GenPI.co - Saat menikah, setiap orang tentu berharap pasangannya setia. Tidak selingkuh menjadi standar paling dasar dalam sebuah komitmen.
Namun, kenyataannya perselingkuhan tetap terjadi. Meski tidak selalu berujung pada perceraian, fenomena ini masih menghantui banyak pasangan.
Ada pasangan yang memergoki perselingkuhan tersebut, ada pula yang tidak pernah mengetahuinya karena semuanya tersimpan rapat sebagai rahasia.
Musisi dunia Gwen Stefani pernah merasakan sakit hati ketika suaminya, Gavin Rossdale, berselingkuh dengan asisten rumah tangga mereka.
Pada akhirnya, setiap kasus perselingkuhan mengarah pada pertanyaan yang sama, mengapa?
Mengapa seseorang rela mempertaruhkan hubungan, kepercayaan, dan masa depan hanya demi kenikmatan sesaat? Apakah konsekuensinya benar-benar dipikirkan?
Dilansir Your Tango, pertanyaan inilah yang coba dijawab para peneliti di Kanada melalui sebuah studi pada 2011 yang melibatkan 1.000 pria dan wanita.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior ini mengungkap berbagai faktor kepribadian dan dinamika hubungan yang mendorong seseorang berselingkuh.
Hasilnya menunjukkan bahwa 23 persen pria dan 19 persen wanita dalam penelitian tersebut mengaku pernah berselingkuh.
Perselingkuhan didefinisikan sebagai interaksi fisik dengan orang lain di luar pasangan utama yang berpotensi merusak hubungan.
Penelitian ini juga menemukan pola yang berbeda antara pria dengan wanita.
Wanita cenderung berselingkuh ketika merasa tidak puas atau tidak bahagia dalam hubungan.
Bahkan, seorang wanita yang merasa tidak bahagia dengan pasangannya tercatat 2,6 kali lebih berisiko untuk berselingkuh.
Angka ini meningkat menjadi 2,9 kali lipat ketika ketidakbahagiaan tersebut disertai dengan ketidakcocokan, terutama dalam hal nilai dan sikap.
Sementara itu, pada pria, perselingkuhan lebih sering dipicu hambatan di tempat tidur yang berkaitan dengan kecemasan performa.
Jika ditarik ke benang merahnya, perselingkuhan sering kali berakar pada persoalan hubungan yang sebenarnya cukup umum.
Hal ini bisa membuat siapa pun pesimistis, seolah setia sepenuhnya terasa mustahil.
Peneliti utama studi Robin Milhausen menilai banyak masalah dalam hubungan bisa diatasi melalui percakapan.
Membicarakan kebutuhan, harapan, dan ketidakpuasan, baik secara emosional maupun fisik, memang tidak mudah.
Namun, melihat berbagai penyebab perselingkuhan, keberanian untuk berdiskusi secara jujur dengan pasangan tampaknya jauh lebih ringan daripada harus menghadapi patah hati akibat pengkhianatan. (*)
Video viral hari ini:



