Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menguasai Greenland belum surut meski mendapat penolakan keras dari rakyat setempat dan negara-negara Eropa. Dalam pidato terbarunya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Trump kembali menyerukan perlunya negosiasi segera agar AS bisa mengakuisisi wilayah tersebut dari Denmark.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki alasan kuat demi keamanan nasional untuk mengendalikan Greenland. Ia bahkan mengecam Denmark yang dinilainya tidak tahu berterima kasih atas perlindungan yang diberikan AS terhadap Greenland selama Perang Dunia II.
Meski demikian, Trump mencoba meredam kekhawatiran global dengan menyatakan tidak akan menempuh jalan militer untuk mendapatkan pulau tersebut, meskipun ia mengklaim AS memiliki kekuatan tak terbendung.
Baca juga:
Trump Ancam 'Getok' Kanada Tarif 100% Jika Lanjutkan Kesepakatan Dagang dengan Tiongkok
"Sekarang semua orang berkata, 'Oh, bagus'. Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat karena orang mengira saya akan menggunakan kekerasan. Saya tidak perlu menggunakan kekerasan. Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan," tegas Trump.
"Amerika Serikat hanya meminta sebuah tempat bernama Greenland," tambahnya.
Eropa dan Greenland Melawan
Pernyataan Trump ini muncul di tengah gelombang protes. Pada Sabtu pekan lalu, ribuan orang menggelar unjuk rasa terbesar dalam sejarah di Nuuk, ibu kota Greenland. Warga setempat secara serentak menolak rencana AS untuk memasukkan wilayah otonom Denmark itu ke dalam peta Amerika.
Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kajja Kallas pun bereaksi keras dan menyatakan dukungan penuh kepada kedaulatan Denmark. Negara-negara sekutu di Eropa juga diminta tidak gentar terhadap ancaman tarif dagang yang kerap dilontarkan Trump.
"Uni Eropa berdiri tanpa keraguan bersama Greenland dan Kerajaan Denmark dalam membela integritas teritorial dan kedaulatan mereka," tegasnya.



