Malam itu mencekam, di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Seharian, hujan deras dan angin kencang sudah turun. Jelang dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, cuaca tak kunjung mereda.
Ini permulaan dari duka yang bakal dialami Tedi dan Neni. Tiba-tiba, mereka mendengar suara menggelegar. Mereka menyangka itu adalah bunyi rotor helikopter, atau bumi bergolak akibat gempa.
“Awalnya saya kira suara helikopter, soalnya gemuruhnya keras sekali. Kirain juga gempa,” tutur Teti dengan suara bergetar. Tak ada yang menyangka, suara itu adalah tanda tanah bergerak, menelan rumah dan keluarga dalam sekejap.
Teti bersyukur, keluarganya yang satu rumah berhasil selamat. Namun tak semua mendapat keajaiban yang sama. Dua keluarga lainnya, yang masih kerabat dekat, tertimbun material longsor.
“Total keluarga yang tertimbun itu 16 orang, kakak, adik, keponakan-keponakan. Sampai sekarang baru ketemu tiga jenazah,” ucapnya lirih.
Harapan masih ia gantungkan, meski waktu terus berjalan. “Mudah-mudahan bisa ditemukan secepatnya, amin.”
Ia tak menyangka kampung yang selama ini menjadi jalur menuju kebun, yang biasa dilewati warga setiap hari, kini berubah rata tertutup lumpur dan tanah.
“Dulu mah normal, sekarang mah sudah enggak kebayang,” katanya.
Cerita serupa datang dari Neni warga RT 04/RW 11. Saat longsor terjadi sekitar pukul 02.30 WIB, ia belum tertidur. Sejak siang listrik padam, hujan dan angin tak kunjung berhenti.
“Ada suara besar, kaya suara kapal. Anak saya sampai bilang, ‘Bu ada kapal’. Saya jawab, jam segini mana ada kapal,” ujarnya. Ia sempat menyuruh anaknya tetap terjaga dan berselimut agar tidak kedinginan.
Tak lama kemudian, teriakan warga memecah malam. “Keluar-keluar!” seru orang-orang. Dalam kondisi panik dan jantung berdegup kencang, Neni langsung berlari keluar rumah tanpa membawa apa pun. “Geumpeur, deg-degan banget. Langsung dibawa ke sini, ke pengungsian,” ujarnya.
Keluarga inti Neni selamat, namun duka menghampiri kerabatnya. Keluarga bibinya menjadi korban paling terdampak. “Hampir 10 orang, baru ketemu dua jenazah,” katanya pelan.
Kini, Teti dan Neni bertahan di posko pengungsian. Bantuan mulai berdatangan, pakaian dan kebutuhan dasar tersedia. Namun luka kehilangan belum sembuh.
“Alhamdulillah bantuan ada,” kata Teti. Sementara Neni hanya berharap satu hal sederhana, namun penuh makna. “Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.”




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F01%2Fca8630601ddaf52c1b9752ee221cd413-cropped_image.jpg)
