

Dalam teori capability approach (Amartya Sen, 1991), kapabilitas seseorang tidak ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuannya untuk mengubah sumber daya tersebut menjadi tindakan dan keputusan yang bermakna. Dalam konteks pendidikan, akses informasi bukan lagi hambatan; yang krusial adalah kemampuan untuk mengubah informasi menjadi pemahaman dan keputusan yang matang. Kepemilikan AI oleh pelajar dapat dikonversikan menjadi pemahaman yang mendalam ketika proses konversinya didukung oleh kemampuan individu serta bimbingan akademik yang berfungsi secara efektif.

Karena itu, pendidikan harus mengembalikan martabat berpikir sebagai inti proses belajar. AI tidak boleh menggantikan proses bernalar, tetapi hanya dijadikan pemantik rasa ingin tahu. Pelajar perlu diarahkan untuk menelusuri argumen dan membangun pemahaman melalui proses kritis. Sistem penilaian juga perlu menimbang proses dan bukan hanya hasil akhir. Pertanyaan kritis perlu dihargai sama pentingnya dengan jawaban benar, sebab dari pertanyaanlah ketajaman nalar bertumbuh.

Wacana kebijakan pemerintah yang menekankan penguatan literasi membaca dan penulisan akademik dapat menjadi momentum penting untuk memperdalam kualitas berpikir pelajar. Namun, kebijakan semacam ini perlu ditempatkan bukan sebagai kewajiban administratif semata, melainkan sebagai sarana membangun kapabilitas bernalar. Pelajar tidak cukup hanya diminta membaca dan menulis referensi, tetapi juga perlu dibimbing untuk mendiskusikan argumen, menguji logika bacaan, dan merefleksikan makna pengetahuan yang mereka peroleh. Tanpa pendekatan tersebut, kebijakan literasi berisiko hanya menambah beban formal tanpa menyentuh inti persoalan kedangkalan berpikir.

Transformasi pendidikan Indonesia harus dimulai dari keberanian untuk keluar dari orientasi kecepatan. Kurikulum perlu memberi ruang untuk analisis dan refleksi. Pendidik perlu menilai alur berpikir pelajar. Lembaga pendidikan harus membangun iklim akademik yang menghargai dialog dan perbedaan pendapat. Melalui penerapan ini, pendidikan tidak lagi terjebak dalam budaya ‘selesai cepat’ yang bertumpu pada tugas yang hanya menekankan hasil akhir dan kurikulum berorientasi ketuntasan. Perubahan ini tentu menuntut kesabaran. Membangun budaya berpikir mendalam tidak bisa dilakukan secara instan dan justru menjadi antitesis paling jelas terhadap dominasi AI.

Teknologi boleh berlari lebih cepat dari siapa pun, tetapi hanya manusia yang dapat menemukan makna. Masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang sekadar cepat, tetapi oleh mereka yang paling jernih melihat arah. Jika lembaga pendidikan berhasil mempertajam nalar pelajar dan memelihara refleksi, maka AI bukan lagi menjadi ancaman, melainkan menjadi sekutu untuk memperkuat martabat manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Modus Penipuan Baru Pakai QR Code, Duit di Rekening Bisa Ludes
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dukung Pelestarian Pesisir, Kogabwilhan III Tanam 1.000 Mangrove di Pantai Gambesi
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Profil Irjen Sandi Nugroho, Peraih Adhi Makayasa 1995 yang Jadi Kapolda Sumatera Selatan
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Milomir Seslija Sebut Performa Persis Solo Meningkat di Putaran 2 Super League
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100% Jika Sepakati Kerja Sama dengan China
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.