Di era yang mengaku modern dan terbuka ini, manusia seolah telah menemukan tuhan baru. Bukan tuhan yang disembah dengan doa, melainkan tuhan yang dipuja lewat kamera, cermin, dan layar ponsel. Penampilan kini menempati posisi sakral dalam kehidupan sosial. Ia menentukan siapa yang layak diperhatikan, siapa yang dianggap bernilai, dan siapa yang dipandang rendah. Tanpa disadari, masyarakat sedang menjalani bentuk penyembahan baru. Penyembahan terhadap citra diri.
Media sosial menjadi kuil utama. Di sana manusia mempersembahkan foto terbaiknya, sudut wajah paling sempurna, gaya paling trendi, dan kehidupan yang tampak tanpa cela. Setiap unggahan adalah ritual. Setiap like adalah doa yang dikabulkan. Setiap komentar pujian adalah penguat iman. Sementara mereka yang tidak mendapat perhatian dianggap gagal, kurang, atau tidak cukup menarik. Nilai manusia perlahan diukur bukan dari kualitas karakter, melainkan dari kualitas tampilan.
Fenomena ini menciptakan ilusi besar. Banyak orang tidak lagi hidup untuk menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi versi yang disukai publik. Senyum dibuat bukan karena bahagia, tetapi karena kamera menyala. Aktivitas dilakukan bukan karena bermakna, tetapi karena dapat dijadikan konten. Bahkan penderitaan pun dikemas agar terlihat estetik. Realitas dikorbankan demi penampilan.
Lebih jauh lagi, budaya ini menumbuhkan kebiasaan menilai seseorang hanya dari luar. Cara berpakaian, gaya rambut, riasan wajah, bahkan cara berjalan dijadikan dasar untuk menyimpulkan kepribadian seseorang. Jika seseorang berpenampilan mencolok, ia langsung diberi label tertentu. Jika seseorang bergaya sederhana, ia dianggap tidak menarik. Jika seseorang berpakaian gelap atau bertato, ia dicurigai. Masyarakat seolah lupa bahwa manusia tidak bisa dibaca seperti etalase toko.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Penampilan hanyalah ekspresi luar. Ia tidak selalu mencerminkan isi hati. Seseorang bisa terlihat berani, liar, atau bahkan nakal dari cara berpakaian, tetapi sebenarnya memiliki hati yang lembut dan niat yang baik. Sebaliknya, seseorang bisa tampak rapi, religius, atau anggun, tetapi menyimpan niat buruk. Penampilan tidak pernah menjadi bukti mutlak karakter. Ia hanya permukaan.
Masalahnya, dunia hari ini lebih cepat menilai daripada memahami. Banyak orang tidak memberi ruang untuk mengenal, mereka langsung memberi label. Seolah cukup melihat satu foto, satu gaya, satu tampilan, lalu menyimpulkan seluruh kepribadian seseorang. Ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Ia menciptakan prasangka, diskriminasi, dan luka sosial yang tidak perlu.
Budaya menilai dari penampilan juga menekan banyak orang untuk terus tampil sesuai standar umum. Mereka takut terlihat berbeda. Mereka takut dianggap aneh. Mereka takut dicap negatif hanya karena gaya mereka tidak mengikuti arus mayoritas. Akibatnya, banyak individu memalsukan diri demi diterima. Mereka menukar keaslian dengan kepalsuan sosial. Mereka kehilangan jati diri demi aman dari penilaian.
Industri pun mengambil keuntungan besar dari kondisi ini. Produk fashion, kosmetik, perawatan tubuh, hingga aplikasi edit foto berkembang pesat. Semua menjual satu pesan yang sama. Kamu belum cukup baik. Kamu perlu diperbaiki. Kamu perlu ditingkatkan. Ketidakpuasan manusia terhadap dirinya sendiri dijadikan ladang bisnis yang tidak pernah habis. Semakin orang merasa kurang, semakin besar pasar tercipta.
Yang lebih memprihatinkan, generasi muda tumbuh dalam tekanan ini. Mereka belajar sejak dini bahwa diterima berarti tampil menarik. Mereka belajar bahwa popularitas lebih penting daripada kejujuran. Mereka belajar bahwa terlihat bahagia lebih penting daripada benar-benar bahagia. Di balik layar yang penuh warna, banyak jiwa muda merasa kosong, cemas, dan kehilangan arah.
Namun, harapan masih ada. Kesadaran dapat tumbuh jika manusia mau berhenti sejenak dan bertanya. Apakah benar nilai seseorang hanya ada di penampilannya. Apakah adil menilai manusia dari cara ia berpakaian. Apakah pantas menyimpulkan karakter hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk mengembalikan kewarasan sosial.
Penampilan memang penting. Ia bagian dari ekspresi diri. Ia bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tetapi ia tidak layak menjadi tuhan. Ia tidak boleh menggantikan akal, hati, dan moral sebagai pusat nilai manusia. Penampilan seharusnya menjadi pintu perkenalan, bukan vonis akhir.
Ketika seseorang berpakaian dengan gaya tertentu, bukan berarti ia pantas diberi cap negatif. Ketika seseorang tampil berbeda, bukan berarti ia buruk. Kita tidak pernah tahu perjuangan seseorang hanya dari apa yang ia kenakan. Kita tidak pernah tahu ketulusan seseorang hanya dari gaya bicaranya. Manusia terlalu kompleks untuk diringkas dalam tampilan luar.
Pada akhirnya, peradaban yang sehat adalah peradaban yang mampu melihat lebih dalam daripada permukaan. Yang menilai seseorang dari tindakan, bukan dari tampilan. Dari niat, bukan dari estetika. Dari kejujuran, bukan dari popularitas. Jika kesadaran ini tumbuh, maka penampilan akan kembali ke tempatnya. Bukan sebagai tuhan baru, tetapi sekadar bagian kecil dari identitas manusia.
Dan saat itu, manusia tidak lagi diperbudak oleh cermin, melainkan merdeka menjadi dirinya sendiri.
Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Fakultas Ilmu Komputer.


