Jakarta, VIVA – Reli mendongkrak harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) dengan mendekati level US$5.000 per ons. Kenaikan pesat juga terlihat pada harga perak yang mencetak sejarah baru dengan menembus level US$100 per ons untuk pertama kalinya..
Lonjakan harga logam mulia ini didorong meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik global. Ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) oleh Federal Reserve (The Fed) turur memicu minat investor mengoleksi emas dan perak.
Harga perak spot melonjak 4,5 persen ke level US$100,49 atau sekitar Rp 1,69 juta (estimasi kurs Rp 16.820 per dolar AS) per ons pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Penguatan ini memperpanjang tren reli yang telah melesat lebih dari 200 persen dalam setahun terakhir.
- The Economic Times
Direktur Metals Focus, Philip Newman, menilai perak masih berpotensi melanjutkan penguatan. Kekhawatiran berkelanjutan terkait tarif dan likuiditas fisik yang masih rendah di pasar London, Inggris menjadi sentimen yang mendongkrak harga perak.“
Perak akan terus diuntungkan oleh kekuatan yang juga menopang permintaan investasi emas,” ujar Newman dikutip dari CNBC Internasional pada Senin, 25 Januari 2026.
Investor ritel logam mulia, Tai Wong, menambahkan bahwa level US$100 menjadi tonggak psikologis penting bagi pasar. Kini, para investor menunggu apakah harga bisa bertahan hingga penutupan atau justru terjadi aksi ambil untung (profit taking).
Harga emas spot terpantau naik 0,8 persen ke level US$4.976,49 atau sekitar Rp 83,7 juta per ons. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$4.988,17 atau Rp 83,9 juta per ons.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari turut menguat 1,3 persen ke US$4.978,60 per ons.
Wong menuturkan, peran emas sebagai aset lindung nilai semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Kondisi ini membuat emas menjadi kebutuhan di setiap kantong portofolio investasi.
“Peran emas sebagai aset safe haven dan diversifikasi portofolio membuatnya menjadi kebutuhan strategis. Ini bukan sekadar badai sempurna sementara, melainkan sinyal perubahan fundamental,” jelasnya.





