Teknologi Reaktor Kompos Konstruksi Beton

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Masalah pengelolaan sampah organik di Indonesia kerap dipahami sebagai persoalan hilir—tumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA), bau, dan pencemaran lingkungan. Padahal, akar persoalan justru terletak di hulu, yaitu bagaimana sampah dihasilkan, dipilah, dan dikelola sejak awal. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki posisi strategis, bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang praktik keberlanjutan.

Universitas Padjadjaran (Unpad) merupakan contoh nyata kampus besar yang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Aktivitas akademik, perkantoran, dan kantin di Kampus Jatinangor menghasilkan rata-rata 2,5–2,6 ton sampah per hari, dengan komposisi lebih dari 60 persen berupa sampah organik.

Angka ini sejalan dengan karakteristik sampah perkotaan di Indonesia yang didominasi limbah organik, sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan diperkuat oleh kajian Sudibyo et al. (2017) dalam Waste Management yang menyebutkan bahwa fraksi organik sampah Indonesia berada pada kisaran 55–70 persen.

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Penimbunan sampah organik di TPA akan menghasilkan gas metana (CH₄), gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global 25 kali lebih besar dibanding karbon dioksida (IPCC, 2014). Selain itu, lindi hasil pembusukan dapat mencemari tanah dan air tanah di sekitar lokasi pembuangan.

Selama bertahun-tahun, pendekatan pengelolaan sampah kampus cenderung mengikuti pola konvensional: kumpul–angkut–buang. Pola ini terbukti tidak berkelanjutan, terutama ketika kapasitas TPA semakin terbatas. Penelitian Damanhuri dan Padmi (2012) dalam Journal of Material Cycles and Waste Management menegaskan bahwa strategi pemindahan sampah tanpa pengolahan di sumber hanya akan mempercepat krisis TPA dan meningkatkan biaya pengelolaan jangka panjang.

Menyadari kondisi tersebut, Unpad mulai menggeser paradigma pengelolaan sampahnya dengan menitikberatkan pada pengolahan sampah organik di sumber melalui sistem pengomposan terkontrol. Salah satu teknologi yang dikembangkan oleh Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran adalah Reaktor Kompos Dengan Konstruksi Beton dengan kapasitas 3 x 1 m2, yang dirancang untuk mengolah limbah organik kampus secara efisien, higienis, dan berkelanjutan.

Reaktor kompos ini bekerja dengan sistem tertutup dengan pengaturan aerasi, suhu, dan kelembapan yang terkontrol. Pendekatan ini merujuk pada konsep in-vessel composting yang secara ilmiah terbukti mampu mempercepat proses dekomposisi dan meminimalkan emisi bau serta patogen (Kumar et al., 2010; Bioresource Technology).

Hasil pengujian operasional menunjukkan bahwa penggunaan reaktor kompos mampu mengurangi volume sampah organik hingga 50–60 persen dalam waktu 21–30 hari. Capaian ini sejalan dengan temuan Haug (2018) dalam The Practical Handbook of Compost Engineering yang menyebutkan bahwa sistem kompos terkontrol dapat menurunkan massa limbah organik lebih dari separuh dalam satu siklus pengolahan.

Secara kuantitatif, jika Unpad mampu mengolah setidaknya 1,5 ton sampah organik per hari melalui reaktor kompos, maka dalam satu tahun kampus dapat mengurangi beban TPA hingga lebih dari 500 ton sampah. Angka ini bukan hanya signifikan secara lingkungan, tetapi juga berdampak pada efisiensi operasional.

Penelitian Zurbrügg et al. (2012) menunjukkan bahwa pengolahan sampah organik di sumber dapat menurunkan biaya pengangkutan dan penanganan sampah hingga 20–40 persen, tergantung pada skala dan jarak ke TPA. Selain menekan volume sampah, pengomposan juga menghasilkan produk bernilai guna. Kompos yang dihasilkan mengandung unsur hara makro dan mikro yang bermanfaat bagi tanah, sekaligus meningkatkan kandungan bahan organik.

Menurut Bernal et al. (2009) dalam Bioresource Technology, aplikasi kompos secara rutin mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, dan menurunkan kebutuhan pupuk kimia hingga 30 persen. Di lingkungan kampus, kompos dimanfaatkan untuk pemeliharaan taman, ruang terbuka hijau, dan kegiatan penghijauan. Dengan luas ruang hijau kampus yang mencapai ratusan hektare, pemanfaatan kompos internal ini membentuk siklus tertutup antara produksi limbah dan pemanfaatannya kembali sebuah praktik yang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Keberadaan reaktor kompos juga memiliki nilai edukatif yang kuat. Kampus berfungsi sebagai living laboratory bagi mahasiswa lintas disiplin. Penelitian Filho et al. (2021) dalam Journal of Cleaner Production menegaskan bahwa praktik keberlanjutan yang diterapkan langsung di lingkungan kampus terbukti lebih efektif dalam membentuk kesadaran lingkungan mahasiswa dibanding pendekatan teoritis semata.

Namun demikian, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Salah satu tantangan utama pengomposan adalah konsistensi pemilahan sampah di sumber. Tanpa pemilahan yang baik, kualitas bahan baku kompos akan menurun. Hal ini sejalan dengan temuan Widodo et al. (2020) dalam Jurnal Teknik Lingkungan yang menyatakan bahwa kontaminasi plastik dan logam dapat menurunkan kualitas kompos hingga 40 persen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Unpad mengombinasikan pendekatan teknis dengan edukasi berkelanjutan. Sosialisasi kepada pengelola kantin, petugas kebersihan, serta sivitas akademika dilakukan secara bertahap. Pendekatan ini mencerminkan rekomendasi Marshall dan Farahbakhsh (2013) dalam Waste Management, yang menekankan bahwa perubahan perilaku merupakan faktor kunci keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Langkah Unpad sejalan dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, yang menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 persen pada 2025. Perguruan tinggi, dalam konteks ini, berperan sebagai model implementasi kebijakan di tingkat mikro.

Pengalaman Unpad menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik melalui reaktor kompos bukan sekadar solusi teknis, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan. Dari sampah yang sebelumnya dianggap beban, kini lahir sumber daya yang mendukung ekosistem kampus dan mendidik generasi masa depan. Ketika kampus mampu mengelola sampahnya sendiri secara bertanggung jawab, pesan yang disampaikan kepada masyarakat menjadi jauh lebih kuat: krisis sampah bukan tak terelakkan, selama ada kemauan untuk berubah dan keberanian untuk memulai dari sumbernya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dua Ribu WNI Terlibat Jaringan Scam di Kamboja, Dewan : Penanganan Harus Perhatikan HAM
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Peringatan Dini BMKG di Jawa Tengah Hari Ini: Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Pertanyakan kecaman atas penembakan aparat, Trump: Polisi di mana?
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Awal Tahun 2026, 85 Personil Polri dari Pati hingga Pamen Kena Mutasi Kapori 
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Casemiro Dipastikan Hengkang dari Man United, Ini Kata Michael Carrick 
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.